
Di pagi yang cerah. Gadis itu berdiri di balkon kamarnya menikmati suasana pagi yang masih sangat alami ini, dan berdiri di balkon ketika pagi hari adalah ritual wajib yang selalu dia lakukan setiap paginya.
Udaranya begitu sejuk dan terasa menyegarkan. Bunga-bunga mawar yang tumbuh di taman miliknya mulai bermekaran, aromanya yang semerbak menarik para kumbang untuk segera mendekat. Menghisap sarinya kemudian pergi entah kemana.
Kedua mata gadis itu perlahan tertutup, kedua tangannya Ia rentangkan. Membiarkan semilir angin pagi membelai lembut kulit wajahnya yang terpahat sempurna. Angin juga menerbangkan helain rambut panjangnya yang berwarna coklat terang, perlahan mata itu terbuka.
Cklekkk .. !! ..
Sontak Ia menolehkan kepalanya saat mendengar decitan pintu kamarnya terbuka. Terlihat seorang wanita dengan balutan kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam, rambutnya di sanggul rapi memasuki kamarnya dan berjalan menghampiri gadis itu yang masih tetap bergeming dari tempatnya.
"Nona, Tuan besar sudah menunggu Anda untuk sarapan." Wanita itu berbicara begitu sopan pada gadis itu yang notbaennya adalah Nonanya, putri dari majikannya.
Sudut bibir gadis itu tertarik keatas menciptakan lengkungan indah terlukis di wajah cantinya yang sempurna. "Katakan pada Papi, 10 menit lagi aku akan turun." Ucapnya.
"Baiklah Nona, saya permisi dulu." Pelayan itu mundur tiga langkah kebelakang kemudian berbalik badan dan melenggang meninggalkan kamar nonanya.
.
.
.
"Papi." Luna menarik kursi yang di samping kanan Ayahnya kemudian menempatkan dirinya dengan nyaman di sana.
Duduk bersama sang ayah tercinta untuk menikmati sarapan pagi, tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hanya ada Luna dan Tuan Willia, semenjak Ibunya meninggal karena sakit kanker.
Adrian memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen peninggalan Ibunya, bukan karena Adrian membenci Luna dan ayahnya. Ia justru sangat menyayangi mereka berdua. Bagi Adrian.
Tuan William sudah seperti Ayah kandungnya sendiri, darinya Ia bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah dengan seutuhnya.
Dan Adrian sudah menganggap Luna seperti adik kandungnya sendiri. Alasan Adrian memilih tinggal sendiri di bandingkan tetap bersama Luna dan ayahnya karena Ia ingin lebih mandiri dan kebetulan Apartemennya, tidak terlalu jauh dari perusahaan tempat Ia bekerja.
"Sudah rapi, apa kau akan pergi?" Tuan William memandang Luna dengan penuh tanda tanya, karena tidak biasanya gadis itu masih pagi sudah rapi saat libur kuliah.
"Aku akan menemui seseorang."
"Apa itu calon menantu, Papi?" Tanya Tuan William sambil tersenyum jahil.
"Calon menantu? Tentu saja bukan, lagipula yang hendak aku temui adalah teman lamaku." Ucapnya. "Dan sebaiknya Papi berhenti membahas soal menantu, aku masih muda dan belum ingin membina sebuah rumah tangga!!"
Tuan William menghempaskan nafas kasar."Baiklah." Balasnya pasrah.
Tiba-tiba Luna teringat sesuatu. "Oya, Papi, bagaimana dengan mobil baruku? Papi tetap ingin membelikannya bukan?" Tanya Luna beregyo.
Bukannya gemas melihat ekspresi wajah putrinya. Tuan William malah merasa aneh."Kenapa? Kenapa Pipi menatapku seperti itu?" Sambung Luna bertanya.
"Kau terlihat aneh, ingat umur dan kau tidak pantas melakukan itu."
__ADS_1
"Papi!!" Pekik Luna tertahan.
"Hahahha..!! Papi hanya bercanda." Tuan William tertawa lepas melihat wajah kesal putri kesayangannya itu.
"Oya, Pi. Di mana Jerremy? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya?"
"Adikmu sudah berangkat lagi-pagi sekali. Dia bilang ada janji dengan teman-temannya untuk berangkat bersama dan sarapan di luar." Tuturnya.
Pria paruh baya itu bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan sarapan paginya. "Papi mau kemana?" Luna mendongak dan menatap Tuan William penasaran.
"Pagi ini Papi ada janji dengan seseorang, dia rekan bisnis Papi." Tuan Jung menarik sudut bibirnya dan mulai melenggang pergi.
"Tapi Papi jangan lupa belikan mobil baru untukku." Seru Luna dengan suara sedikit meninggi.
"Papi tidak janji, dan akan Pipi fikirkan." Sahut Tuan William seraya melambaikan tangannya.
"Papi!!" Teriak Luna setengah kesal, gadis itu menarik dalam nafasnya dan menghempaskan kasar."Isshh menyebalkan." Ucapnya.
"Ehh. Di mana ponselku?" Panik Luna.
Gadis itu tampak kebingungan mencari keberadaan ponselnya yang lupa Ia letakkan di mana, kemudian gadis bermarga William itu bangkit dari duduknya dan ternyata ponsel itu tidak sengaja Ia duduki.
Senyumnya melebar. Luna mengambil ponsel itu, namun keanehan mulai terjadi. Mata Luna terbelalak sempurna saat Ia menyadari jika tanpa sadar telah menghubungi seseorang, bukan itu masalhnya. Namun yang membuat Luna terkejut adalah kontak nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ahhh!! Bagaimana ceritanya aku bisa menghubunginya?" Panik Luna sambil memekik keras,
\=
Suasana hening menyelimuti di kediaman Kevin, meskipun banyak orang di dalam maupun luar bangunan itu. Namun terasa sepi karena semua penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sean contoknya. Pemuda berkulit seputih susu itu terlihat sibuk memainkan rubik milik Kevin namun selalu gagal, Kai yang sibuk dengan laptopnya. Ren pada koran paginya serta Tao sibuk memainkan ponselnya.
Sementara itu, sang pemilik rumah masih ada di kamarnya. Pria itu berdiri di depan jendela kamarnya yang mengarah langsung pada taman belakang rumahnya menikmati udara pagi yang begitu menyejukkan dan terasa sangat alami. Hal semacam ini seperti sebuah rutinitas yang wajib Kevin lakukan ketika pagi tiba.
Drettt ..Drett .. Drettt ..
Perhatiannya sedikit teralihkan saat mendengar ponsel miiknya yang tergeletak di atas meja bergetar dan berdering menandakan ada 1 panggilan masuk. Luhan berbaik, Ia mengambil ponsel itu dan mendapati 1 nama tertera di layar ponselnya.
"Luna," Gumamnya lirih, pria itu mengerutkan dahinya. Tidak biasanya gadis itu menghubunginya.
Penasaran kenapa Luna menghubunginya, segera saja Kevin menekan tombol hijau dan menerima panggilan itu. "Halo," Hampa tidak ada sahutan dari seberang sana, selain suara kemersik yang tidak jelas.
Kevin menarik ponsel itu dari telingannya kemudian menatap binggung layarnya'Kenapa dia tidak berbicara apa pun.?' Fikirnya.
"Ahhh!! bagaiman ceritanya aku bisa menghubunginya?!" sampai Ia mendengar pekikan keras dari sebrang sana.
Piiipp .. !! ..
__ADS_1
Sambungan itu terputus. Luna menutup panggilannya begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kevin mendesah berat, segera Ia letakkan ponselnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
-
Luna menghentikan mobil mewahnya di sebuah cafe yang terletak di jantung kota. Rencananya hari ini dia akan bertemu dengan seorang teman lama yang baru saja kembali dari Eropa.
Gadis itu memperhatikan penampilannya sebelum masuk ke dalam. Luna adalah seorang gadis yang perfectionis yang tidak suka ada kekurangan sedikit pun pada penampilannya.
Ting!!
Lonceng yang ada di atas pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang datang. Seorang pelayan langsung menyambut Luna dengan membungkuk hormat, gadis cantik itu menyikapi keramahan sang pelayan dengan tersenyum lebar.
"Danny Choi!!"
Merasa namanya dipanggil. Pria bernama Danny itu sontak menoleh. Danny melambaikan tangannya pada Luna saat melihat kedatangan sahabat lamanya tersebut.
"Luna," dan akhirnya mereka berpelukan selama beberapa saat.
"Astaga, kenapa kau semakin tampan saja. Bahkan kau sudah tidak segendut saat masih sekolah menengah akhir."
"Sekarang penampilan bagiku adalah yang paling penting. Dan kau semakin cantik, aku semakin tergila-gila padamu."
Luna mendecih sebal. "Hentikan omong kosong-mu itu. Aku sudah memiliki pasangan jadi jangan bermimpi untuk mendekatiku lagi, oke!!"
"Sebelum ada cincin dan ikatan suci, aku rasa kau masih berhak untuk dimiliki." Danny tak mau kalah.
"Ck, terserah." Dan Danny tertawa geli melihat ekspresi kesal Luna. Dimatanya gadis itu begitu menggemaskan.
Obrolan mereka di intrupsi oleh kedatangan beberapa pria yang sepertinya adalah pembisnis muda. Mereka memasuki cafe tempat Luna dan Danny berada, kemudian duduk di meja yang tak jauh dari tempat mereka berbincang.
Tapi bukan keberadaan mereka yang seketika menarik seluruh atensi Luna, melainkan sosok tampan dalam balutan setelan jas hitamnya yang kini juga menatap padanya.
Ting!!!
"OMO!! Luna terlonjak kaget karena suara denting pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
"Kekasih baru, hm?"
Luna memicingkan matanya, dia menyapukan pandangannya untuk mencari siapa yang mengirim pesan padanya. Tapi dia tidak melihat seorang pun yang bermain ponsel, kecuali satu orang.
Tak kehabisan akal. Luna pun segera menghubungi nomor tersebut. Dan benar dugaannya, itu adalah nomor pria yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Pria itu menyeringai, sedangkan Luna mengumpat tidak jelas.
Pantas saja Luna tidak tau nomor siapa itu, karena orang yang menghubunginya menggunakan nomor yang berbeda dari yang ada di ponsel Luna.
"Kakak ipar, kau sangat menyebalkan!!"
-
__ADS_1
Bersambung.