"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
First Kiss


__ADS_3

"Luna William, bumi memanggilmu!!"


Kedua tangan Luna terkepal kuat, dia mencoba mengontrol debaran jantungnya yang menggila. Rasanya ia masih sulit mencerna apa yang tengah Kevin lakukan saat ini. Pria itu tidak hanya sekedar menempelkan bibirnya saja, namun juga mel*matnya.


Darah dalam tubuh Luna tiba-tiba berdesir mana kala Kevin mengakhiri ciuman sepihaknya dan mengunci langsung kedalam mata coklat Luna. Menatapnya lama dan dalam.


"Maaf," ucap Kevin penuh sesal.


"I..Itu ciuman pertamaku." Luna menundakan kepalanya, sepasang manik coklatnya menatap sepasang heels yang membalut kakinya.


Meskipun hanya sekilas, namun keterkejutan terlihat jelas di mata Kevin. Rasanya Kevin tidak percaya jika dirinyalah yang telah mengambil first kiss gadis didepannya ini.


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membuat dia percaya jika kita benar-benar memiliki hubungan. Seperti yang kau minta."


Luna mengangguk kaku. "A..Aku paham Kakak Ipar." Jawabnya setengah gugup. Ragu-ragu Luna mengangkat wajahnya dan mengunci langsung sepasang mutiara Kevin. "Kakak ipar kembali saja kedalam. Aku akan pergi."


"Kau mau kemana setelah ini?"


Luna menggeleng. "Entah, mungkin langsung pulang."


Kevin menggenggam pergelangan tangan Luna dan membuat gadis itu tersentak kaget. Luna menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Kevin. "Temani aku makan siang. Kau pasti belum makan, dan aku tidak suka penolakkan!!" Ucap Kevin tegas.


-


Istilah jika Duda lebih menggoda sepertinya bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Buktinya Duda tampan dan keren dihadapannya ini begitu menggoda. Tidak bisa Luna pungkiri jika Kevin adalah duda tertampan dan ter-hot yang pernah ia temui didunia ini.


Diam-diam Luna terus memperhatikan Kevin yang sedang menyantap makan siangnya. Kevin benar-benar memiliki wajah yang benar-benar sempurna bak manekin!


Memiliki mata yang indah, hidung mancung, pipi sehalus kulit bayi, bibir Kissable yang menghoda, dan jangan lupakan garis rahangnya yang tegas.


Kesan pertama dari orang lain ketika melihat Kevin adalah 'sempurna' begitupula kesan pertama Luna saat bertemu dengan kakak iparnya itu untuk pertama kalinya.


Gluk...


Susah payah Luna menelan salivanya ketika memperhatikan bibir Kissable milik Kevin. Seketika ingatannya membawa Luna pada insiden yang terjadi tiga puluh menit yang lalu.


Basah dan lembutnya sentuhan bibir Kevin masih bisa Luna rasakan meskipun ciuman itu sudah lama berakhir. Jantungnya kembali berpacu cepat, seperti orang yang habis mengikuti lari maraton.


"Kenapa kau terus menatapku?" Tegur Kevin dan membuat Luna panik gak ketulungan.


Buru-buru gadis itu menggeleng. "Si..Siapa yang menatap Kakak ipar? Mu..mungkin itu hanya perasaan kakak ipar saja." Ucapnya membela diri.


"Sudah tertangkap basah masih tidak mau mengaku, eh?" Kevin menyeringai membuat Luna semakin terpojok. Jika diibaratkan, Luna seperti seekor kucing yang tidak sengaja kepergok sedang mencuri ikan.

__ADS_1


Rasanya Luna ingin menghilang dari dunia ini saat ini juga. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia merasakan kegugupan yang tidak wajar hanya karena seorang pria.


"LUNA..."


Perhatian keduanya teralihkan oleh seruan seseorang dari arah belakang. Sontak keduanya menoleh dan mendapati Adrian serta Irene. Melihat kedatangan mereka berdua membuat Luna merasa lega.


Setidaknya dia tidak perlu mati kutu lagi. Ada orang yang bisa dia ajak berbincang dengan bebas. Bersama Irene dan Adrian, Luna tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas.


Instingnya mengirimkan sinyal pada perasaannya, sehingga Kevin merasakan ada seseorang yang tengah mengawasinya, pria itu menoleh dan menatap kebelakang menggunakan ekor matanya. Ada dua orang yang sedari tadi terus memperhatikan Luna.


Tidak ingin mereka mengetahui jika Ia telah menyadari keberadaan mereka, Kevin mencoba bersikap biasa saja seolah-olah tidak menyadari apa-apa.


Namun dia tetap bersikap waspada dan siaga, karena tidak menutup kemungkinan jika kedua orang itu akan menyerang.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kalian terlihat semakin kompak saja." Luna menatap Irene dan Adrian bergantian. Belum genap satu bulan mereka berpacaran, tapi terlihat sangat cocok.


"Tentu saja karena kita berdua saling mencintai. Bukankah begitu, Sayang?" Irene mengangguk.


Tiba-tiba sebuah ide tercetus di kepala Luna. Mungkin isi saatnya melancarkan serangan balasan pada kakak angkatnya tersebut.


"Aku lupa, hari ini Kakak angkat sedang berulang tahun. Kira bisa memesan makanan apa saja bahkan yang termahal di restoran ini dan Kakak angkat yang akan membayarnya, bukankah begitu." Luna melirik kearah Adrian dengan senyum misterius yang tersungging di wajah cantiknya.


Adrian mengangguk tanpa sadar. "Tentu saja~APA!!"Adrian memekik sekencang-kencangnya setelah menyadari jika Ia baru saja di jebak oleh Luna.


Akibatnya Ia harus mempertanggung jawabkan ucapannya yang tidak bisa Ia tarik begitu saja, apalagi ini di depan kekasihnya. Luna tersenyum puas penuh kemenangan. Sedangkan Irene hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.


"Dasar gadis nakal, selalu saja seperti itu." Desis Adrian sedikit berkomat-kamit.


"Eohhh, Tuan Nero Anda juga ada di sini rupanya?!" Kaget Irene. Sepertinya Irene dan Adrian belum menyadari keberadaan Kevin di sana karena mereka terlalu asik berdebat.


"Kau dan gadis labil ini datang bersama?" Adrian menatap keduanya tak percaya.


"Hn," jawab Adrian sambil menatap langsung ke dalam mata coklat Luna.


Luna yang ditatap seperti itu oleh Kevin terlihat semakin gugup. Tatapannya begitu dalam dan sulit diartikan. Tiba-tiba Luna berdiri dan menarik lengan Adrian, dan membuat pria itu mau tidak mau bangkit dari tempat duduknya.


"Kakak angkat, sebaiknya kau mengalah-lah padaku. Aku yang akan duduk di samping Irene." Ucapnya.


"Kenapa?"


"Jangan banyak tanya, lakukan saja. Lagi pula kan aku ini perempuan, jadi sudah seharusnya aku duduk di samping Irene." Tutur Luna.


"Tidak mau, aku akan tetap duduk di sini dan karena tempat yang masih kosong ada di samping my Bebeb Irene. Jadi mau tidak mau kau tetap duduk di samping Kevin." Ujar Adrian menegaskan.

__ADS_1


"Tapi-"


"Tidak ada pilihan Nona William." Ucap Irene menyahut.


Luna mendengus panjang, Ia tidak lagi memiliki pilihan. Mau tidak mau, suka tidak suka Ia harus kembali duduk di samping Kevin.


"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan kemeja mu, Key? Kenapa bisa terbuka seperti itu?" Tunjuk Adrian pada kemeja Kevin yang terbuka di bagian atasnya.


Dua kancingnya hilang karena insiden yang terjadi ketika ia menarik Luna ke dalam pelukannya di parkiran tadi.


Luna tidak sengaja menarik kemeja Kevin dan menghilangkan dua kancingnya. Beruntung masih ada Vest hitam yang menjadi luaran kemejanya. Sehingga tidak begitu terekspose dada bidangnya.


Mendengar Adrian membahas masalah kemeja Kevin yang terbuka, membuat keringat dingin membasahi kening Luna. Gadis itu menciut dan takut bila Kevin akan berkata jujur dan membuat dirinya malu setengah mati.


"Hei, Lun ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat gugup? Atau jangan-jangan~"


"Jangan-jangan apa?" Seru Luna menyela kalimat Irene. "A..aku mau ketoilet dulu." Luna bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.


"Luna tunggu, aku ikut denganmu." Seru Irene dan bergegas mengejar gadis itu.


Menyisahkan Adrian dan Kevin berdua di sana."Sepertinya kau semakin dekat saja dengan Luna. Apa kalian berdua sungguh-sungguh datang bersama?" Tanya Adrian seraya menyeruput minuman di hadapannya.


"Hanya situasi saja yang membuatku bersama dia." Balas Kevin datar.


"Tapi, Key. Menurutmu Luna itu gadis yang seperti apa?" Tanya Adrian penasaran.


"Sulit di tebak, ceria dan cantik."


"Benarkah?! Memangnya kalian sudah sedekat apa? Aku penasaran dengan hubungan kalian, atau jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya?" Selidik Adrian.


"Hanya waktu yang bisa menjawabnya." Balas Kevin dan segera bangkit dari duduknya."Kau tetaplah di sini, aku masih ada urusan, maaf aku rasa aku harus pergi lebih dulu." Ucap Kevin.


"Tapi kau belum pesan apa pun? Dan jika kau pulang sekarang, siapa yang akan mengantar gadis itu pulang? Apa kau tega membiarkan seorang gadis berjalan sendiri? Aku tidak bisa mengantarkan Luna pulang karena kami tak satu arah." Tutur Adrian panjang.


Kevin diam untuk beberapa saat, Ia melirik kearah belakang dan mendapati orang-orang itu masih berada di sana.


Mungkin benar apa yang Adrian katakan, jika ia pergi sekarang lalu bagaimana dengan Luna? Siapa yang akan melindungi gadis itu?


Bisa saja gadis itu berada dalam bahaya karena seseorang sedang mengincar nyawanya. Apalagi Kevin tidak tau siapa dalang di balik semua itu. Kevin pun akhirnya kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk pergi lebih dulu.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2