
Malam telah beranjak pergi,mentari pagi pun mulai menampakkan sinarnya menghangatkan buana panca tengah ini, semilir angin berhembus perlahan menyapu embun embun yang masih menetes di atas permukaan dedaunan hijau.
Rani terbangun dari tidur panjangnya, Rani melakukan ritual paginya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan air dingin.
" Hmmm... segarnya air dipagi hari, melemaskan otot-otot yang kaku dan tegang.
Setelah mandi aku akan memasak untuk sarapan pagi papa, mama, kak Richard " ucap Rani sambil mengeringkan rambutnya.
Setelah berganti pakaian, Raninberjalan ke dapur dan mulai memasak dan menyiapkan sarapan pagi.
Asap mulai mengepul keluar dari cerobong asap atap dapur.
Selesai masak dan menghidangkan masakan di atas meja makan, Rani pun memanggil papa, mama, dan kak Richard untuk segera sarapan.
Selang beberapa menit kemudian mereka semua sudah duduk dengan tenang di kursi masing masing untuk mulai sarapan pagi.
" Hmmmm yummy banget, wanginya bikin perut keroncongan " ucap kak Richard yang baru selesai mandi dan mulai bersiap siap ke kantor, " ayo makan kak, " ucap Rani sambil menuju ke dapur untuk menyiapkan air minum.
Setelah mereka semua duduk di kursi masing masing mereka pun menunggu tuan Puteri Rani yang belum menunjukkan dirinya.
Rani datang dengan membawa teko berisi air minum dan mempersilahkan mama, papa dan kak Richard untuk menikmati sarapan pagi mereka.
" Ma, pa , Kak Richard ayo makan masakan ku dijamin endull pengen nambah lagi, " ucap Raninsambil menarik kursi untuk duduk di dekat mama Alexa.
" Dek, ternyata adek pintar memasak ya, kakak jadi pengen tambah lagi seporsi, ucap Kak Richard sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.
" Bagaimana kalau kakak bawa aja jadi bekal di kantor, yah hitung hitung kakak berhemat gitu" ucap kak Richard menggoda adiknya.
" Emang kakak mau bawa kotak makan ke tempat kerja," Rani balik bertanya sambil sedikit mencibir.
" Kakak gak malulah ,kenapa harus malu toh makanannya untuk kakak makan juga kan dan yang bikin makanan ini adek kesayangan kakak pastinya dibikin dengan penuh cinta dan kasih sayang," goda kak Richard sambil menyendok nasi ke piringnya.
" Sudahkah jangan berdebat lagi ayo makan biar kenyang dan bisa fokus di kantor nanti, gak baik makan sambil ngobrol terus ntar kesedak bagaimana?" ucap mama Alexa menengahi pembicaraan kakak beradik itu.
Selesai makan ranie merapikan meja makan dan mengatur piring piring kotor ke tempat cuci piring dan mencuci tangannya.
Akhirnya papa, mama dan kak Richard pamit ke Rani untuk berangkat kerja.
" Nak, papa dan mama kerja dulu ya, kamu kalau gak ada kegiatan boleh menyusul mama ke rumah sakit, nanti kita coba melamar pekerjaan di rumah sakit tentara untuk kamu, kebetulan mama punya koneksi disana jadi mama rekomendasikan adek untuk kerja disana, " ucap mama Alexa sambil mencium kening anaknya.
" Ma gak usah rekomendasikan adek biar adek usaha sendiri kan lebih bagus mamaku sayang," ucap Rani sambil mencium pipi mamanya lagi.
" Baguslah kalau pemikiranmu seperti itu nak, mama setuju, baiklah mama berangkat kerja dulu ya," ucap mama sambil melambaikan tangannya dan pergi denga mengendarai mobil Toyota Yaris warna merah.
__ADS_1
" Kak Richard ntar Adek boleh gak ke kantornya kakak, " tanya Rani pada kakaknya.
" Adek mau ngapain di kantor kakak, " ucap Richard seakan tidak menyetujui dengan usulan adeknya itu.
" Mau cuci mata dong siapa tahu ada karyawan kakak yang cocok sama adek kan lebih bagus kak, " ucap Rani menggoda kakaknya itu sambil mencium pipi kakaknya dan berlalu dari hadapan kakaknya.
" Anak nakal awas ya nanti kakak akan balas menciummu sampai kamu menangis, " ucap Richard sambil masuk ke dalam mobilnya dan berangkat.
Rani kembali ke halaman depan sambil membawa sepeda berkeliling di sekitaran kompleks perumahan elit itu di ujung jalan ada sebuah taman kecil yang asri disanalah Rani bersepeda.
Ketika Rani membelokkan sepedanya ke kanan saat bersamaan sebuah mobil Fortuner abu abu hampir menabrak rani dan sepedanya, apdahal dari jauh Rani sudah membunyikan belnya, tapi sepertinya orang yang berada di dalam mobil itu tidak mendengarnya.
Karena kaget Rani membelokkan sepedanya ke arah kiri sehingga menabrak batu di samping jalan dan rani terjatuh dari sepedanya.
" Damn, " ucap Rani sambil mencoba berdiri tapi disaat bersamaan Chandra langsung menggendong Rani dan mendudukkan di atas mobilnya dan mengangkat sepeda Rani dan melipat serta memasukkan ke dalam bagasi mobil.
" Aku gak apa apa kok mas, " ucap Rani berusaha untuk turun dari mobil itu.
" Kakimu lecet harus segera diobati kalau gak bisa infeksi, " ucap Chandra membelokkan mobilnya masuk ke area parkiran rumah Rani.
" Kenapa aku selalu bertemu kakak, " ucap Rani perlahan namun di dengar oleh Chandra.
" mungkin kamu adalah jodohku, " ucap Chandra cuek dan menggendong Rani membawanya ke kursi taman halaman depan rumah Rani. " Adek mau mas turunkan di sini atau ke dalam rumah, " tanya Chandra yang masih menggendong Rani.
" Kuat dong emang rumah adek jauh dari sini ya ,ini kan sudah masuk halaman rumah, " ucap Chandra percaya diri.
Rumah Rani memang kelihatan dari luar adalah sebuah rumah kecil yang di kelilingi pagar berupa pagar besi dan tanaman rambat sehingga sukar untuk dimasuki maling atau pencuri.
Rumah kecil di depan itu terlihat sangat sederhana namun mentereng.
itu merupakan ruang tamu, kalau rumah utama di belakang rumah depan.
Ruang utama rumah itu terdapat di sebuah mansion yang terletak di belakang rumah depan, sebuah mansion mewah yang sangat besar dan indah ada taman bunga di halaman depannya , ada kolam renang di bagian tengahnya dan ada semacam.tempat fitness untuk berolahraga sungguh sangat anggun dan sangat indah dipandang mata, setelah sampai ke rumah utama Chandra pun kaget melihat mansion mewah itu.
" Ini rumah kamu dek, " tanya Chandra kemudian.
" Bukan kak ini rumah papa mama aku kak, " ucap Rani merendah.
" Ah bisa aja kamu dek jelas jelas rumah papa mama kamu berarti ininrymah kamu dong dek, " ucap Chandra sambil tetap menggendong Rani.
" yah bisa dibilang begitu kak," ucap Rani sambil melepaskan pelukan di leher Chandra.
" Kak, turunin aku disini aja kak, " ucap Rani sambil mencoba untuk turun dari gendongan Chandra tapi Chandra tetap mengeratkan gendongannya.
__ADS_1
" Turunin kak entar kakak bisa sakit loh, " ucap Rani lagi sambil menatap wajah pria yang menggendongnya itu.
" Dasar keras kepala, " gumam Rani perlahan tapi sempat di dengar oleh Chandra.
" Adek bilang apa tadi," ucap Chandra lagi sambil masih tetap berdiri sambil menggendong Rani.
" Sudahlah kak turunin aku, ntar kakak bisa sakit pinggang loh, " ucap Rani lagi.
" Tenaga kuda atau tenaga apa ini kok gak kenal capek sih, " ucap Rani lagi dan langsung di jawab Chandra.
"Biarkan aku memelukmu dulu ntar kalau sudah turun gak mungkin adek mau kakak peluk lagi kan, " ucap Chandra lagi.
" Baiklah terserah kakak aja," ucap Rani seperti orang yang putus asa.
Akhirnya seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menawarkan jasanya.
" Nona muda ayo saya gendong ke atas," ucap wanita setengah baya itu sambil mencoba menggendong Rani tetapi tak di berikan oleh Chandra.
" Tolong tunjukkan kamarnya biar aku membawanya ke atas, " ucap Chandra lagi.
" Kakak benaran mau antar aku ke atas, " Ucap Rani membulatkan matanya.
" Iya emang kenapa, " Chandra balik bertanya.
" Ya udah keras kepala amat sih, " ucap Rani membuang mukanya.
" Ayo kak, " ucap Rani dan Chandra pun menggendongnya ke lantai dua mansion itu, kemudian membawanya ke kamar Rani.
Di depan kamar Rani ada sebuah kursi sofa panjang seperti tempat tidur disana Chandra menurunkan Rani dan mencari kotak p3K dan setelah mendapat kotak p3K Chandra mengoleskan obat di lutut Rani dan siku Rani agak terasa perih sih tapi Rani menutupi matanya dengan kedua tangannya.
" sudah selesai saatnya pulang, " ucap Chandra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rani.
Rani merasa sesak nafas dan mencoba membuang mukanya ke arah lain sehingga Chandra hanya mengelus rambu Rani dan tanpa sadar Chandra mengecup pucuk kepala Rani sambil berkata " kakak berangkat kerja dulu ya dek, sampai jumpa.
Ketika Chandra hendak melangkah pergi Rani menahan tangan Chandra sambil berkata " Tunggu dulu kak, kapan kita bisa membaca tulisan rahasia di atas kertas kosong itu kak, " ucap Rani sambil menatap Chandra.
" Setelah kaki dan tanganmu sembuh hubungi aku ya," ucap Chandra hendak melangkah lagi.
Tetapi lagi lagi di tahan sama Rani, " gimana cara menghubungimu kak, " ucap Rani lagi.
Chandra pun meminta nomor ponselnya Rani.
Kemudian menelepon ke nomor ponsel Rani.
__ADS_1
" Tuh nomor kakak nanti setelah kamu sembuh hubungi kakak ya, " ucap Chandra sambil melangkah turun ke bawah.