1000 Amin Untuk SuamiKu

1000 Amin Untuk SuamiKu
Episode 26


__ADS_3

Sampai aksi kejar kejaran mereka berhenti saat Rainer berhasil menangkap tangan Nisa dan mendorong nya ke tembok dekat tangga.


"" Kena... "" Ucap Rainer menggenggam Pinggang dan Tangan Nisa dengan kuat.


Napas mereka sedikit cepat, mereka saling tatap satu sama lain, Sampai akhirnya Rainer menempelkan kening dan hidung mereka, memejamkan mata nya, begitu juga dengan Nisa.


"" Aku mencintai mu... "" Ungkap Rainer pada Nisa.


Walaupun Nisa tak membalas, Tapi dia menggigit Bibir nya kuat dan mengerutkan Kening nya dalam, Rainer membuka mata nya melihat wajah Nisa, dia mencium Bibir Nisa sekilas dan Nisa pun melepaskan bibir nya yang dia gigit, Rainer pun kembali memejamkan Mata nya.


"" Tidak usah terburu buru... "" Ucap nya lagi.


Penyatuan mereka berlangsung cukup lama, sampai mereka di sadarkan oleh suara bunyi telpon.


"" Ah, Mas... ""


"" Itu suara ponsel ku... ""


"" Liat dulu Mas, siapa tau penting.. ""


Rainer pun melepaskan Nisa, dia berjalan ke arah meja makan dan mengambil ponsel nya, dia langsung memutar bola mata nya malas saat melihat nomer kontak nya.


"" Siapa Mas? ""


"" Bastian""


"" Ouh"" Rainer pun mengangkat Telpon nya.


"" Apa? ""


““ Kekantor sekarang, ada sesuatu””


"" Apa? Kekantor? ""


““ Iyah, Om Mau ngenalin lu sama seseorang, kata nya karyawan baru, tapi dari keluarga jauh Om””

__ADS_1


"" Besok aja, gua capek""


““ Tapi Om minta nya lo datang sekarang””


"" Boleh bawa istri gua kagak, gua gak bisa ninggalin dia malem malem kayak gini""


““ Iyah boleh, Abi boleh bawa Ummi ke sini””


"" Ya udah, gua ke sana bentar lagi, tapi habis liat gua langsung pulang""


““ Iyah iyah””


"" Mas mau ke kantor? "" Tanya Nisa.


"" Iyah, kamu juga ikut""


"" Kenapa? ""


"" Aku gak bisa tinggalin kamu malem malem kayak gini""


"" Oke siap siap dulu""


"" Iyah, bentar aku masukin dulu kue nya""


"" Oke"" Rainer pun berjalan ke arah tangga dan masuk ke dalam kamar nya.


Setelah selesai, Nisa langsung menyusul Suaminya ke dalam kamar, saat dia masuk dia sedang melihat Rainer memakai Kemeja, Nisa pun masuk ke dalam dan pergi ke arah lemari membawa baju Abaya nya.


Dia pun memakai baju nya, Jilbab dan juga tak lupa Cadar nya.


"" Udah siap? ""


"" Udah Mas""


"" Ayo kita berangkat sekarang"" Mereka pun turun ke bawah, Rainer langsung membawa mobil nya ke arah jalan pekarangan, dia membuka kan pintu mobil itu untuk Nisa, lalu dia pun masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"" Kamu gak mau pakai jaket? Di luar dingin"" Tawar Rainer.


"" Gak apa apa, di sini hangat"" Jawab Nisa.


Rainer pun menyalakan mesin mobil nya, lalu melajukan mobil nya.


Setelah hampir satu jam, mereka pun sampai di perusahaan besar itu, Anisa terperangah melihat besar nya Perusahaan itu.


"" Ayo Masuk ke dalam""


"" Karyawan nya... Udah pada pulang? "" Tanya Nisa sedikit ragu


"" Belum, karena masih ada Papa sama Bastian""


"" Ouh... "" Rainer menggenggam tangan Nisa dan masuk ke dalam Perusahaan.


Ternyata benar, masih banyak karyawan yang belum pulang, banyak dari mereka yang melihat ke arah Nisa, mungkin bertanya tanya, siapa Nisa ini, bahkan tangan nya sampai di genggam oleh Rainer.


"" Lo udah datang Rai? "" Tanya Bastian yang baru saja keluar dari ruangan Rainer.


"" Papa Mana? ""


"" Di dalem, eh Ummi juga dateng"" Ucap Rainer dengan senyum manis nya.


"" Iyah... ""


"" Udah, gak usah senyum senyum kayak gitu, gak lucu"" Ucap Rainer menarik tangan Nisa masuk ke dalam


"" Dih, Abi jahat bener"" Jawab nya dengan bibir maju ke depan.


"" Pa... "" Rainer langsung masuk ke dalam, dia sudah melihat Papa Gibran dan seorang wanita yang mengurai kan rambut nya, sampai pinggang.


"" Kamu dateng juga, papa mau ngenalin kamu sama seseorang, Kirana itu Rainer, putra sulung Om, kamu inget Gak Rai, Papa pernah cerita sama kamu tentang Kirana"" Ucap Papa Gibran, walaupun Bastian bukan lah Putra kandung nya, tapi Papa Gibran tetap menganggap kalau Bastian adalah putra bungsu nya.


"" Halo Tuan"" Ucap perempuan itu sambil berbalik mengarah Rainer dan tersenyum, namun senyuman nya tiba tiba luntur saat melihat Anisa di samping Rainer bahkan Rainer menggenggam tangan Nisa dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2