
"" Mas"" Panggil Nisa membuat Rainer terkejut dan langsung menoleh ke arah Nisa.
"" Sayang... Kamu... Kamu kapan datang? "" Tanya Rainer gugup.
"" Itu... Punggung kamu kenapa Mas? Kok ada luka sayatan, masih baru lagi! Kamu berantem? ""
"" Enggak... Itu... Tadi... Di kantor... Ada penyusup! Iyah penyusup! Terus... Tadi penyusup nya nyerang Mas... Jadi... Terpaksa Mas harus lawan, jadi nya... Luka... "" Jawab Rainer berbohong dengan wajah berkeringat.
"" Mas... Kok tadi gak kerasa sama Nisa? ""
"" Itu... ""
"" Udahlah"" Nisa menyimpan mangkuk berisi air hangat dan juga minuman nya.
"" Ada kotak obat gak Mas? ""
"" Ada... Di bawah"" Tampa menjawab, Nisa langsung keluar dari kamar itu, sedangkan Rainer hanya diam.
Dan Nisa pun kembali membawa kotak obat, dia berjalan ke arah Rainer lalu duduk di samping nya.
"" Berbalik"" Pinta Nisa.
"" Kamu... Kamu marah? ""
"" Enggak... "" Nisa hanya menjawab pelan sambil membuka kotak obat, dia pun membawa kapas dan sebuah betadine, dan dengan pelan mengoleskan nya pada Rainer.
"" Sebelumnya... Ini udah di bersihin dulu yah? "" Tanya Nisa.
"" Iyah... Sayang, kamu marah? "" Tanya Rainer lagi.
Namun Nisa hanya diam, masih fokus mengoleskan obat nya.
"" Badan Mas panas, karena efek luka nya.. "" Ucap Nisa dengan mulut bergetar.
Rainer langsung menoleh ke arah Nisa mendengar suara Nisa yang seperti mau menangis.
"" Sayang... Kok nangis? "" Tanya Rainer langsung berbalik menghadap Nisa.
"" Mas... Kamu jahat... "" Ucap nya memukul dada bidang Rainer.
__ADS_1
"" Kenapa nangis? Hei... Jangan nangis... "" Rainer mencoba menenangkan Nisa dan memeluknya.
"" Kamu jahat Mas... Kamu jahat! "" Ucap Nisa mencakar dada bidang Rainer sampai berbekas merah.
Rainer sedikit meringis, namun dia tetap diam mencoba menenangkan sang istri yang tiba tiba menangis.
"" Udah sayang... Jangan nangis... "" Ucap Rainer masih menenangkan Nisa.
Beberapa menit kemudian, Nisa tenang berhenti menangis, Nisa melepaskan diri dari pelukan Rainer, lalu berjalan ke arah meja sebrang mengambil segelas teh.
"" Ini"" Nisa menyerahkan teh madu itu pada Rainer.
"" Buat Mas? ""
"" Iyah, minum nanti keburu dingin banget""
"" Ini teh? Kok aromanya madu? ""
"" Di tambah madu mas, biar enak""
"" Ouh"" Rainer langsung meminum teh itu, rasanya menang enak dan menyegarkan.
"" Habisin""
"" Iyah""
"" Jadi keluar kota nya? ""
"" Iyah... Usahain, lagian penting sama... ""
"" Apa? ""
"" Koleganya sedikit ada gangguan Jiwa""
"" Eum! Masa sih Mas? Kalau gangguan jiwa mana bisa pimpin perusahaan""
"" Iyah... Dia nyebelin maksud nya, suka bikin orang kesel""
"" Temen Mas? ""
__ADS_1
"" Iyah... Sahabat Mas, paling nyebelin setelah Bastian""
"" Pusing nya udah mendingan? ""
"" Iyah, udah mendingan""
"" Ouh, ya udah"" Nisa beranjak dari kasur nya dan mengambil mangkuk berisi air hangat yang sudah dingin.
"" Itu apa sayang? "" Tanya Rainer.
"" Ini air anget Mas, tadinya... Mau buat kompres Mas, tapi udah dingin jadi mau Nisa simpen, lagian juga Mas nya udah mendingan kan? ""
"" Iyah""
Nisa berjalan ke luar, membawa mangkuk itu.
"" Gak nyangka... Dia nangis liat ini... Tandanya di peduli banget kan sama aku"" Ucap Rainer tersenyum melihat istrinya menangis sesenggukan melihat dia terluka.
Malam hari pun tiba, Nisa memanggil Rainer untuk makan malam, seperti biasa sebelum Nisa maka Rainer akan manja pada Nisa dengan memintanya menyuapi Rainer, manja... Tapi kalau nolak dosa, lakuin aja... Itu yang selalu di pikirkan Nisa setiap kali Rainer bersikap manja lada nya, bernafas pasrah pada suaminya itu.
Setelah makan Malam.
"" Sayang... "" Panggil Rainer yang dengan erat memeluk perut Nisa.
"" Kapan di isi nya? "" Tanya Rainer yang membuat Nisa mengerutkan dahinya.
"" Maksud nya? ""
"" Kapan ada dede bayi nya? Mas pengen punya anak""
"" Sabar Mas, nanti juga di kasih""
"" Kapan? Mas udah pengen gendong bayi, Mama udah mau punya cucu"" Tiba tiba mendongakkan wajah.
"" Apa? ""
"" Tambahin lagi kali yah? Biar cepet? ""
"" Apa nya? ""
__ADS_1
"" Benih nya... "" Bisik nya di telinga Nisa, pergumulan panas pun terjadi lagi di kamar itu.