14 Februari

14 Februari
BAB 10


__ADS_3

Tiga hari sudah Kendra beristirahat di kampung halamannya, mengingat surat izin sakit yang di berikan dokter hanya untuk tiga hari, mau tidak mau Kendra harus kembali ke Jakarta untuk kembali ke aktivitasnya.


Hari itu Kendra mengambil penerbangan pertama dan berencana begitu sampai di Tangerang, ia akan langsung ke kantor. Saat tengah melangkah memasuki bandara, samar-samar Kendra mendengar seseorang memanggil dirinya, ia pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Ken... Kendra..."


Fay berlari menghampiri Kendra. Begitu tiba di hadapan Kendra, Fay mengatur nafasnya. "Ken..." ia mengulurkan sebuah paper bag untuk kekasihnya. "Ini untukmu."


Sekilas Kendra melihat paper bag yang di ulurkan kepadanya. "Fay, tadi malamkan aku sudah bilang, kamu jangan menyusulku ke bandara." Kendra menunjukan jam di pergelangan tangannya. "Ini jam 04.00 subuh, loh! Aku enggak mau mengganggu istirahatmu."


"Tapi, Ken. Aku hanya ingin ngasih ini saja kok," Fay kembali mengulurkan paper bag yang ia bawa. "Kamu pasti tidak sempat sarapan," ucapnya dengan nada cemas, namun Kendra dapat menangkap jika kecemasan itu bukan mengenai dirinya yang tak sempat sarapan, melainkan ada hal lain yang mengganjal di hati Fay, tentang perubahan sikap dirinya yang kemarin, yang sering mengabaikannya, dan memilih bersenang-senang dengan teman-temannya.


Kendra merengkuh Fay kedalam pelukannya. "Maafin aku ya, sering membuatmu cemas dan sedih," bisiknya, kali ini ia berjanji dengan sepenuh hatinya tak akan menyia-nyiakan ketulusan yang telah Fay berikan padanya.


Kendra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Fay dengan kedua tangannya. "Jangan sedih lagi ya, aku mau kita sama-sama bahagia dan enjoy menjalani hubungan kita," ia menghapus air mata Fay dengan jemarinya, ia kembali merasa bersalah telah membuat Fay bersedih, ia tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Fay ketika kemarin dirinya mengabaian Fay.


Fay mengangguk sembari tersenyum. "Iya, Ken."


Kendra menerima paper bag pemberian Fay, kemudian ia pamit chekin bandara dan terbang menuju Jakarta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tak banyak kata yang keluar dari mulut Kendra ketika ia kembali bekerja, Kendra hanya bicara seperlunya dengan teman-temannya, terlebih dengan Luna. Kendra terlihat seperti menjaga jarak dengannya, ia tak ingin memberikan kesempatan sekecil apa pun kepada Luna agar kajadian kemarin tidak terulang lagi. Ia sadar bahwa kejadian kemarin terjadi lantaran dirinya memberikan banyak celah kepada Luna.


Bela melongok dari pembatas meja, melihat Kendra di sebelahnya. "Ken, loe lagi berantem ya sama Luna?" tanyanya penasaran, sekilas ia melirik ke arah Luna. "Apa dia engak nengokin loe kemaren pas loe sakit makanya loe ngambek?"


Kendra merotasikan bola matanya, ia sangat jengah setiap kali Bela mengajaknya bergosip. "Gue enggak ada apa-apa sama Luna," ucapnya dengan tegas, tanpa menatap Bela, ia terus fokus menyelesaikan laporannya.


"Terus loe kenapa dari tadi diem aja? Loe juga keliatan banget nyuekin Luna? Apa service Luna waktu itu kurang memuaskan?" tanyanya seakan tak puas dengan jawaban yang di berikan Kendra.


Kendra membalik tubuhnya menghadap Bela. "Stop Bela, jaga mulut loe!" Kendra semakin mempertegas ucapannya. "Gue lagi banyak kerjaan!" ia beranjak dari tempat duduknya kemudian meraih berkas di meja kerjanya. "Permisi." Kendra pun meninggalkan meja kerjanya, menuju ruangan Pak William untuk menyerahkan laporan mingguannya yang sepat tertunda lantaran tiga hari kemarin ia sakit.



Kendra benar-benar menepati janjinya, hubungan yang terjalin antara dirinua dan teman-temannya hanya sebatas profesionalitas pekerjaan semata. Ia sudah tidak lagi ikut dalam acara party yang di adakan oleh teman-temannya, hanya sekali ia ikut ke acara party yang di adakan oleh kantornya, itu pun hanya sebatas makan malam biasa bersama atasanya dalam event aniversarry perusahaan tempatnya bekerja.


'Jadilah dirimu sendiri, tetap baik dan humble dengan semuanya namun harus memiliki batasan, agar kamu tetap menjadi dirimu yang sebenarnya,' ucap Fay. Kalimat itulah yang selalu Kendra pegang.


"Ken, kamu masih sibuk?" tanya Luna yang tiba-tiba saja menghampiri meja kerjanya, setelah lewat jam kerja.


Kendra menoleh ke belakang, "Aku masih menyempurnakan draft konten yang kemarin," jawabnya. "Ada apa, Lun?"


Luna menarik kursi dari meja kerja Bela yang telah Bela tinggalkan sekitar 10 menit yang lalu. "Ken, ada hal yang ingin aku bicarakan."

__ADS_1


Kendra menoleh sepenuhnya menghadap Luna, menyimak hal yang ingin Luna bicarakan kepadanya.


"Kamu benar, Ken," ucap Luna, menunduk. "Apa pun masalah yang kami hadapi, tidak lantas membuatku mengkhianatinya, karena sebetulnya saat ini suamiku justru membutuhkan dukungan dariku. Dia merasa sangat malu karena tidak bisa memberikan keturunan, sehingga dia membutuhkan waktu sendiri untuk bisa berdamai dengan kenyataann yang ada." Luna *******-***** tisu yang berada dalam genggamannya, ia merasa bersalah pada dirinya, pada Kendra dan terutama pada suaminya. "Minggu lalu, saat dia pulang, kami sempat berbicara banyak. Kami sepakat untuk mengadopsi seorang bayi perempuan, dan...."


Luna menyodorkan sebuah bingkisan kecil ke hadapan Kendra, "Dan ini adalah kenang-kenangan untukmu sebelum aku sebelum aku mengundurkan diri. Tadi pagi saat kamu meeting dengan Pak William, aku juga sudah membagi dan berpmitan dengan yang lainnya."


Kendra menerima bingkisan tersebut dan menaruhnya di atas meja kerjanya. "Jadi kamu mau resign?"


Luna mengangguk, "Tiga hari yang lalu sudah mengajukan surat pengunduran diriku, Pak Randy bilang aku tidak perlu hand over karena nanti ada kau yang akan mengajari karyawan baru," ucapnya sembari tersenyum


"Aku??" tanya Kendra seolah kesal karena akan mendapat tambahan tugas baru, namun kemudian ia tersenyum memberikan ucapan selamat atas kebahagiaan yang kini Luna rasakan. "Aku sudah tidak sabar ingin melihat bayimu."


Luna menggeleng "Sepertinya kamu harus bersabar, karena sebelum mengadopsi bayi, aku dan suamiku ingin bulan madu dulu."


Kendra tertawa. "Baiklah kalau begitu, aku akan selalu menunggu kabar baik darimu." Kendra mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat kepada Luna. "Bahagia selalu bersama suamimu."


Luna menerima jabatan tangan Kendra. "Ya, doa yang sama untukmu dan Fay. Aku menunggu undangan pernikahan kalian, jangan sampai kalian tak mengundangku."


"Aku pasti akan mengundangmu!"


Luna beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruang kerja yang hampir lima tahun ia tempati. Saat sampai di ambang pintu, Luna sempat menoleh sebentar, kemudian ia tersenyum dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2