14 Februari

14 Februari
BAB 13


__ADS_3

Perdebatan antara Fay dan Adikara, ayahandanya. Mengenai tanggal pernikahan pun tak bisa mereka hindarkan lagi, Adikara menginginkan putrinya menikah di tanggal 28 November sesuai dengan tanggalan Jawa yang sudah ia hitung bersama para sesepuh, namun tanggal tersebut di tolak oleh putri sulungnya, Fay dan Kendra memilih tanggal 14 Februari sebagai tanggal pernikahan mereka.


"Yah, aku dan Kendra tidak bermaksud untuk menunda-nunda pernikahan kami. Tapi, aku sudah tidak bisa mengambil izin lagi," tolak Fay. "Lagipula jatah cuti Kendra pun sudah habis. Belum lagi di bulan akhir November nanti atasannya mau pulang kampung ke California, jadi Kendra harus menggantikannya." terang Fay.


Bukan tanpa alasan keduanya memundurkan hari bahagia mereka menjadi tanggal 14 Februari. Selain tanggal tersebut merupkan tanggal yang sangat bersejarah bagi mereka, pada bulan tersebut jadwal pekerjaan Kendra sudah tidak sepadat bulan-bulan sebelumnya dan Fay pun sudah bisa mengambil izin.


Adikara menggelengkan kepalanya,"Tapi Fay, menurut para sesepuh, pernikahanmu itu jangan sampai lewat akhir tahun," ucap Adikara dengan tegas.


"Ayah masih aja ya percaya sama hal-hal yang seperti itu?" Fay tak menyangka di ayahnya yang seorang pengusaha tekstil yang cukup terkenal, masih percaya dengan hal-hal berbau mitos. "Untuk foto prewedding dan meeting dengan EO saja, kami masih kerepotan mengatur waktunya. Aku weekend masih di rumah sakit, sementara Kendra terkadang harus lembur." Fay menaruh sendok dan garpunya di atas piring makannya, rasanya ia sudah tak berselera makan karena perdebatan itu.


Fay menatap mata ayahnya lekat-lekat, sungguh ia tak ingin menentang apa pun yang orangtuanya katakan hanya saja... "Yah, ini acara seumur hidup kami, please kami ingin mempersiapakan semuanya dengan matang, meskipun kami berdua sama-sama sibuk." ia beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya.


Ratri, ibunda Fay langsung memberi kode kepada suaminya untuk menghentikan perdebatannya. "Biar nanti aku yang bicara dengannya," ucapnya menenangkan suaminya.



Di dalam kamar, Fay menceritakan perdebatan tersebut kepada Kendra melalui sambungan telepon. "Aku capek, Ken," ucapnya dengan sedih. "Setiap hari ayah selalu membahas masalah ini." ia menyambar tisu dari meja belajaranya kemudian menghapus air matanya.


"Maafin aku ya Fay," ucapnya dengan penuh rasa bersalah. "Harusnya aku tidak buru-buru melamarmu kemarin. Ini semua di luar rencanaku, aku pikir dua atau tiga bulan setelah acaran lamaran, kita bisa melangsungkan acara pernikahan tapi ternyata aku mendapatkan promosi jabatan dan Pak William mengajukan cuti pulang kampung. Sudah tiga tahun ini beliau tidak mengambil cuti sehingga perusahaan memperbolehkannya untuk cuti selama satu setengah bulan." terang Kendra, ia merubah panggilan telepon menjadi panggilan video call.

__ADS_1


"Fay, aku akan mendapatkan bonus sebesar Rp.500.000.000 kalau aku bisa menyelesaikan semua project sebelum akhir tahun ini," ucap Kendra. "Bukannya aku lebih mementingkan pekerjaan dari pada pernikahan kita. Tapi memberikan tempat tinggal yang layak dan menyiapkan dana cadangan untuk rumah tangga kita, itu merupakan kewajibanku sebagai seorang kepala rumah tangga. Aku memundurkan beberapa bulan pernikahan kita untuk memaksimalkan hidup kita setelah kita menikah. Kesempatan ini tidak datang dua kali, Fay."


Fay sangat paham dengan pemikiran Kendra, Kendra selalu memiliki perencanaan yang matang terutama mengenai persoalan keuangan. "Iya aku mengerti, Ken."


"Kamu jangan sedih ya, nanti aku yang akan bicara dengan ayah. Aku yakin ini hanya salah paham."


Fay tersenyum mengangguk, Kendra selalu punya cara untuk membuat hati Fay tenang.


Kendra lega melihat kekasihnya sudah mulai tersenyum. "Jadi tadi bagaimana operasinya?"


"Lummayan melelahkan dan menegangkan, saat konsulen banyak bertanya kepadaku, tapi aku sangat senang bisa melihat operasi pengangkatan tumor secara langsung." dengan penuh semangat Fay menceritakan secara detail suasana di ruang ruang operasi.


Sementara Kendra, sembari mengerjakan laporannya, ia menyimak semua cerita yang di sampaikan oleh kekasihnya. "Fay, apa nanti kau berniat mengambil spesialis bedah?"


"Aku akan selalu mendukungmu sayang," ucap Kendra memberikan semangat kepada kekasihnya.


Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba saja Ratri datang. "Boleh ibu masuk?" tanya Ratri dari balik pintu.


"Tentu saja, bu," ucapnya, Fay beralih ke handphonenya. "Ken udah dulu ya, aku mau ngobrol sama ibu."

__ADS_1


Kendra mengangguk. "Okay."


"Bye honey." Fay pun mematikan sambungan teleponnya.


Ratri duduk di atas tempat tidur bersama putri sulungnya. "Lagi video call sama Ken ya?" ia mengelus kepala Fay dengan lembut.


Fay mengangguk. "Iya bu, seperti biasa Kendra menanyakan kegiatan hari ini."


Ratri berdeham sebelum ia memulai obrolan bersama putri sulungnya, ia mencoba merangkai kata agar anaknya tidak tersinggung dengan apa yang akan ia ucapkan. "Nak, sebetulnya, ayah tidak bermaksud untuk percaya pada mitos. Hanya saja, kami khawatir dengan hubungan kalian."


"Maksud ibu?"


"Kamu sudah berani membuka hijabmu di depan Kendra, saat Kendra datang ke rumah atau saat kalian melakukan video call. Ibu tahu, dulu saat kalian masih berpacaran, kamu belum mengenakan hijab, tapi kan sekarang sudah, nak. Istikomah-lah, Kendra itu hanya tunanganmu, bukan suamimu, dia belum berhak meliat auratmu." Ratri menghembuskan napas beratnya.


"Sejujurnya kami khawatir saat kamu bilang mau menyusul Kendra ke Jakarta untuk melakukan foto prewedding, dan terlebih kamu akan menginap di hotel bukan di rumah di bude. Untuk itulah kami memaksa kalian untuk segera menikah, setidaknya akad nikah dulu, untuk resepsinya silahkan kalian atur sesuai keinginan kalian."


Fay membulatkan matanya, ia tak menyangka jika orangtuanya begitu mengkhawatirkan hubungannya dengan Kendra padahal mereka telah berpacaran lebih dari 4 tahun.


"Bu, aku pacaran sama Kendra, sudah lebih dari 4 tahun dan kami sama sekali belum pernah berciuman, kami sangat memegang komitment kami untuk melakukannya di malam pertama pernikahan kami nanti."

__ADS_1


"Tapi nak, syaitan itu ada di mana-mana terlebih orang yang mau menikah banyak sekali godaannya."


"Tolonglah, bu. Percaya pada kami, tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana." Fay terus menyakinkan ibundanya, hingga akhirnya Ratri pun mengizinkan putrinya untuk menggelar pernikahan sesuai dengan tanggal yang mereka mau dan membolehkan Fay untuk datang ke Jakarta melakukan sesi foto prewedding di sana.


__ADS_2