14 Februari

14 Februari
BAB 39


__ADS_3

Kendra membawa Amanda kembali ke kediamannya, ia bahkan mengantar dan membawakan koper Amanda hingga ke kamarnya. "Kamu mandi dan ganti bajulah, aku juga mau ganti baju," Kendra menunjuk ke kamar sebelah, dimana itu merupakan kamarnya. Sebelum keluar dari kamar Amanda, ia melepas jaket papanya dari tubuh Amanda. "Ini jaket kesayangan papa sejak masih pacaran dengan mama, sebaiknya di simpan saja sampai nanti mama kemari, baru kita kembalikan." Kendra membawa jaket itu keluar dari kamar Amanda, ia meminta asisten rumah tangganya untuk mencucinya dengan hati-hati, sementara dirinya berganti pakaian kemudian membuatkan susu dan sup hangat untuk Amanda.


Kendra kembali ke kamar Amanda dengan segelas susu dan sup hangat buatannya, begitu ia membuka pintu, Amanda baru saja mengenakan pakaian dalam bagian bawahnya. Sebetulnya ini bukan kali pertama Kendra melihat tubuh polos Amanda, sewaktu di rumah sakit Kendra sering membantu Amanda membersihkan tubuhnya hingga mengganti pakainnya, hanya saja kali ini berbeda, Amanda sedang tidak sakit dan Kendra melihat Amanda sebagai istrinya.


Kendra menaruh sup dan susu buatannya di meja rias, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Amanda dan meraih br* yang hendak di kenakan Amanda. "Pangsung pakai piyamanya saja ya," bisiknya, ia memakaikan piyama tidur mini ke tubuh Amanda, tangan Kendra merayap turun ke perut Amanda. "Sepertinya dari tadi aku tidak merasakan bayi ini seaktiv tadi malam."


"Dari pagi memang gerakannya sedikit menurun, aku tidak tahu kenapa." Amanda merasa setiap kali dirinya bersedih atau ribut dengan Kendra, bayi dalam kandungannya tak begitu aktiv bergerak.


"Ya sudah kamu makan dulu ya, agar bisa minum obat. Kamu belum makan kan dari pagi?" Kendra mengajak Amanda duduk di balkon yang terdapat di kamar Amanda, agar bisa menikmati sup buatannya sembari menatap senja.


Kendra membantu Amanda duduk di lantai karena balkon tersebut masih kosong. "Aku itu sebenarnya sudah lama sekali ingin menaruh kursi di sini, aku ingin bisa bersantai dan menikmati senja dari sini. Tapi aku lupa untuk datang ke toko furniture."


"Nanti kita saja yang beli secara online. Salah satu toko furniture menyediakan aplikasi yang bisa menentukan dekorasi apa saja yang cocok sebelum akhirnya kita memutuskan untuk membeli," ucap Amanda.


"Ya pakai itu juga bagus, bisa lebih praktis," Kendra mulai menyendokan sup buatannya ke dalam mulut Amanda. "Enak tidak?" tanyanya.


Amanda mengangguk, "Enak mas, terima kasih ya." jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa tidak pantas menerima semua kebaikan Kendra. "Sebenarnya dari kecil saat masih tinggal di Jogja, aku sering merasa iri dengan mba Fay. Dia memiliki orangtua yang sangat menyayanginya, dia juga selalu mendapatkan apa pun yang dia mau." Amanda menundukkan kepalanya. "Tapi jika di ingat-ingat, justru mba Fay lah yang sering meminjami aku mainan, membagi uang jajannya kepadaku, menolongku ketika ibu sedang memarahiku, bahkan hingga sekarang meski aku telah menyakitinya, mba Fay masih menganggapku adiknya." Amanda menyeka air mata yang menetes di pipinya, ia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Kendra.

__ADS_1


"Sungguh mas Ken tak perlu bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung ini, aku tak pantas mendapatkan kebaikan dari mas Ken dan mba Fay setelah aku menghancurkan hubungan kalian hiks..." Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kendra menaruh mangkuk sup di lantai, ia mengelus kepala Amanda dengan lembut. "Sebetulnya aku pun merasa hal yang kau rasakan, aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan Fay. Dulu aku sering membohonginya, mengabaikannya bahkan aku pernah mengkhianati kepercayaannya. Tapi setelah tadi pagi melihat dan tau siapa pria yang akan menjadi calon tunangan Fay, aku sadar. Fay berhak di bahagiakan oleh orang yang tepat dan yang pasti lebih baik aku."


Kendra merengkuh Amanda ke dalam pelukannya. "Mari saling belajar memperbaiki diri dan belajar untuk saling membahagiakan untuk anak yang tidak berdosa ini." ia menunduk menaruh bibirnya di perut Amanda, sembari mengelus dengan penuh kasih. "Anak daddy sehat-sehat ya di dalam," ucap Kendra.


Suasana haru berubah menjadi ceria ketika bayi dalam kandungan Amanda kembali aktiv bergerak. "Mas bayinya bergerak lagi," ucap Amanda sambil tersenyum.


"Mungkin dia kangen sama suara daddynya," ucap Kendra.


"Kamu tidak setuju? Atau ada panggilan lain yang kamu inginkan?"


Amanda menggeleng, ia memeluk Kendra dengan erat. "Tidak ada, aku setuju," Amanda sama sekali tak kebaran dengan sebutan itu, hanya saja ketika Kendra menyebutkan dirinya sebagai daddy dari anak yang di kandungnya, sungguh membuatnya terharu. "Terima kasih banyak mas," ia melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Kendra.


Keduanya saling tatap, hingga perlahan Kendra mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Amanda dengan lembut. Kendra menyapu bibir Amanda dengan lidahnya, dan masuk ke rongga mulutnya. Amanda merasakan lidah hangat Kendra menyapu bibir dan lidahnya, ia pun membalas ciuman Kendra lebih dalam.


Di tengah ciuman panasnya bersama Amanda, Kendra melirik ke arah pagar balkon, ia baru menyadari jika dirinya dan Amanda sedang berada di luar dan penghuni gedung yang bersebelahan dengan gedung apartementnya bisa saja melihat dirinya tengah bercumbu.

__ADS_1


Kendra membopong tubuh istrinya masuk ke kamar, ia merbahkan tubuh Amanda di atas tempat tidur, kemudian menarik piyama yang di kenakannya. Hanya dengan satu tarikan piyama itu tebuka sepenuhnya, memperlihat tubuh polos Amanda. Kendra melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian ia merayap atas di tubuh Amanda. "Maaf, aku baru bisa memberimu hari ini."


Saat Kendra mau memasukan tubuhnya ke bagian sensitif Amanda, sekelebat Amanda teringat pada malam kejadian pemerk*saan itu, meski dirinya sering mendamba sentuhan hangat Kendra namun rupanya saat Kendra hendak memasukan kejantannya, memory akan kejadian menakutkan itu menghantuinya, ia mendorong tubuh Kendra menjauh darinya.


"Amanda kamu baik-baik saja?" ia merangkum wajah Amanda yang nampak terlihat sangat pucat dan ketakutan.


Amanda mengatur nafasnya yang terngeh-engah ia menggapai punggung Kendra dan memeluknya. "Maafin aku mas, maaf.."


Kendra mendekap erat tubuh Amanda sambil menyelimutinya. "Kita istirahat saja dulu saja ya, kamu pasti kecapean." ia menenangkan Amanda hingga Amanda tertidur di pelukannya.


Kendra memandangi wajah istrinya, ia baru memahami bahwa di balik sifat menyebalkan Amanda tersimpan luka batin yang teramat dalam, Kendra mengecup keningnya, kemudian perlahan melepaskan pelukan Amanda dan turun dari tempat tidur.


Setelah mengenakan pakaian lengkap, ia mencoba mencari informasi mengenai layanan konseling psikolog terbaik di Jakarta dan membuat janji konseling.


Sebelum kembali menemani Amanda istirahat, Kendra sempat mengrimkan pesan kepada ibunda, mengabarkan bahawa dirinya memilih melanjutkan pernikahannya dengan Amanda untuk menyempurnakan separuh agamanya.


'Mama bangga denganmu, Ken. Berusaha-lah, mama yakin kamu pasti bisa.'

__ADS_1


__ADS_2