14 Februari

14 Februari
BAB 20


__ADS_3

Meski telah mengetahui Amanda tengah mengandung, Kendra tetap mengemasi sisa pakaian dan barang-barang pribadinya dari rumah kontrakannya. Dan ketika pagi hari saat ia hendak berangkat ke kantor, Kendra menyempatkan diri ke rumah bude Jum untuk berpamitan sekaligus menyerahkan kunci kontrakannya.


Alangkah murkanya bude Jum saat mendengar Kendra hendak keluar dari rumah kontrakannya. "Kau ini benar-benar manusia jahat yang tidak tahu diri," bentak bude Jum, ia mengungkit bahwa dirinya telah memberikannya tempat tinggal dan listrik gratis tatkala Kendra baru menginjakan kakinya di ibu kota, selama Kendra belum mendapatkan gaji pertamanya.


"Aku memintamu untuk menemaninya datang kepesta ulang tahun temannya, bukan untuk menidurinya dan menyuruhnya berbohong menutupi perbuatan hinamu itu," ucap bude Jum dengan kilatan kemarahan dari matanya.


Kendra menundukan kepalanya, sebenarnya ia sudah memprediksikan bahwa hal ini akan terjadi, namun ia tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak merasa bersalah sama sekali dan ia merasa tak perlu bertanggung jawab atas apa yang tidak ia perbuat.


Ia menegakan kembali kepalanya, menatap bude Jum dengan serius. "Saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah bude berikan kepadaku, dan aku berusaha untuk membalasnya, tapi bukan dengan cara bertanggung jawab atas kehamilan Amanda, karena aku sama sekali tak pernah merasa telah meniduri Amanda."


Kendra berdeham, dengan tenang ia menjelaskan kronologis yang terjadi menurut versinya. "Jujur saja, beberapa kali aku pernah minum alkohol jenis serupa, dengan kadar alkohol yang sama, bersama dengan teman-teman kantorku, dan pada gelas ke lima pun aku masih mampu mengendalikan diriku dan mengingat semua yang terjadi." ucap Kendra. "Jadi, aku bisa pastikan jika ada sesuatu pada minuman yang aku minum," Kendra melirik ke arah Amanda yang duduk di samping bude Jum, ia meminta pada Amanda untuk berkata jujur apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.


"Aku semuanya dengan sejujur-jujurnya. Kami mabuk, lalu Mas Kendra membawaku ke kamar hotel... Huhu.." Amanda menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kendra menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan itu yang terjadi."


Plak...


Satu tamparan dari pakde Danu, ayahanda Amanda, mendarat di pipi Kendra. "Beraninya kau menuduh putriku menjebakmu, padahal kau telah menikmati tubuhnya."

__ADS_1


Kendra mengelus pipinya, kemudian ia menatap pakde Danu. "Aku berani bersumpah, aku sama sekali tidak menyentuh Amanda."


"Beraninya kamu bersumpah, padahal jelas-jelas kau tidur bersama putriku di hotel itu!!" bude Jum melepar kertas bukti reservasi "Aku mendapatkan tadi malam setelah Amanda menceritakan semuanya, kamu masih mau mengelak?"


"Kau benar-benar bajingan." Suasana kian memanas, bude Jum menghampiri Kendra dan menarik kerah kemejanya, namun dengan cepat Amanda menahan ibundanya. "Sudah bu.."


Bude Jum menatap tajam putrinya. "Kau masih membela pria brengsek yang sudah merusak masa depanmu?" tanya bude Jum. "Ibu tidak terima, Nak." bude Jum melepas tangan Amanda yang menahan tubuhnya, namun lagi-lagi Amanda dan pakde Danu menengahinya. "Sabar bu, kita bicarakan baik-baik."


"Tidak ada kata baik-baik, pada pria brengsek," bude Jum menghempaskan tangan Amanda dengan cukup kuat, hingga Amanda terhempas ke lantai.


"Awww... " Amanda berteriak memegang perutnya.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Kendra. Amanda menganggukkan kepalanya, "Terima kasih," ia merem*s kemeja kendra menahan sakit di perutnya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Kendra menyempatkan diri untuk menghubungi Angga agar menggantikannya meeting pagi ini. "Semua bahan materinya sudah ada di komputer gue, loe tinggal copy saja. Untuk konten terbaru, akan gue kirim siang ini setelah urusan gue selesai," ucap Kendra, ia diam sejenak mendengarkan Angga berbicara, kemudian Kendra mengucapkan terima kasih pada Angga lalu mematikan sambunga teleponnya. "Sabar ya kita hampir sampai," ia menatap kaca spion melihat kondisi Amanda yang duduk di bangku belakang bersama ibundanya.


Setibanya di rumah sakit, Kendra membawa Amanda menuju ruang IGD, kemudian ia bersama orangtua Amanda menunggu di ruang tunggu rumah sakit.


"Ini semua gara-gara kamu Kendra," Bude Jum mendekat ke arah Kendra dan bersiap menumpahkan amarahnya. "Jika terjadi apa-apa dengan Amanda dan kandungannya, bude tidak akan pernah memafkanmu!!"

__ADS_1


Pakde Danu meminta istrinya untuk tidak membuat keributan di rumah sakit. "Sudahlah kita tunggu saja dokter keluar," ia mengajak istrinya kembali duduk.


Dua puluh lima menit menunggu, akhirnya dokter yang menangani Amanda keluar dari ruang IGD, ia mengatakan jika kandungan Amanda lemah dan membutuhkan istirahat total selama beberap hari di rumah sakit, serta meminta keluarga Amanda untuk menjaga pikiran Amanda agar tetap stabil.


"Dengar itu, Kendra!!" ucap bude Jum. "Sebaiknya kamu bertanggung jawab dan tidak membuat masalah."


Kendra menghela nafas beratnya, ia kemudian meminta izin untuk membereskan administrasi rawat inap Amanda. Kendra mengurus administrasi rawat inap Amanda bukan semata-mata ingin bertanggung jawab atas kehamilan Amanda tapi ia sudah jengah mendengar ocehan yang keluar dari mulut bude Jum, selain itu diam-diam ia mengunjungi ruangan dokter yang baru saja memeriksa Amanda.


Kendra menanyakan mengenai usia kehamilan Amanda, ia sedikit terkejut saat mengetahui jika usia kehamilan Amanda sudah memasuki 5 minggu, namun kemudian dokter menjelaskan jika usia kehamilan di hitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) bukan hari pada saat mereka melakukan hubungan intim.


'Astaga' Kendra mengusap wajahnya dengan kasar.


Tak patah arang, Kendra kembali menanyakan mengenai prosedur tes DNA. Sang dokter menjelaskan pengambilan sampel CVS dapat dilakukan pada kehamilan usia 10 – 12 minggu, dengan mengambil sampel kecil jaringan dari plasenta melalui leher rahim atau perut ibu.


Kemudian, sampel tersebut akan dibandingkan dengan sampel darah dari calon ayah. Namun, dokter memberikan peringatan bahwa tes ini berisiko menyebabkan ibu mengalami keguguran, terlebih kandungan Amanda sangat lemah. Selain juga tes tersebut dapat menyebabkan down syndrome, sindrom Edward, dan cacat lahir, sehingga dokter menyarankan untuk menunggu sampai bayi tersebut lahir.


Kendra benar-benar di buat frustasi oleh masalah ini satu sisi ia yakin sekali jika bayi dalam kandungan Amanda bukanlah anaknya, namun di sisi lain ia tak tega jika terjadi sesuatu pada bayi yang di kandung Amanda karena mau bagaimana pun bayi tersebut tak bersalah.


"Baiklah, terima kasih, Dok." Kendra keluar dari ruangan dokter dengan persaan yang bercampur aduk, ia benar-benar putus asa karena tidak bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2