
Sepanjang perjalanan menuju Jogja, Kendra terus memikirkan Fay. "Fay, mengapa kau tak menungguku, Fay? Semudah itu kamu melupakan kisah cinta kita yang sudah kita bina selama 5 tahun?" gumam Kendra. Padahal kemarin ia yakin sekali jika Fay masih membukakan pintu maaf dan bersedia menunggunya, namun ternyata harapannya salah.
Tubuh Kendra bergetar, ia tak bisa membayangkan dirinya akan benar-benar kehilangan Fay. "Fay, kamu enggak boleh pergi dariku, kamu enggak boleh jadi milik orang orang lain. Aku masih begitu mencintaimu." Kendra betul-betul tidak rela wanita yang masih bertahta di hatinya itu di miliki oleh orang lain selain dirinya. "Aku yakin, kamu juga masih mencintaiku."
Sesampainya di Bandara Internasional Yogyakarta, Kendra bergegas menaiki taxi menuju kediaman Fay, ia melihat jam di tangannya masih menunjukan pukul 08.00 pagi, sehingga ia yakin sekali jika Fay belum keluar.
Baru saja ia turun dari taxi, ia sudah di kejutkan dengan keberadaan ibundanya yang juga tengah berada di depan kediaman Fay. Ajeng langsung memberi kode kepada putranya untuk segera masuk ke mobilnya, dengan penuh tanda tanya Kendra pun menuruti permintaan ibundanya.
Kendra masuk ke mobil ibundanya dan langsung bertanya, "Mama sedang apa di sini?" tanya.
Ajeng memundurkan mobilnya, lebih sedikit menepi di balik pohon di samping kediaman Fay. "Harusnya mama yang tanya, mau apa kamu pagi-pagi ke rumah Fay?" Ajeng menatap tajam ke arah Kendra.
"Aku mau..." pandangan Kendra beralih ketika melihat sebuah mobil Lamborghini, menepi tepat di depan kediaman Fay, dan tak lama kemudian Fay keluar dari rumah memberikan sebuah bungkusan pada pria berseragam dokter, yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
"Maaf ya sayang, aku jadi ngerepotin kamu pagi-pagi gini," ucap Kevin, ia menerima bungkusan yang berisi undangan milik teman-teman Kevin yang tersalip di antara undangan milik kerabat Fay.
"Ia enggak apa-apa mas," ucap Fay sambil tersenyum, ia memperhatikan jika Kevin mengenakan kemeja pemberiannya sebagai kado ulang tahun Kevin yang ke 29. "Bajunya tidak kekecilankan?" Fay mengusap dada Kevin dan sedikit membuka jas dokter untuk memastikan kemeja pemberiannya pas di tubuh Kevin.
"Makin tampan ya aku mengenakan pakaian darimu," ucap Kevin.
Fay tertawa. "Sebetulnya ini ibu yang pilih."
Melihat adegan tersebut, dengan sigap Ajeng langsung mengunci pintu mombilnya, dan benar saja Kendra langsung protes. "Mama please buka pintunya," ucap dengan nada memohon, hatinya sungguh panas melihat Fay bermesraan dengan pria lain. "Mama aku mohon buka pintu mobilnya, Fay tidak boleh sama pria itu."
__ADS_1
"Menurutmu harusnya Fay dengan siapa?" tanya Ajeng senyum sinis. "Sama pria pemabuk yang sekarang sudah menjadi suami orang? Hah?"
Pandangan Kendra kembali tertuju pada Fay dan Kevin, Kevin sudah kembali ke mobilnya namun kaca mobilnya masih terbuka dan ia masih berbicara dengan Fay "Aku berangkat ke rumah sakit dulu ya, salam sama ibu dan ayah," ucap Kevin.
Fay meraih tangan Kevin kemudian menciumnya. "Iya nanti aku sampaikan, ayah dan ibu sudah pergi pagi-pagi sekali tadi. Mas Kevin hati-hati ya."
Kevin tersenyum sambil mengangguk. "Assalamualaikum ya humairaku."
"Walaikumsalam," Fay melambaikan tangannya ke arah mobil Kevin yang perlah mulai bergerak meninggalkan kediaman Fay.
"Aku bukan suami orang. Aku akan mengajukan pembatalan pernikahan setelah bayi dalam kandungan Amanda lahir, dan kemudian aku bisa menikahi Fay sesuai dengan rencana semula."
"Wow, egois sekali kamu," ucap Ajeng. "Apa kamu tidak melihat Fay dan pria tadi terlihat sangat bahagia? Kamu tega menghancurkan kebahagiaan yang tengah di rajut oleh Fay setelah berkali-kali kau sakiti? Dia baru saja menyebar undangan pertunangannya, kamu mau dengan seenaknya meminta Fay untuk membatalkannya? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya, bagaimana perasaan kedua orangtua Fay, dan bagaimana perasaan bayi dalam kandungan Amanda ketika lahir, kau malah meninggalkannya?"
"Ya, mama tahu bayi itu memang bukan anakmu. Tapi bolehkah mama memintamu untuk tetap bersama Amanda dan bayinya?" Ajeng meraih tisu dan menyeka air matanya, kemudian ia mulai bercerita saat ia menjenguk Amanda di rumah sakit karena pendarahan.
Kala itu Kendra tengah meeting di kantor, sementara Amanda hanya tinggal berdua dengan asistennya. "Di lobby rumah sakit mama berpapasan dengan ARTmu, dia mengatakan jika ibu mertuamu menyuruhnya untuk membeli buah. Mama sedikit lega karena tahu Amanda di jaga oleh ibunya, namun setelah mama masuk ke ruang rawat inapnya, mama melihat ibu mertuanya tengah menampar Amanda."
Ajeng menghela nafas beratnya sesaat. "Ibu mertuamu langsung pergi begitu melihat mama. Mama sendiri cukup syok melihat itu, mama mendekap Amanda cukup lama hingga akhirnya Amanda bercerita jika ibunya marahnya lantaran menuduhnya mencari perhatian ayahnya dengan mengabarkan kalau dirinya di rawat di rumah sakit, padahal kamu yang menghubungi ayahnya."
"Ya tentu saja, aku menghubungi orang tuanya. Aku juga menghubungi mama, agar Manda setidaknya mendapat support dari keluarga," ucap Kendra.
"Iya tapi masalahnya ibu mertuamu tidak suka jika ayah mertuamu perhatian dengan Amanda, bahkan dia meminta Amanda untuk tidak menghubungi atau datang kerumahnya."
__ADS_1
"Jadi itu alasan mengapa selama ini Amanda tidak pernah mau mengunjungi rumah orang tuanya," gumam Kendra.
Ajeng meraih tangan putranya dan menggenggamnya. "Di moment itu juga, mama berbicara dari hati ke hati dengan Amanda untuk mengulik siapa sebenarnya ayah kandung dari bayi dalam kandungannya."
Kendra langsung terkejut. "Siapa mah? Bukan aku kan?" tanya tidak sabar.
Ajeng menggeleng. "Bukan. Bukan kamu nak, Amanda di perk*sa."
"Hah??"
"Beasiswanya di cabut tanpa kejelasan, sehingga ia harus kerja extra untuk membayar uang sekolahnya, ia juga tidak berani meminta uang kepada ayahnya, sehingga ia menerima pekerjaan sebagai pelayan di salah satu club malam. Dia tergiur dengan tawaran bayaran yang tinggi untuk melunasi tunggakan sekolahnya agar ia bisa ikut wisuda dan mengambil ijazahnya."
Kendra menyandarkan kepalanya di banggku. "Mama enggak usah bercanda deh. Di sana itu perlindungan hukum terhadap warganya sangat ketat loh, mah."
Ajeng mengambil handphone dalam tasnya, kemudian ia memperlihatkan bukti foto-foto visum yang Amanda tunjukan padanya. "Surat aslinya ada di Manda, mama hanya memfotonya. Pria-pria yang memperk*sa Amanda adalah imigran dari benua lain, mereka langsung pulang ke negara asalnya malam itu juga setelah ia memperk*sa Amanda. Amanda tidak punya cukup uang melanjutkan proses hukum, sehingga ia memilih untuk pulang."
Kendra kembali duduk tegak dan menatap ibundanya. "Tapi kenapa harus aku yang bertanggung jawab??"
"Saat mengetahui dirinya hamil, Amanda sangat kalut. Satu-satunya pria yang kebetulan dekat dengannya hanya kamu, sehingga ia bersama Alice temannya yang saat itu mengadakan pesta menjebakmu."
Ajeng menatap putranya dengan tatapan penuh harap. "Jika memang kamu tidak bisa menerima Manda dan bayinya, minimal kamu jangan ganggu kebahagiaan Fay," ucap Ajeng. "Sebetulnya diam-diam mama mencari tahu siapa pria yang berhasil menaklukan hati Fay. Dia seorang dokter specialis bedah, dia juga pernah menangani papa loh waktu papa terkena hernia, orangnya baik banget, dia juga rutin membuat program-program sosial di Jogja.
"Ken, jika memang kamu sayang sama dia, biarkan dia bahagia dengan pria pilihannya. Mama pun berat melepas Fay, tapi mama happy melihat Fay bahagia, dan Amanda juga tidak begitu buruk seperti pandangan mama di awal bertemu dengannya, dia cukup nurut dan selalu mendengarkan omongan mama."
__ADS_1