
Kendra menyusuri mall sembari mendorong kursi roda Amanda. "Mas Ken aku jalan saja ya, aku kan cuma hamil bukan sakit," beberapa kali Amanda minta turun dari kursi roda, namun Kendra tak mengizinkannya. "Manda, ini mallnya luas banget loh, kamu pasti kecapean kalau jalan," ucap Kendra. "Beli ice cream saja yuk," Kendra mendorong kursi roda Amanda menuju outlet penjual ice cream.
Tiba di depan outlet ice cream, Kendra menepikan kursi roda Amanda. "Kamu mau ice ceram rasa apa?" tanya Kendra.
"Aku mau pistachio," jawab Amanda.
"Ya sudah kamu tunggu sini saja ya."
Beberapa menit kemudian Kendra membawa satu cup ice cream pistachio, pesanan Amanda.
Mata Amanda berbinar-binar melihat ice cream kesukaannya, sudah lama sekali ia tak makan ice cream pistachio, "Trima kasih ya, mas Ken," ucap Amanda, tapi kemudian ia baru menyadari jika Kendra hanya membeli 1 ice cream untuknya saja. "Mas tidak beli juga?"
"Aku tidak begitu suka manis," Kendra kembali mendorong menuju outlet yang menjual pakaian anime.
"Ini tidak terlalu manis kok," Amanda berbalik dan mengangkat tangannya. "Ayo mas Ken coba dulu," ia menyodorkan ice cream tersebut ke arah Kendra.
Kendra terdiam beberapa saat, ia teringat jika dulu saat masih tinggal di Jogja, Fay sering memintanya untuk mencicipi ice cream yang tengah ia makan, meski tak begitu menyukai ice cream ia tetap memakannya untuk Fay. "Aku enggak suka ice cream, Amanda." Kendra menoleh ke deretan outlet yang berjejer yang ia laluinya. 'Tiga bulan setengah lagi, aku akan kembali padamu Fay.' batin Kendra.
Amanda membantu Kendra memilihkan pakaian animasi yang akan di kenakannya minggu depan. "Mas Ken pakai cosplay Inuyasha saja ya," ia menyodorkan cosplay Inuyasha berwarna merah ke tubuh Kendra. "Pasti keren deh kalau mas yang pakai."
"Jangan membuatku malu!" ucap Kendra, pakai pakaian Aladin saja sudah membuatnya cukup malu untuk keluar dari apartement bagaimana jika memakai pakaian Inuyasha yang seterang itu. "Aku mau pakai Detective Conan, saja lah," ia mengambil stelan jas dan celana panjang.
"Mas, Detective Conan pakai celana pendek." Amanda mengganti celan panjang yang di ambil Kendra menjadi celana pendek, ia juga mengambil stelan cosplay dekisugi pada serial kartun doraemon. "Kalau yang ini tidak malu kan?"
__ADS_1
Kendra menggeleng, "Ya boleh lah."
Puas berbelanja kostum animasi, mereka menuju outlet pakaian wanita. Kendra memilihkan pakaian hamil panjang untuk Amanda. "Kamu itu lagi hamil, sebaiknya pakai pakaian yang lebih tertutup," ucap Kendra.
Seketika Amanda langsung melihat pakaian yang di kenakannya. "Ini ketutup kok mas," Amanda mengenakan blouse tanpa lengan dan rok selutut.
Kendra membungkukan badannya di belakang Amanda, kemudian ia menepuk lengan Amanda dengan lembut. "Lenganmu masih terlihat," bisik Kendra, ia kembali memilihkan beberap pakaian untuk Amanda, baik untuk di rumah mau pun untuk keluar, Kendra juga mengambil beberapa scarf berwarna netral untuk Amanda. "Kau simpan saja, siapa tau nanti kau butuh," Kendra tak ingin memaksa atau menyuruh Amanda mengenakan hijab tapi ia tetap ingin membelikannya untuk Amanda.
Amanda hanya tersenyum, ia membiarkan Kendra memilihkan pakaian untuknya sesuka hati Kendra.
Usai berbelanja pakaian dan kebutuhan dapur, Amanda mencari beberapa perkakas yang belum ia miliki untuk produksi perhiasan DNAnya. "Ini untuk apa, Man?" Kendra mengambil bubuk kerlip pada keranjang belanjaan Amanda.
"Itu namanya glitter, mas." jawab Amanda. "Kemarin ada pelangganku yang cerita perjuangan menyusui anak pertamanya sebab ia terkena mastitis, jadi aku usulkan untuk menambah gliter putih di kalung ASInya, dan dia senang banget bisa mengabadikan moment tersebut lewat kalung yang aku buat." Amanda memandang ke atas. "Jika anak ini lahir aku ingin membuatkannya kalung dari tali pusar dan rambut kita berdua yang membentuk pohon Ara. Mas tidak keberatankan jika aku inta beberapa helai rambut mas Kendra?"
Kendra pun membayar barang belanjaannya kemudian ia mengajak Amanda kembali ke kediamannya.
Seperti biasanya,setiap malam Amanda selalu meminta Kendra tidur di kamarnya. "Mas Kendra bobo sini ya,"pinta Amanda. "Aku mau sekalian nanya bentuk teras rumah mama, karena tadi pagi aku sudah janji akan membuatkan desain teras yang baru."
Kendra merebut tab dari tangan Amanda. "Besok saja, sekarang sudah waktunya istirahat,"ia menaruh tab itu di meja di samping tempat tidurnya. "Ayo tidur!!" Kendra menyibakan selimut dan meminta Amanda berbaring.
Dengan senang hati Amanda menyusup ke dalam selimut dan memeluk Kendra denag erat. "Good night," ia mengecup pipi Kendra kemudian memejamkan mata.
__ADS_1
"Good night," Kendra juga memejamkan matanya.
Keesokan paginya Kendra terbangun oleh sesuatu yang mengganjal di bawah bantalnya saat tangannya menyusup di balik bantal. 'Apaini?' gumam Kendra, ia berpikir jika Amanda kelupaan menaruh buku di bawah bantal, namun rupanya saat ia membuka mata, rupanya undangan pertunangan Fay dengan pria lain.
Tangan Kendra gemetar melihat undangan itu "Fay.."gumamnya lirih, ia masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Tidak mungkin," Kendra menggelengkan kepalanya , ia beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menghampiri Amanda di dapur.
"Jelaskan apa maksud undangan ini?" tanya Kendra kepada Amanda dengan nada tinggi.
Amanda nampak sangat ketakutan mendengar bentakan dan sorot mata tajam Kendra.
"Jawab," bentak Kendra kembali.
Jantung Amanda berdegup sangat kenjang, mendengar suara Kendra yang begitu menggelegar. "I-itu, undangan pertunangan, Fay." jawab Amanda dengan gugup.
"Kenapa kamu sembunyikan ini dariku? Kenapa kamu tidak memberi tahuku?" Kendra mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian ia pergi menuju kamarnya.
Amanda langsung mengejar Kendra. "Aku baru dapat undangan itu kemarin, mas," ucap Amanda mencoba menjelaskannya kepada Kendra. "Aku baru mau mengatakannya hari ini."
Tak ingin mendengar penjelasan Amanda, Kendra menutup dan mengkunci pintu kamarnya. "Mas... Dengerin aku dulu." Amanda mengetuk-ngetuk pintu kamar Kendra, berharap Kendra mau mendengar penjelasannya. "Mas Ken, undangannya masih satu minggu lagi, kita bisa ke dokter kandungan dulu sebelum menghadiri acara itu."
Pintu kamar terbuka, Kendra sudah mengenakan kaus dan celana panjangnya. Ia menatap tajam ke arah Amanda yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Fay tidak akan pernah menjadi milik siapapun selain aku," Kendra melangkahkan kakinya keluar dari apartementnya.
__ADS_1