
Usai melakukan photoshoot di kebun teh, selanjutnya Kendra dan Amanda menjalani sesi maternity underwater. Amanda nampak sexy dengan bikini yang balutan dres putih menerawang yang mengekspos tubuh dan perut buncit Amanda, sementara Kendra masih nampak sibuk mencari pakaian miliknya. "Moly, kemeja putihku di mana ya?" tanya Kendra sembari mengaduk-aduk isi koper dan tasnya.
Amanda menghampiri suaminya di kamar, ia mengambil kemeja yang sebetulnya sudah ia taruh di atas tempat tidur. "Ini sayang," Amanda memberikannya kepada Kendra. Amanda terkejut melihat isi tas dan kopernya berserakan di atas tempat tidur "Kenapa malah bongkar-bongkar isi tas, sayang?" dengan sabar Amanda melipat kembali pakaian yang telah di acak-acak Kendra.
"Lagian kamu ngapain sih bawa baju dan perlengkapan baby?" protes Kendra, sedari tadi yang ia temukan hanya baju-baju bayi.
"Ini property untuk pemotretan tadi sayang," jawab Amanda sembari memasukan baju-baju yang sudah ia lipat ke dalam tas kemudian menutupnya.
"Iya tapi kenapa sebanyak ini? Ada selimut, popok dan sebagainya, padahal yang kita pakai tadi hanya dua baju saja," omel Kendra.
"Ini itu buat di taruh di mobil mas Ken, buat jaga-jaga. Soalnya kata orang, kalau sudah hamil besar perlengkapan ini harus sudah ready di mobil. Ini masih sebagian kok, sebagian lagi masih di apartement. Ngomong-ngomong Moly siapa?"
Kendra mencondongkan tubuhnya. "Mommy Lily," bisiknya kemudian ia mengecup pipi Amanda. "Aku ke kamar mandi dulu ya ganti baju."
Amanda pernah mengatakan pada Kendra bahwa ia ingin menamai putri kecilnya dengan nama Lily, seperti bunga lily yang bukan hanya cantik namun memiliki efek menenangkan serta bisa menjadi obat herbal.
Amanda tersenyum bahagia karena akhirnya Kendra membuat nama kesayangan untuknya. " Sayang, kenapa ganti di kamar mandi? Di sini saja, kan hanya ada aku." Amanda menatap Kendra dengan tatapan yang menggoda, ia mulai membantu Kendra melepaskan blouse yang di kenakannya, kemudian ia memberikan sentuhan ringan di dada Kendra.
"You're so sexy, Moly." Kendra memegang dagu Amanda dan mengecup bibir mungil Amanda dengan lembut, kecupan berubah menjadi ciuman panas ketika Amanda membalasnya lebih dalam. Kendra menarik pinggang Amanda hingga merapat ke tubuhnya, dadanya menempel ketat dengan dada Amanda.
Seketika keduanya tertawa ketika mendengar suara salah seorang tim fotografer memanggil Amanda. "Kita lanjut nanti malam ya," bisik Kendra, ia meraih kemeja dari tangan istrinya kemudian bergegas mengenakannya, sementara Amanda lebih dulu keluar dari kamar. "Aku keluar dulu ya," ia mengecup bibir Kendra sekali lagi sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari kamar.
__ADS_1
Amanda nampak sangat menikmati sesi photoshoot ini, bahkan ia mencoba untuk pose-pose menantang seperti pose terlentang di dasar kolam renang. Ia menangkup wajah Kendra ketika melihat Kendra nampak terlihat panik karena pose-pose menantang yang ia lakukan. "Aku ahli dalam berenang, sayang." Amanda mengecup bibir Kendra, kemudian melanjukan kembali sesi akhir dari photoshoot tersebut.
Hingga sesi photoshoot usai Amanda belum mau juga menyudahi renangnya, ia justru melepas dress tipis yang ia kenakan, dan melemparnya ke pinggir kolam.
"Moly, udah yuk! Udah sore, semakin dingin airnya." Kendra mengulurkan tangannya hendak membantu Amanda naik dari kolam.
Amanda menggeleng. "Sebentar lagi sayang, aku masih mau renang," tolak Amanda.
Kendra menunjuk ke arah jam di tangannya. "Tidak lebih dari 15 menit!!" ucap Kendra. "Aku mau ganti baju, habis itu membuatkan sup untukmu." ia beranjak dari kolam renang meninggalkan istrinya yang masih asik bermain air.
"Terima kasih ya sayang," ucap Amanda. Dirinya mulai membatasi makan diluar karena kebanyakan masakan di luar menggunakan MSG, sehingga sebisa mungkin dirinya membuat makanan sendiri atau tak jarang Kendra yang membuatkan untuknya.
Tak ingin membuat suaminya marah, sebelum 10 menit Amanda sudah naik ke permukaan, ia langsung mengeringkan tubuhnya dan menghampiri Kendra di dapur. "Wanginya enak banget, yang." Amanda memeluk Kendra dari belakang.
Kendra mengelus tangan Amanda yang melingkar di pinggangnya. "Dari kemarin, kita bersama 24 jam."
"Entahlah, beberapa hari belakangan ini aku selalu rindu, mas Ken," ucapnya. "Mas..." Amanda berhenti sejenak, ia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa, Moly?"
"Apa mas Ken, akan tetap sayang dengan Lily jika suatu saat nanti mas Ken memiliki anak kandung?" tanya Amanda dengan hati-hati, ia merasa posisi Lily sama seperti dirinya di dalam keluarga orangtuanya sehingga ia takut jika anak dalam kandungannya mendapat ketidakadilan seperti yang ia alami, tapi ia juga tidak ingin terlalu banyak menuntut kepada Kendra.
__ADS_1
Kendra membalik tubuhnya ke arah Amanda, ia membelai wajah Amanda dengan lembut. "Sekarang kamu bisa rasain sendiri, bagaimana sayangnya aku sama bayi ini," tangan Kendra turun ke perut Amanda, membelai dengan hangat. "Kita akan punya anak lagi, setelah kita benar-benar siap secara kesehatan lahir dan batin." Kendra bisa melihat pancaran kecemasan dari mata Amanda. "Jika suatu saat aku keliru dalam mendidiknya, tolong ingatkan aku. Kamu punya hak atas itu, karena kamu adalah istriku." ia mengecup kening Amanda.
Kendra kembali membalik tubuhnya untuk mematikan kompor dan mengeluarkan rendang dari dalam microwave. "Kamu tunggu di meja makan dulu ya, aku mau mindahin supnya ke mangkuk," ia memberikan rendang tersebut ke pada Amanda untuk sekalian ia bawa ke meja makan.
Baru beberapa langkah Amanda meninggalkan dapur, terdengar suara pecahan piring.
Praaang....
Kemudian suara jeritan Amanda. "Awwww... Mas Ken, perutku," rintihnya sembari merem*s pakaiannya.
Kendra langsung berlari menghampiri Amanda, "Kamu kenapa, Moly?" tanya panik.
"Awww," rintihnya kembali. "Perutku sakit mas..."
Kendra bergegas membopong tubuh Amanda ke ruang tengah untuk menghindari pecahan piring yang berserakan, tak hanya Kendra yang terlihat panik, seluruh team fotografer dan MUA pun ikut panik melihat Amanda.
"Apa kamu mau melahirkan?" Kendra benar-benar panik dan bingung. "Tapi ini belum sembilan bulan?"
"Aku tidak tahu mas, perutku sakit sekali."
"Maaf pak Ken, terkadang ada kelahiran yang belum genap sembilan bulan, namanya prematur, jadi sebaiknya pak Ken bawa saja Bu Amanda ke rumah sakit terdekat."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Kendra membawa Amanda ke rumah sakit. "Tolong ambilkan tas istri saya di kamar," pinta Kendra, sementara dirinya membantu Amanda masuk ke mobil.