
Keesokan paginya, Fay menepati janjinya untuk datang ke rumah Kendra sebelum ia berangkat ke kampus.
Ajeng, ibunda Kendra menyambut kedatangan Fay dengan hangat. "Haduuh pagi-pagi begini Ken sudah ngerepotin kamu, Fay," ucap Ajeng ketika ia nemerima paper bag berisi banyak makanan untuk Kendra dan keluarganya.
"Enggak apa-apa kok, mah. Jarang-jarang juga Ken pulang ke Jogja," ujar Fay. "Aku tempatin di mangkuk ya mah buburnya," Fay menawarkan bantuan untuk memindahkan makanan yang ia bawa.
"Iya kamu taruh saja di sini," Ajeng memberikan sebuah mangkuk dan sendok kepada Fay. "Sekalian kamu kasihin ke Ken, dia masih di kamar. Mungkin badannya masih tidak enak."
Fay mengangguk, dengan senang hati ia membawakan sarapan untuk kekasihnya ke kamarnya. "Morning Ken..." sapanya sembari membuka pintu kamar Kendra, ia langsung memelankan suaranya ketika melihat Kendra tengah berbicara dengan temannya melalui sambungan telepon, dengan sabar Fay menunggu sembari duduk di atas tempat tidur Kendra.
Kendra menoleh ke arah Fay, kemudian ia mengakhiri obrolannya dan mematikan handphonenya. "Aku baru baru saja menghubungi, Bayu." Kendra mendekat ke arah Fay. "Aku menanyakan apa aku bisa kembali bergabung di perusahaan mebel tempat kemarin aku bekerja." ia duduk di samping Fay.
Seketika Fay langsung terkejut mendengar ucapan Kendra. "Kamu mau resign dari tempatmu bekerja?" tanyanya.
Kendra mengangguk, membenarkan jika dirinya berniat mengundurkan diri dari tempatnya bekerja saat ini.
"Ada masalah apa, Ken?"
Kendra menggeleng, "Tidak ada, aku hanya merasa kurang cocok dengan lingkungannya dan aku lebih nyaman berada di sini, di dekatmu." sebagian besar jawaban Kendra memang benar adanya, ia merasa bahwa lingkungan di kantornya tak membawa kebaikan, terlebih ia juga sudah enggan untuk bertemu dengan Luna, ia ingin bisa seperti Fay, berubah menjadi lebih baik.
Fay meraih tangan Kendra, kemudian menggenggamnya erat. "Ken, bukankah belerja di perusahaan itu adalah salah satu impianmu?" ia menatap Kendra dalam-dalam. "Jika masalahnya ada pada lingkungan. Jadilah dirimu sendiri, tetap baik dan humble dengan semuanya namun harus memiliki batasan, agar kamu tetap menjadi dirimu yang sebenarnya."
Kendra nampak berpikir sejenak, ia menaruh bantal di pangkuan Fay kemudian ia merebahkan kepalanya di atas bantal tersebut. "Tapi Fay, rasanya enggak enak jauh darimu."
Fay membelai kepala Kendra dengan lembut, sembari mengecek suhu tubuh kekasihnya. "Ken, semester depan aku udah mulai koas. Setelah lulus, aku bisa menyusulmu tinggal di sana."
Dengan wajah yang berbinar-binar, Kendra langsung duduk kembali. "Beneran, Fay?"
__ADS_1
Fay mengangguk. "Iya sayang, makanya sekarang aku agak sibuk," ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih ada 15 menit, kamu mau makan sendiri apa aku suapin?"
"Sendiri saja, aku sudah enakan kok. Nanti kamu terlambat."
Fay beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi ke kampus. "Aku pergi dulu ya."
Kendra mengantar Fay keluar, namun sebelum itu Fay berpamitan dengan orangtua Kendra. "Mah, Fay ke kampus dulu ya," ia meraih tangan Ajeng, kemudian menciumnya.
"Sebentar sayang," Ajeng bergegas ke dapur mengambil kue buatannya yang sudah ia siapkan untuk Fay. "Titip untuk ibumu ya," Ajeng memberikannya dengan menggunakan papaer bag milik Fay yang tadi ia bawa.
"Terima kasih banyak ya, Mah." Fay menerimanya sembari tersenyum.
Ajeng mencium kedua pipi Fay, seraya berbisik. "Terima kasih juga, sudah membuat Kendra bahagia." ia memeluk Fay dengan hangat sembari mengelus punggungnya. "Mama doakan semoga kamu cepat lulus dan mendapat nilai terbaik."
"Aamiin, Fay berangkat dulu, mah. Assalamualaikum."
"Iya, mah." Kendra langsung mengikuti Fay dari belakang dan mengantarnya hingga keluar dari kediamannya. "Semangat ya sayang," ia melambaikan tangannya ke arah mobil kekasihnya, Fay pun membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya sebelum ia melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Ken.
Setelah memastikan Fay pergi, barulah Kendra kembali masuk, namun begitu ia hendak membalikan tubuhnya. Ajeng sudah berdiri di hadapannya dengan mata melotot sembari berkacang pinggang.
"Mama, ngagetin aja deh!"
"Mama mau ngomong serius sama kamu," Ajeng meminta putranya untuk duduk di ruang tamu. "Ken, kamu tahu kan kalau mama itu sayang banget sama Fay?"
Kendra mengangguk. "Iya," jawabnya. Sejak awal Kendra membawa Fay ke rumahnya, kedua orangtuanya langsung merestui hubungannya dengan Fay, bahkan mamanya sering mengingatkan agar Kendra menjaga Fay dengan baik.
"Tadi pagi, mama mencium bau alkohol di baju yang kemaren kamu pakai," ujarnya, mata Ajeng mulai berkaca-kaca, ia menduga jika kini putranya telah berani minum-minuman beralkohol. "Kalau kamu enggak bisa jaga diri kamu sendiri, bagaimana kamu bisa jaga Fay? Fay itu anak baik-baik, Ken. Dia sangat tulus menyanyangimu, bahkan di saat kamu tidak ada, dia rajin datang kemari untuk silahturahmi."
__ADS_1
Ajeng menatap putranya dengan tatapan tajam. "Jujur sama mama, kamu ngapain di Jakarta?" bentak Ajeng.
Kendra terdiam, ia bahkan tak berani menatap mata mamanya.
"Jawab Kendra!!" Ajeng semakin meninggikan nada bicaranya.
Kendra turun dari tempat duduknya, ia bersimpuh di pangkuan ibundanya. "Maafin Kendra, mah. Kemarin malam Kendra minum sama teman-teman," ucapnya lirih.
"Lalu?"
Kendra kembali terdiam, ia tak mungkin menceritakan jika dirinya mabuk hingga hampir meniduri teman kantornya, yang notabennya masih berstatus istri orang.
Ajeng mengelus kepala putranya dengan lembut. "Sebagai seorang ibu, mama tentu tahu perubahan pada anaknya, dan sebagai sesama wanita mama pun tahu jika akhir-akhir ini kamu sering mengabaikan Fay. Mama bisa lihat itu dari sorot matanya, ia rindu namun juga kecewa padamu," ucap Ajeng. "Ken, kalau kamu tidak bisa menjaga hatinya, tidak bisa membahagiakannya. Lepaskan Fay, biarkan dia di bahagiakan dengan orang yang tepat."
Kendra langsung mendongakan wajahnya menatap ibundanya. "Tidak, mah. Kendra tidak mau kehilangan Fay, Kendra sayang banget sama dia."
"Kalau kamu sayang, jangan buat dia sedih dan kecewa lagi."
Kendra mengangguk. "Kendra janji, enggak akan bikin Fay sedih dan kecewa lagi."
"Mama pegang ya janjimu, mama hanya tidak ingin memiliki anak yang menyakiti hati wanita, karena kamu lahir dari seorang wanita."
"Iya mah, Kendra ngerti"
"Ya sudah mama mau ke pasar dulu sama bibik, kamu mau di masakin apa?" tanya Ajeng sembari beranjak dari tempat duduknya dan Kendra pun kembali ke tempat duduknya. "Apa aja, mah. Apa pun yang mama masak, Kendra akan makan."
"Ya sudah kalau begitu, kamu habiskan dulu sana bubur buatan Fay. Habis itu minum obat, lalu istirahat," ucap Ajeng "Oh ia jangan lupa ajak Fay makan malam di sini." ia berjalan ke dapur untuk mengambil keranjang belanjaannya. "Punya asam lambung, sok-sokan mabuk," gerutunya.
__ADS_1
Dari ruang tamu Kendra masih dapat mendengar ibundanya menggerutu, ia berpikir apa semalam Fay juga mencium bau alkohol saat Fay memapahnya ke tempat duduk di teras rumahnya?