
14 Februari
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Amanda Shaura Tjaidjadi binti Danu Tjaidjadi dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai," ucap Kendra dalam satu tarikan nafasnya sembari menjabat tangan Danu, ayahanda Amanda.
Kemudian penghulu menanyakan kebsahan ijab kabul kepada para saksi, secara serentak para saksi mengatakan "sah... sah.." setelah itu penghulu membacakan doa-doa pernikahan.
Setelah pembacaan doa, MC mempersilahkan Amanda memasuki ruangan untuk penandatanganan buku nikah, Amanda berjalan secara perlahan di dampingi oleh Alice, sahabat baiknya. "Akhirnya loe bisa juga dapetin dia," bisik Alice.
Amanda hanya tersenyum ke arah Kendra, yang kini telah resmi menjadi suaminya. Sementara Kendra hanya tertunduk, ia sama sekali tak menoleh ke arah Amanda, meski hari itu Amanda sudah berdandan maksimal, ia bahkan mempercayakan make upnya pada MUA terbaik yang biasa merias para artis ibu kota, tak hanya itu, Amanda pun mengenakan kebaya putih dengan bahan brokat, hasil rancangan desainer ternamaan.
Amanda duduk di sebelah Kendra dan melakukan penandatanganan buku nikah, kemudian MC meminta Kendra untuk memasangkan cincin dijari manis Amanda. Kendra sempat tediam beberapa saat, sangat berat baginya untuk memasangkan cincin pada wanita yang sama sekali tak ia cintai, namun dirinya tak punya pilihan lain, dengan perlahan ia memasangkan cincin tersebut.
Kemudian MC beralih meminta Amanda untuk memasangkan cincin pernikahan di jari manis Kendra, namun rupanya saat Amanda hendak memasangkan cincin tersebut, Kendra masih mengenakan cincin pertunangannya bersama Fay. "Jangan sentuh cincinku!" ucap Kendra menatap tajam ke arah Amanda. "Aku bisa melepasnya sendiri," dengan berat hati ia melepaskan cincin itu dan menyimpannya di sakunya, baru kemudian Amanda memasangkan cincin pernikahan mereka.
Kendra sempat menolak, ketika MC nemintanya untuk mencium kening Amanda, ia berdalih melanggar privasi sehingga Kendra tetap pada pendiriannya untuk tidak mencium Amanda. Tak ingin terjadi perdebatan, Kendra langsung menyerahkan mas kawin berupa 10 gram logam mulia, sesuai dengan permintaan orangtua Amanda.
__ADS_1
Selesai prosesi akad nikah selanjutnya prosesi upacara panggih, mulai dari balang gantal, menginjak sebutir telur ayam mentah, kain sindur berwarna merah dan putih, bobot timbang, minum rujak degan, kacar kucur, dulangan, hingga yang terakhir sungkeman, Amanda berlutut di depan Ibunda Kendra, sedangkan Kendra berlutut di depan Ayahandanya. Ajeng tak bisa berkata apa-apa terhadap Amanda, di satu sisi ia merasa kasihan dengan gadis itu jika memang benar Amanda mengandung cucunya, namun di sisi lain ia tidak bisa menafikan jika dirinya tidak memiliki ikatan batin apa pun ketika kemarin ia sempat memegang perut Amanda, sangat jauh berbeda saat ia mengelus perut Carrisa, menantu dari anak pertamanya.
Kemudian Ammanda dan Kendra bertukaran tempat, Kendra berlutut di hadapan ibundanya. Ajeng tak dapat menahan isak tangisnya, ia memeluk Kendra dengan erat. "Terima kasih telah menjadi anak yang bertanggung jawab, percayalah bahwa kebenaran akan selalu mencari jalannya sendiri," bisik Ajeng.
Kendra mengelus punggung ibundanya dengan lembut, "Maafin Kendra mah, sudah banyak ngecewain mama dan buat mama bersedih," ia menecup kening inundanya dan menghapus air matanya.
Setelahnya Amanda berlutut di depan ibundanya sedangkan Kendra berlutut di depan Danu, ayahanda Amanda. Setelah itu keduanya bertukar tempat.
Acara resepsi di gelar pada hari dan waktu yang sama, tak ada satupun dari teman kantor bahkan keluarga Kendra yang ia undang, 95% tamu undangan yang hadir berasal dari teman dan keluar Amanda, namun sayangnya keluarga besar dari bude Jum tak ada satu pun yang hadir termasuk Ratri kakak kandung bude Jum.
Ratri tengah menjaga dan merawat putri sulungnya yang tengah di rawat di rumah sakit akibat terkena asam lambung dan demam tifoid. Fay memandangi buket bunga yang di kirimkan oleh Kendra, yang di ketakan oleh ibundanya di meja samping tempat tidur Fay. Dalam buket bunga tersebut terdapat kartu ucapan selamat ulang tahun dan doa untuk kesembuhan dirinya. "Kenapa harus 14 Februari, Ken?" bisiknya lirih, Fay menghapus air mata yang kembali menggenang di sudup matanya.
"Sepertinya ini tidak pantas berada di sini," ucap Icha, ia meraih buket bunga pemberian Kendra dan membawanya keluar. "Berhenti membuat kakakku bersedih!!" Icha menghempaskan bunga itu ke dalam tempat sampah, kemudian ia merogoh handphone dalam sakunya dan mengirimkan pesan singkat untuk Kendra.
Jangan ganggu kakakku lagi!!!
__ADS_1
Baginya sudah cukup, ia melihat Fay bersedih dalam dua minggu belakangan ini, ia sangat rindu melihat senyum dan tawa ceria kakaknya. Icha menaruh kembali handphonenya di sakunya, kemudian ia mendongak saat seseorang bertanya kepada dirinya.
"Apa Fay sedang istirahat?" tanya Kevin, seorang dokter bedah saraf yang bekerja di rumah sakit tempat Fay di rawat dan sekaligus tempat Fay melakukan program profesinya.
"Mba Fay sedang ngobrol sama ayah dan ibu," jawab Icha. "Silahkan masuk dok," ia mempersilahkan Kevin masuk ke ruang rawat inap kakaknya.
Sesaat Kevin melirik ke arah bunga yang baru saja di buang oleh Icha, kemudian ia beralih ke keranjang buah yang ia bawa untuk Fay. " Terima kasih," jawab Kevin. "Tapi tolong, nanti buahku jangan kau buang ya." Kevin pun melangkahkan kakinya masuk ke ruang rawat inap Fay, di ikuti Icha dari belakang.
"Assalamualaikum," sapa Kevin pada Fay dan kedua orangtua Fay, ia mencium tangan ayahanda Fay kemudian tersenyum sembari menundukan kepalanya kepada ibunda Fay, dan memberikan buah yang ia bawa.
"Walaikumsalam," jawab kedua orangtua Fay, mereka sempat bingung melihat seorang dokter yang tiba-tiba saja datang memberikan buah dan bersalaman dengannya. Namun kemudian ia menyadari jika putrinya tengah menjalani program profesi di rumah sakit tersebut dan kemudian menduga jika dokter sebut merupakan teman putrinya.
Melihat kedua orangtua Fay yang napak bingng, Kevin pun memperkenalkan dirinya dan menceritakan sedikit tentang petemanannya dengan Fay, setelah Fay ikut serta dalam operasi yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu. Kevin beralih menghadap Fay. "Ada pasien penderita sindrom Marfan, yang akan menjalani operasi dengan prosedur Bentall, apa kamu mau melewatkannya?" tanya Kevin.
Mata Fay langsung berbinar-binar, mendapati tawaran menyaksikan operasi yang terbilang langka itu, ia langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja aku mau ikut, dok."
__ADS_1
"Jadi cepatlah sembuh." ucap Kevin.
Setelah mengobrol hampir tiga puluh menit bersama Fay dan keluarganya, Kevun pun pamit untuk kembali bertugas.