14 Februari

14 Februari
BAB 28


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Fay, orangtua Fay mengajak Kevin makan malam bersama mereka, karena kebetulan hendak makan malam. "Masuk yuk, mas!" ajak Fay.


Kevin mengangguk tanpa ragu menerima ajakan Fay, ia mengikuti Fay masuk ke ruang makan dan duduk bersama kedua orangtua serta adik Fay di meja makan. Mereka menikmati makan malam sembari mengobrol dengan santai. "Jadi tadi bagaimana operasinya?" tanya ayahanda Fay kepada Kevin dan putri sulungnya.


Kevin dan Fay saling beradu pandangan, keduanya sama-sama saling memberi kode untuk menjawab pertanyaan ayahanda Fay. Fay merasa Kevin jauh lebih berhak menjawab pertanyaan tersebut sebab Kevin lah dokter penanggung jawabnya, sementara Kevin justru mengingkan Fay yang menjawabnya untuk mengetahuin sejauh mana Fay mengerti akan operasi yang baru saja berlangsung, serta ia ingin mengetahui perasaan Fay mengenai jalannya operasi tadi.


"Jadi bagaimana operasinya?" ulang Adikara.


"Alhamdulillah lancar, yah."


"Alhamdulillah lancar, om."


Jawab mereka berdua secara bersama-sama, hingga keduanya menjadi salah tingkah. Ratri dan Icha yang duduk di hadapan Kevin dan Fay,tersenyum melihat tingkah keduanya.


Fay berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Tapi pasien masih harus rawat di ruang ICU selama 2-3 hari, betulkan mas?" tanya Fay menoleh ke arah Kevin.


Kevin mengangguk. "Iya, untuk memantau perkembangan hasil operasinya, jika tidak ada masalah, baru bisa di pindahkan ke ruang rawat inap," lanjut Kevin.


"Kamu beruntung ya Fay, bisa ikut serta dalam operasi ini. Setahu ibu sindrom marfan ini cukup langka loh!" ucap Ratri.


"Ya Sindrom ini di perkirakan menyerang 1 dari 10.000 hingga 20.000 individu di dunia," ujar Kevin. "Bisa dikatakan, jika salah satu orang tua mengalami sindrom marfan, sang anak kemungkinan akan memiliki risiko mengalami kondisi yang sama sekitar 50%. Lalu sekitar 25% penderita sindrom marfan mewariskan gen abnormal dari kedua orang tuanya."

__ADS_1


Icha mengangguk mendengar penjelasan yang di sampaikan Kevin. "Ooh jadi karena gen penyebabnya?"


Kevin meneguk air putih, kemudian menaruh kembali gelasnya di atas meja dan tatapannya beralih ke arah Icha. Sindrom ini bisa disebabkan juga oleh cacat pada gen yang bekerja untuk memproduksi protein fibrilin," jawab Kevin "Jika gen FBN1 ini bermasalah, tentunya produksi protein fibrilin akan terganggu hingga mengakibatkan jaringan ikat elastis menurun dan pertumbuhan tulang menjadi tidak terkontrol."


"Pada kasus yang baru saja kami tanganani tadi pagi, dari ujung rambut hingga kaki pasien, mengalami mutasi atau kelainan (connective tissue disorder). Seluruh organ tubuhnya melebar. Jari-jari tangannya besar dan panjang, tingginya pun menjulang hingga mencapai 196 sentimeter. Bahkan, pembuluh darah aorta pasien melebar sampai terjadi kebocoran, untuk itulah kami langsung mengambil tindakan operasi karena pasien mengeluhkan sesak."


Kevin memiliki daya tarik tersendiri ketika tengah menjelaskan sesuatu, hingga terkadang Fay terlarut pada semua kharisma yang terpancarkan dari wajah Kevin. "Apa masih ada yang belum kamu mengerti?" tanya Kevin, seketika membuyarkan lamunan Fay.


"Eh.." Fay menggeleng. "Tidak," ujarnya gugup. "Aku hanya sedang berpikir, tidak terasa sudah lebih dari setahun aku menjalani co-***, beberapa bulan lagi aku akan mengikuti Ujian Sertifikasi." Fay menatap Kevin. "Terima kasih ya mas, sudah banyak membantuku selama ini."


Dulu, dunia Fay seakan hanya berputar di Kendra, samapai-sampai ia baru menyadari jika banyak hal yang sudah ia lewatkan selama ini, terutama teman-teman terbaik yang selalu membantunya, termasuk Kevin.


Kevin tersenyum membalas tatapan Fay. "Kalau kamu tidak keberatan, aku akan menemanimu belajar sampai kau diwisuda dan mengikrarkan Sumpah Dokter."


Menjelang pukul 21.00 malam, Kevin pamit dari kediaman Fay. Kevin di antar oleh Fay dan ayahnya sampai ke pintu depan, ia nampak ragu saat hendak melangkahkan kakinya keluar, Kevin kembali berbalik menghadap Fay dan ayahnya. "Om, hari sabtu nati aku libur. Apa boleh aku mengajak Fay keluar?"


Adikara tak terkejut mendengar pertanyaan Kevin, sejak awal ia sudah menduga jika Kevin tengah berusaha mendekati putrinya. "Kok tanya om?" tanya Adikara kepada Kevin dengan nada gurauan. "Tanya dong sama Faynya, kalau om sih mengizinkan asal kau menjaganya dengan baik, tidak berbuat macam-macam dan tidak pulang larut malam."


"Hanya ke panti saja kok om, makan malam bersama anak-anak dan sedikit mengajari anak-anak ilmu medis untuk menjaga kesehatannya," jawab Kevin.


"Kalau begitu tanya sendiri sama Faynya," Adikara melirik ke arah putrinya yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Bagaimana Fay?"


Fay tersenyum simpul sembari mengangguk. "Iya mas."


Kevin tak dapat menyembunyikan raut wajah bahagianya, ia meraih tangan Adikara kemudian menyalaminya. "Aku permisi dulu om, Assalamualaikum." ia beralih ke Fay melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan kediaman Fay.


Setelah mobil Kevin tak terlihat, Fay dan Adikara kembali masuk ke kediaman mereka. Fay langsung berlari ke kamarnya tak sabar membuka hadiah pemberian Kevin. "Wooow," teriak Fay girang, ia mendapatkan stetoskop littmann cardiology IV dari Kevin.


"Bukankah itu stetoskop yang kamu minta kemarin?" tanya Ratri balik pintu, ia berjalan masuk ke kamar Fay, di ikuti Icha di belakangnya. "Waahh keren banget mba Fay," ujar Icha. "Dokter Kevin baik banget ya mba, pintar dan ganteng lagi, lebih ganteng dari si..." Icha enggan menyebutkan nama Kendra.


"Apaan sih kamu, ganteng itu relatif. Kepintaran juga sama, semua orang pintar dalam bidangnya masing-masing," ucap Fay seakan tak mau Kendra di bandingkan oleh siapa pun, Fay merasa mau bagaimana pun Kendra pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.


Ratri duduk di sebelah putri sulungnya. "Fay," ia menatap Fay lekat-lekat. "Ibu melihat Kevin menaruh hati padamu. Jangan sampai kamu memberikan harapan palsu kepadanya, apa lagi hanya menjadikannya pelarian atas rasa sakitmu terhadap Kendra atau memanfaatkan kebaikan dia. Jika kamu merasa belum siap menerima orang baru, batasi pertemanmu dengannya."


Fay mengerti apa yang di maksud oleh ibundanya, ia hanya mengikuti alur yang ada sembari mengenal Kevin lebih dalam, agar tidak di khianati untuk kedua kalinya. "Iya bu, aku mengerti. Aku tidak pernah ada niatan memanfaatkan kebaikan Kevin."


Ratri menepuk bahu Fay dengan lembut. "Ibu percaya padamu nak, ya sudah kamu istirahat gih, sudah malam besok kan harus ke rumah sakit lagi." Ratri mengajak putri bungsunya keluar dari kamar Fay. "Kamu juga istirahat, besok kuliah."


"Bobo sama ibu ya," pinta Icha dengan manja.


Ratri memukul lengan putri bungsunya. "Sudah gede, bobo sendiri di kamarmu."

__ADS_1


"Kangen buuuu, kan sebentar lagi aku KKN," bujuknya. "Boleh ya bu..."


Ratri menggandeng tangan putri bungsunya menuju kamarnya. "Yo wis yuk!"


__ADS_2