14 Februari

14 Februari
BAB 47


__ADS_3

"Silahkan masuk, Pak Kendra," Alvin, suami dari Widya yang akan mendonorkan ASInya untuk Lily, ia merupakan kerabat dekat dari suami Luna. "Saya dan keluarga turut berduka cita atas kepergian istri pak, Kendra."


"Terima kasih, pak Alvin." Kendra pun masuk ke rumah Alvin sembari memberikan buah tangan yang ia bawa khusus untuk Alvin dan keluarganya.


"Pak Kendra tidak perlu repot-repot datang kemari apa lagi sampai membawakan ini untuk kami. Kami hanya meminta data diri pak Ken dan Lily hanya untuk jaga-jaga jika suatu saat putra kami dekat dengan anak bapak, karena kita tidak pernah tahu kedepannya anak-anak kita tumbuh dan bergaul dengan siapa."


Kendra mengangguk setuju, ia sama sekali tak keberatan dengan persyaratan yang di ajukan oleh Alvin. "Maaf, anakku baru lahir beberapa jam yang lalu, jadi baru ada surat keterangan lahir dari rumah sakit." ia memberikan fotocopy kartu identitasnya dan fotocopy surat keterangan lahir dari rumah sakit.


"Tidak apa-apa pak Ken, ini saja sudah cukup." Alvin membacanya dengan teliti. "Kalau begitu tuggu sebentar ya pak Ken, aku ambilkan dulu ASInya di kulkas." ia bergegas mengambil beberapa kantong ASI, kemudian memasukannya ke cooler bag, lalu ia kembali lagi ke ruang tamu menemui Kendra.


"Di sini sudah ada tanggal dan jam kapan ASI ini di ambil, jadi Insyaallah masih fresh." Alvin memberi tahukan cara-cara menghangatkan ASI dan batas waktu pemberikan ASI.


Setelah di rasa cukup jelas dengan penjelasan dari Alvin, Kendra pamit untuk segera ke rumah sakit menyusul putri kecilnya. "Sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikan pak Alvin dan istri."

__ADS_1


"Sama-sama pak Ken, Alhamdulillah stok ASI istri saya berlimpah jadi kami juga senang bisa membaginya kepada Lily, semoga Lily lekas keluar dari rumah sakit." Alvin mengantar Kendra hingga ke mobilnya. "Jangan segan-segan kabari kami jika ASInya sudah habis, kami akan mengirimkan untuk Lily."


"Baik, pak Alvin terima kasih banyak. Saya pamit, Assalamualaikum." Kendra melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kendra melihat keluarga Amanda, termasuk Fay sudah berada di depan ruang NICU. Kendra mengabaikan keluarga Amanda yang terlihat ingin bicara dengannya, ia memilih untuk langsung menemui dokter yang berjaga di ruang NICU guna memberikan ASI yang ia bawa sekaligus menanyakan kondisi putrinya.


Kendra bernapas lega karena tidak ada masalah dengan organ vital pada putri kecilnya, bahkan dokter mangatakan jika tidak ada masalah, Lily sudah bisa keluar dari ruang NICU dalam waktu dua sampai tiga hari ke depan.


Setelah memberikan banyak keterangan mengenai prosedur perawatan di NICU, dokter mempersilahkan Kendra untuk melihat putrinya.


"As soon as I saw you I knew a grand adventure was about to happen. Are you ready baby?"


Lily menggerakan tangannya seolah ia mendengar dan mengerti apa yang Kendra katakan. "Oh so cute.." Kendra semakin gemas melihat putrinya mengulet atau meregangkan tubuhnya hingga wajahnya memerah. "Tadi dokter bilang ke daddy, jika tiga hari lagi kamu bisa pulang. Kamu bisa tidur di kamarmu yang sangat indah, yang sudah mommymu siapkan khusus untukmu." ia mengelus tangan lembut putrinya.

__ADS_1


Lily menggenggam erat jari telunjuk Kendra saat perawat mengatakan jam kunjungan sudah habis. "Daddy tidak akan pergi kemana-mana, sayang. Daddy akan menunggumu di luar sampai kamu pulang." Perlahan ia melepaskan tangan Lily yang menggenggam jemarinya, rasanya ia pun tak tega meninggalakan putrinya, namun apa daya ia harus mematuhi peraturan rumah sakit. "Ayah tunggu di luar ya sayang, Assalamualaikum."


Begitu keluar dari NICU, ibu mertuanya langsung memintanya untuk duduk di ruang tunggu bersama keluarganya yang lain. Kendra melihat satu persatu orang-orang yang telah menunggunya di ruang tunggu termasuk kedua orangtuanya.


"Kendra, bukankah kamu tahu jika kandungan Amanda bermasalah? Mengapa kamu nekat membawa Amanda ke Puncak? Apa kamu tidak berpikir resiko perjalanan jauh yang ia tempuh? Atau kamu memang sengaja mau mencelakainya?" tanya ibu mertuanya dengan nada tinggi seolah tengah menghakiminya.


Kendra menghela napas beratnya mendengar semua tuduhan yang di alamatkan kepadanya, sebenarnya ia enggan menanggapi ibu mertuanya. Hati, pikiran dan tubuhnya sangat lelah, namun melihat kedua orangtuanya yang nampak tidak terima dengan tuduhan tersebut akhirnya Kendra buka suara, ia tak ingin ada keributan di antara kedua keluarga terlebih saat ini posisi mereka berada di rumah sakit.


"Sebelum berangkat kami sudah memeriksakan kondisi kandungan Amanda, aku bahkan sudah berkonsultasi mengenai tempat yang akan di tuju untuk foto maternity. Semuanya sudah atas persetujuan dokter." Kendra mengambil buku KIA, memperlihatkan hasil pemeriksaan kandungan Amanda. "Jika kemari terjadi sesuatu pada kandungan Amanda, itu sungguh di luar kuasaku. Aku sama sekali tidak pernah ada niatan buruk terhadap istriku, justru aku ingin memberikan moment terindah saat ia mengandung."


Ajeng beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ruang NICU untuk meminta perawat membuka tirai jendela. "Terima kasih," ucap Ajeng kepada perawat yang bertugas, ia kembali lagi ke ruang tunggu mengajak keluarga Amanda untuk bersama-sama melihat Lily. "Kalian lihatlah bayi ini!" ucap Ajeng. "Lihatlah kulit putih, rambut pirangnya..." Lily membuka matanya, seolah memperlihatkan mata birunya. "Dan mata biru itu," lanjut Ajeng.


Ajeng terpakasa menyalakan handphonenya dan memutar rekaman pengakuan Amanda yang telah menjebak Kendra agar mau menikahinya, agar anaknya memiliki legalitas dan tidak mendapat cemoohan orang. "Sudah lama kami tahu bahwa bayi dalam kandungan Amanda bukan anak kandung Kendra, tapi anakku memilih untuk bertanggung jawab atas bayi yang di kandung Amanda. Anakku menyayangi Lily seperti anak kandungnya sendiri." Ajeng menatap bu Jum dengan tatapan tajam. "Kita sama-sama tahu siapa yang sesungguhnya ingin menyingkirkan Amanda karena tak rela membagi harta warisnya kepada Amanda." Ajeng kembali memutar rekaman percakapan saat secara tak sengaja, Ajeng memergoki bu Jum tengah memaki Amanda.

__ADS_1


Fay membekap mulutnya dengan kedua tangannya, mendapati fakta bahwa Lily bukanlah anak kandung Kendra, melainkan anak hasil pemerko*aan, dan Amanda dengan sengaja telah menjebak Kendra. Dan fakta yang terakhir adalah Amanda bukan anak kandung budenya. 'Jadi benar apa yang di katakan Kendra dulu, anak itu itu bukan anaknya.' gumam Fay, ia merasa bersalah karena sempat tak mempercayai Kendra, ia pun tak memberikannya kesempatan untuk membuktikan bahwa Kendra tak bersalah.


Fay mundur beberapa langkah dari keluarganya yang masih berdebat dengan keluarga Kendra, ia pergi meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2