
Sesuai kesepakatan bersama teman-temannya beberapa hari lalu, Kendra dan teman-temannya mengadakan sebuah party untuk merayakan keberhasilan tim mereka. Namun tak seperti biasanya, party kali ini di adakan di apartement Luna.
Ray nampak tercengang melihat apartement mewah milik Luna, semua terlihat putih bersih dan terdapat banyak jendela besar, bak sebuah istana megah di negeri dongeng. "Apartement loe keren banget, Lun," ujar dengan penuh kekaguman. "Kalo loe punya apartement semewah ini, ngapain loe kerja?"
Ray berfikir jika gaji sebesar 25 juta/perbulan, yang di dapatkan Luna di kantor mungkin hanya cukup untuk membayar para asisten rumah tangganya saja.
"Ini apartement suami gue," jawabnya. "Semua fasilitas mulai dari listrik hingga gaji ART, dia semua yang bayar." Luna mempersilahkan teman-temannya untuk duduk di ruang tamu dan menikmati semua hidangan yang telah di siapkan oleh asistennya. "Gue kerja cuma buat mencari kesibukan dan mengisi waktu luang."
Ray dan yang lainnya mulai menikmati hidangan yang di sajikan. "Suami loe kan pelaut? Kenapa loe enggak ikut aja sih? Kan enak bisa keliling dunia," tanyanya sembari menyesap shampain di tangannya.
Seketika Bela langsung menyikut pinggangnya, ia melotot dan berbisik "Loe ngapain nanya gituan, ngerusak suasana aja deh."
"Iya, iya maaf. Kan gue enggak tahu," elaknya.
"Enggak apa-apa kok," Luna mencoba melerai pertengkaran Bela dan Ray. "Dulu waktu awal-awal menikah, gue memang ikut kemana pun dia pergi. Tapi setelah kami mencoba menjalani program kehamilan, dia melarang gue untuk ikut." Sekilas Luna menundukan kepalanya, namun kemudian ia tersenyum menutupi kesedihannya.
Luna mengambil botol shampain dan berbalik menghadap Kendra. "Minum lagi, Len." ia menuangkannya ke dalam gelas Kendra.
Tak ingin acara partynya menjadi sesi drama curhat rumah tangga yang mengharu biru, Angga mengajak teman-temannya bermain poker. "Loe punya kartunya kan, Lun?"
Luna mengingat-ingat, jika dulu saat suaminya libur, ia pernah mengajak teman-temannya bermain poker di kediamannya. "Kayanya ada," ujarnya. "Sebentar aku cari dulu ya!" ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Melihat Luna telah meninggalkan ruang tamu, Angga mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah teman-temannya. "Udah deh enggak usah bahas-bahas masalah rumah tangga, kita kan ke sini mau seneng-seneng."
"Tau nih, Ray. Ngapain sih nanya-nanya tenatang suaminya Luna," sambung Bela.
__ADS_1
Ray menjadi merasa bersalah karena telah merusak suasana party, "Iya, iya gue udah enggak nanya-nanya lagi"
Di tengah obrolannya bersama dengan teman-temannya, tiba-tiba saja Fay menghubungi Kendra. Kendra hanya memandangi handphonenya, di satu sisi ia ingin menjawab panggilan itu dan sedikit berbincang dengan kekasihnya, namun karena suara musik yang sangat kencang, Kendra mengurungkan niatnya, ia tak ingin Fay curiga.
"Kok ga di angkat sih, Ken?" Luna sudah kembali dan duduk di samping Kendra. "Nanti dia ngambek lagi loh," ia menaruh setumpuk kartu poker dia tas meja. "Nih kartunya, tapi gue enggak ikut main ya. Gue enggak bisa."
"Yah kok enggak sih Lun?" tanya Bela dengan nada kecewa. "Ia kenapa loe enggak ikut main?" sambung Ray.
"Gue barengan sama Ken aja, sekalian minta di ajarin," Luna menatap Kendra. "Loe enggak keberatan kan, Ken?"
Kendra menggeleng. "Enggak kok, tapi gue enggak jago-jago banget sih. Cuma bisa sedikit." Seingatnya baru satu kali ia bermain poker bersama teman-teman di kantor lamanya, dan dari tiga putaran permainan tak ada satu kali pun ia memenangkan permainan tersebut.
Luna beranjak ke pangkuan Kendra, ia menyandarkan kepalanya di dada Kendra. "Aku punya firasat jika kita akan menang."
"Loe yakin mau buang kartu ini?" Luna menunjuk kartu gambar 10 hati.
Kendra mengangkat bahunya. "Ya kita coba saja." ia menaruh kartu tersebut di atas meja kemudian menukarnya dengan kartu baru. Kendra tersenyum saat melihat kartu barunya bisa melengkapi kombinasi kartu yang masih di tangannya.
"Wow, kartumu sempurna Ken," ujar Luna. "Aku yakin kita pasti menang." ia tersenyum sembari menyesap shampain.
Berbeda halnya dengan Bela, ia menyadari bahwa kombinasi kartu yang ia miliki lemah, tidak sepadan dengan nilai taruhannya sehingga memilih untuk mundur dari permainan.
Dan benar saja ketika sesi membuka kartu, kartu milik Kendra lah yang memiliki kombinasi sempurna. "Kita menang, Ken," ujar Luna bahagia, ia mengecup bibir Kendra kemudian mengajaknya bersulang, untuk merayakan kemenangan mereka.
Entah sudah berapa gelas shampain yang Kendra dan teman-temannya minum, yang jelas mereka sudah hampir kehilangan kesadaran termasuk Kendra, mereka menghentikan permainan, sementara Luna semakin bergelayut manja di tubuh Kendra, keduanya tak hentinya saling memagut bibir satu sama lain. "Ken, kita lanjut di kamar saja yuk!" ajaknya, ia meraih tangan Kendra dan menariknya menuju kamar.
__ADS_1
Kendra yang sedari tadi sudah berada di puncak gairahnya, langsung mengangguk, menerima ajakan Luna. Kendra beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Luna. Seakan tak sabar ingin menikmati tubuh sexy Luna, Kendra membopong tubuh Luna. "Dimana kamarmu?" tanya Kendra.
Luna menunjuk ke salah satu kamar tamu yang berada di lantai satu apartementnya "Di sana, Ken."
Tanpa membuang waktu, Kendra mempercepat langkahnya masuk ke kamar yangndi tunjuk oleh Luna. Ia menurunkan Luna tepat ketika Kendra menutup pintu kamar dengan bahunya.
Kendra mendesak Luna ke pintu, kemudian menyambar kedua pergelangan tangan Luna yang di jepitnya di atas kepala Luna, dan kembali mencium bibir sexy Luna. Luna mengerang karena desakan lidah Kendra dan menikmatinya dalam pelukan hangat Kendra.
Rasa panas mendesis di sepanjang pembuluh darah Kendra, napasnya keluar masuk di sela-sela bibir dan begitu intim. Tangan Luna bergerak tak berdaya di antara tubuh mereka, menggapai kain kemeja Kendra, mencengkeram bahu dan leher Kendra, lalu merem*s rambutnya yang tebal.
Kendra melepaskan ciuman dan menyusurkan kecupan di rahang Luna, sembari melepaskan seluruh pakaian Luna, menyisakan pakaian dalamnya saja. Gesekan bibir Kendra menyengat hingga ke pusat tubuh Luna dan ia mengerang menikmati sensasi yang belum pernah suaminya berikan kepadanya.
Mendengar erangan Luna yang semakin memanas, Kendra menarik tubuh Luna ke atas tempat tidur sembari melepaskan pakaian dalam Luna, sementara tangan Luna melepaskan pakaian Kendra.
Saat Kendra hendak memasukan tubuhnya, sekelebat ia melihat wajah Luna berubah menjadi wajah kekasihnya, hingga kesadaran Kendra pun langsung pulih. "F-fay..." Kendra menjatuhkan keningnya di bahu Luna. "Maaf Lun, gue enggak bisa."
"Loh kenapa Ken?" tanya Luna heran bercampur kecewa. "Gue enggak akan minta pertanggung jawaban apa pun ke loe."
Kendra menggelengkan kepalanya. "Kita sudah terlalu jauh mengkhianati pasangan kita masing-masing."
"Ken.."
Kendra mengacungkan tangannya, seraya berkata. "Gue enggak tahu apa masalah loe sama suami loe," ucapnya. "Tapi yang jelas, apa pun itu tak lantas loe mengkhianatinya, selesaikanlah masalah loe dengannya. Dan gue, gue enggak seharusnya mengkhianati cewek yang udah nemenin gue selama ini."
Kendra memungut pakaiannya, dengan cepat ia mengenakannya kembali. "Sorry, Lun. Hubungan kita sampai di sini." ia pergi dari kediaman Luna.
__ADS_1