
Kendra terkejut saat mendapati Amanda tengah tertidur di sebelahnya tanpa mengenakan pakaian. "Astaga, Amanda!!" ucap Kendra, sembari melepas tangan Amanda yang melingkar di pinggangnya.
Amanda tebangun ketika Kendra menyingkirkan tangan dan mendorong tubuhnya "Hmmm... Ada apa sih mas?" tanyanya dengan santai sembari mengucek mata, dan mengumpulkan kesadarannya.
"Ada apa kamu bilang?" Kendra mulai meninggikan nada bicaranya. "Mau apa kamu ada di kamarku? Bukankah sudahku katakan kalau kamu butuh sesuatu ketuk pintu kamarku, bukan menyelinap masuk apa lagi tidur di tempat tidurku!!" bentak Kendra, rasanya ia sudah tidak tahan tinggal seatap dengan Amanda.
Amanda hanya menundukan kepalanya, ia tak berani menatap Kendra setiap kali Kendra memarahi dirinya. "Aku tidak bisa tidur, aku hanya ingin tidur bersama suamiku," ucapnya lirih.
Kendra beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah lemarinya untuk mengambil pakaian kerjanya. Ia menutup lemari pakaiannya, lalu ke arah Amanda. "Amanda berhentilah berpura-pura! Kita sama-sama tahu jika anak yang kau kandung bukanlah anakku."
Kilatan kemarahan terpancar jelas di sorot matanya. "Aku mau menikahimu karena aku sama sekali tak memiliki bukti, tapi begitu anak itu lahir, aku yang akan menuntutmu balik." Kendra membanting pintu kamarnya dan pergi meninggalkan apartementnya, ia memilih untuk mandi di kantor dari pada berlama-lama berada di apartementnya.
Sebenarnya malam itu Kendra enggan untuk pulang ke apartemennya dan berniat bermalam di kediaman Angga, namun karena ada dokumen kantor yang tertinggal di kamarnya, terpaksa Kendra pulang ke apartementnya.
Saat hendak masuk ke lift, tak sengaja Kendra tertabrak oleh kereta bayi. "Tunggu, jangan di tutup dulu liftnya!" ucap wanita yang mendorong kereta itu.
Kendra menahan tangannya untuk menekan tombol lift, ia menatap wanita yang tengah mendorong kereta bayi masuk ke lift. "Luna?" Setelah Luna dan bayinya masuk barulah ia menutup pintu lift.
Sama halnya dengan Kendra, Luna pun terkejut berpapasan dengan Kendra. "Kendra, kamu tinggal disini?"
Kendra mengangguk, "Ya, aku tinggal di sini," ucapnya. "Apartement ini cukup bagus jadi aku membeli satu unit di lantai 16." mata Kendra tertuju pada kereta bayi di hadapan Luna.
Luna tersenyum sumringah. "Ini malaikat kecilku," ia tahu jika Kendra ingin menanyakan soal anaknya. "Tapi sayangnya dia sedang demam, karena perubahan cuaca jadi tadi aku bawa ke dokter." ia membuka penuntup kereta bayinya. "Apa kamu mau melihatnya?"
__ADS_1
Kendra melongok ke dalam kereta bayi, ia melihat bayi laki-laki yang sangat menggemaskan sedang menendang-nendang selimut sembari tertawa dan mengangkat tangangkat tangannya. "Siapa pria tampan ini?" tanya Kendra, ia mengelus pipi chubby Gavin.
"Gavin," jawab Luna.
"Apa boleh aku menggendongnya?"
Dengan senang hati Luna mempersilahkan Kendra untuk menggendong putranya. "Tentu saja."
Dengan sangat hati-hati Kendra menggendong Gavin, ia menaruh Gavin di pundaknya. Gavin terlihat nyaman berada dalam gendongan Kendra, sampai-sampai Gavin menggenggam kemeja Kendra.
"Sepertinya dia sedang rindu dengan daddynya," ucap Luna. "Padahal baru dua hari di tinggal kerja. Gavin begitu dekat dengan daddynya sehingga agak rewel saat di tinggal."
Kendra mengelus Gavin dengan penuh kasih sayang. "Aku akan mengantar kalian sampai ke unit apartementmu."
Kendra menghembuskan napas beratnya. "Aku dan Fay batal menikah," Kendra tertunduk, rasanya masih terlalu sakit jika mengingat kandasnya kisah asmaranya bersama Fay lantaran dirinya harus menikah dengan Amanda.
"Yang benar?" tanya Luna sekana tak percaya. "Jadi itu alasanmu membatalkan acara gala dinner?"
Kendra mengangguk lemah, ia tak hanya mengundang teman-teman kantornya, tapi juga mengundang Luna dan keluarganya dalam acara gala dinner yang ia buat untuk selamatan sekaligus memperkenalkan Fay pada teman-temannya, namun acara tersebut terpaksa ia batalkan meski ia sudah menyebar undangan.
"Tapi kenapa Ken? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Luna sembari membuka pintu apartementnya, ia mempersilahkan Kendra masuk.
"Aku harus menikahi wanita lain."
"OH MY GOD KENDRA..."
__ADS_1
Sssstttt, Kendra menaruh jari telunjuknya di bibir Luna. "Gavin baru saja tidur," ia membalik tubuhnya memperlihatkan kepada Luna jika putranya tengah tertidur di bahu Kendra. "Di mana kamarnya?"
"Di sana," Luna langsung mengarahkan Kendra masuk ke kamar putranya. "Baringkan saja di sini," Luna menepuk kasur bayi, milik putranya.
Perlahan Kendra membaringkan Gavin di atas tempat tidur, ia memandangi Luna menyelimuti Gavin dan menyalakan aroma terapi. Kendra sangat salut melihat Luna yang terlihat sangat menyayangi Gavin meski bukan anak kandungnya sendiri.
"Malaikat kecilku sangat tampan dan menggemaskan bukan?" tanya Luna pada Kendra.
Kendra mengangguk setuju. "Hidungnya mirip denganmu."
"Sebenarnya dia jauh lebih mirip dengan suamiku, mungkin itu yang di namakan jodoh. Jodoh bukan selalu mengenai pasangan, tapi seorang anak yang di takdirkan untuk melengkapi keluarga kami itu juga bisa di ebut jodoh," ucap Luna, ia menoleh ke arah Kendra. "Apa kamu mau bercerita denganku?"
Luna mengajak Kendra kembali ke ruang tamu, ia dan Kendra mengobrol dengan santai sambil menikmati soft drink dan makan ringan. "Jadi siapa wanita yang kamu nikahi?" tanya Luna mengawali obrolan mereka.
Kendra berdeham sebelum ia menjawab pertanyaan Luna. "Namanya Amanda,dia adik sepupu Fay."
Luna membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Kendra... Kau jahat sekali," Luna tak percaya jika Kendra menikahi adik sepupu Fay.
"Dengarkan aku dulu, Luna!!" Kendra mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan Amanda, hingga alasan mengapa ia menikah dengan Amanda. "Aku yakin sekali jika bayi dalam kandungan Amanda bukanlah anak kandungku."
Luna menghembuskan napas pelan, ia sangat mengerti dengan apa yang Kendra rasakan, namun ia memiliki pandangan yang berbeda. "We never know, karena saat itu kamu pun sedang dalam kondisi tidak sadar," Luna meraih tangan Kendra dan menggenggamnya. "Kita memiliki beberapa kemungkinan. Yang pertama, anak itu adalah anakmu, yang kedua dia bukan anakmu namun ayahnya tidak mau bertanggung jawab, karena jika ayahnya mau bertanggung jawab tentu Amanda tidak akan menjebakmu."
Luna meminta Kendra untuk menatapnya. "Ken, tapi satu hal yang pasti anak itu tidak bersalah. Aku pernah baca sebuah artikel jika wanita hamil dalam keadaan stres maka akan mempengaruhi janin yang di kandungnya. Anakmu atau bukan yang pasti kondisi psikis Amanda sedang tidak baik-baik saja. Berbuat baiklah untuk anak itu, minimal sampai anak itu lahir. Karena jika dia memang anakmu, berarti kamu telah menyelamatkan anakmu sendiri, dan jika dia bukan anakmu kamu telah menyelamatkan malaikat kecil yang tak berdosa."
Luna menahan air matanya, ia menceritakan saat ia bertemu dengan Gavin, bayi itu memiliki berat badan rendah dan memiliki daya tahan tubuh lemah, kemungkinan besar di akibatkan kondisi sang ibu mengalai stres saat mengandung. "Andai aku bertemu dengan ibunya Gavin saat tengah mengandung Gavin, tentu aku akan memeluknya dan ikut merawatnya agar Gavin bisa lahir sehat, namun sayangnya hingga kini aku sama sekali tak tahu di mana keberadaannya. Please Ken, jaga anak itu sampai dia lahir, setelah itu kamu bisa memutuskan langkah selanjutnya."
__ADS_1