14 Februari

14 Februari
BAB 17


__ADS_3

Kendra terbangun oleh sinar matahari yang menyusup melalui celah kaca jendela kamar hotelnya, ia memegang kepalanya yang terasa sangat berat, sembari merotasikan bola matanya melihat sekeliling yang nampak asing pada ruangan di mana ia berada.


"Astagfirullahaladzim," Kendra terperanjat ketika melihat sosok wanita tak mengenakan pakaian tengah tertidur sembari memeluk tubuhnya, ia pun langsung menyingkap selimut yang menutup tubuhnya. "Tidak mungkin," Kendra menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya jika dirinya dan Amanda tak mengenakan sehelai benang pun.


Kendra mendorong tubuh Amanda menjauh darinya. "Ini tidak mungkin terjadi," ia mengingat-ingat kejadian semalam. "Arrrgghh..." Kendra sama sekali tak ingat apa-apa, yang ia ingat dirinya hanya minum dua gelas champagne yang di berikan oleh Amanda, kemudian kepalanya terasa berat dan....


"Hoaaamp"


Amanda yang mulai terbangun mengucek-ngucek matanya, ia tak kalah terkejutnya melihat dirinya tengah berada di kamar hotel bersama Kendra. "Mas Kendra!!" teriaknya, ia menyingkap selimut yang menutup tubuhnya. "Oh my God, apa yang sudah Mas Kendra lakukan kepadaku?" ia menarik kembali selimut tersebut hingga menutup seluruh tubuhnya dan memeluk selimut itu dengan erat.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sudah kamu lakukan?" bentak Kendra, ia menatap tajam ke arah Amanda "Mengapa aku bisa ada di sini bersamamu?"


Amanda tersentak mendengar bentakan dan teriakan yang keluar dari mulut Kendra, tubuhnya gemetar dan buluran-buliran bening mulai jatuh ke pipinya. "A-ku tidak tahu Mas," jawabnya di sela isakan tangisnya. "Yang aku ingat, kita sama-sama mabuk saat pesta tadi malam dan kamu membawaku kemari. Kamu melakukan...."


"Aku tidak akan mabuk hanya karena dua gelas champagne yang aku minum!!" ucap Kendra dengan tegas, ia ingat betul ketika dirinya sering menemani Luna minum, ia bisa menghabiskan lima gelas champagne sekaligus dan itu sama sekali tak membuatnya hilang kesadaran, ia masih bisa mengendalikan dirinya.


Kendra memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, kemudian dengan cepat ia mengenakannya. "Aku yakin, ini pasti ada yang tidak beres," ia mengenakan sepatunya dan bergegas turun ke ruang resepsionis untuk mengetahui siapa yang telah mereservasi kamar hotelnya.


Alangkah terkejutnya Kendra, saat sang resepsionis mengatakan bahwa Kendra-lah yang memesan kamar hotel tersebut tadi malam, dengan bukti keberadaan kartu identitas Kendra di dalam database resepsionis. "Tidak mungkin, ini pasti ada kesalahan," ucap Kendra sembari memandangi kartu identitasnya, ia sama sekali tak ingat jika dirinya telah melakukan reservasi kamar hotel.


Tak puas dengan bukti kartu identitasnya yang berda di ruang resepsionis, Kendra meminta rekaman CCTV untuk menyakinkan jika benar-benar dirinyalah yang telah memesan kamar hotel tersebut, namun sayangnya sang resepsionis mengatakan jika CCTV tadi malam sedang dalam perbaikan, sehingga tidak ada rekaman apa pun.


'Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam.'

__ADS_1


"Maaf pak Kendra, ada telepon dari ruang kamar bapak," sang resepsionis mengulurkan gagang telepon pada Kendra.


Kendra pun menerima dan menempelkannya di telinga, terdengar suara isak tangis Amanda dari seberang telepon.


"hiks... Mas Kendra dimana? Mas Kendra jangan pergi, aku takut.." ucap Amanda.


"Tunggulah, akan kembali ke atas," Kendra menyerahkan kembali gagang telepon tersebut pada sang petugas resepsionis, kemudian dengan langkah gontai ia kembali ke kamar hotel untuk menemui Amanda.



Kendra bolak-balik di kamar hotel, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar, ia menatap lekat-lekat wajah Amanda. "Amanda dengarkan aku!!" pintanya dengan wajah serius. "Apa yang terjadi tadi malam itu hanyalah sebuah kecelakaan, aku sama sekali tak ingat apa-apa, jadi aku mohon padamu jangan beritahu siapa pun. Siapa pun!! apa lagi Fay."


"Lalu apa yang harus aku katakan pada ibu?"


"Tapi Mas, kamu sudah mengambil..." Amanda membuka selimut yang menutup tempat tidur, ia memperlihatkan bercak darah pada seprai tempat mereka tidur semalam. "Keperawan*nku."


Kendra semakin frustasi di buatnya, di satu sisi ia seperti pria brengsek yang telah merenggut keperawan*n seorang gadis namun di sisi lain ia masih sangat yakin jika dirinya tak berbuat apa-apa. Ia berjalan mendekat ke arah Amanda dan duduk di hadapannya. "Amanda, berhentilah menangis. Kita harus menyelesaikan ini." ia meminta Amanda untuk menatap matanya.


"Mungkin ini terdengar jahat dan tidak adil untukmu, tapi sungguh aku sama sekali tak ingat apa-apa, aku juga tidak merasa berbuat apa-apa. Jadi tolong lupakan masalah ini, anggap ini tak pernah terjadi."


Tangis Amanda kian pecah. "Huhu... Kamu jahat Mas.." Amanda memukul dada Kendra.


Kendra membiarkan Amanda memukulnya sepuasnya, kemudian merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Maaf aku tidak bisa bertanggung jawab. Bulan depan aku akan tetap menikahi Fay, tapi aku akan selalu ada untukmu sebagai kakakmu," bisik Kendra. Meski ia masih tidak merasa bersalah, namun melihat Amanda menangis ia merasa sangat iba padanya.

__ADS_1


"Aku yakin, kau akan menemukan pria yang menerimamu apa adanya." Kendra mengeleus punggung Amanda dengan lembut.


Setelah Amanda mulai tenang, Kendra membantu Amanda memungut pakaiannya yang masih berserakan di lantai. "Pakailah, ayo kita pulang!!"


"Aku mau ke kamar mandi sebentar, aku tidak ingin ibu melihatku berantakan."


Kendra mengangguk. "Baiklah akanku tunggu."


Amanda membebat tubuhnya dengan selimut kemudian ia turun dari tempat tidur secara perlahan, ia meringis kesakitan saat ia mulai melangkah. "Aww..."


Dengan reflek Kendra megang tangan Amanda. "Kamu kenapa, Manda?" tanyanya khawatir.


"Itu aku perih mas," jawab Amanda sembari menunjuk area sensitifnya.


Kendra memapah Amanda menuju kamar mandi. "Sebaiknya kamu bersihkan atau kompres dengan air hangat." ia menyiapkan air hangat untuk Amanda kemudian keluar dari kamar mandi.


Sambil menunggu Amanda membersihkan tubuhnya, Kendra memesan sarapan untuknya.


"Makalah Manda, aku sudah memesankannya untukmu," ucap Kendra, ia menyuruh Amanda duduk di sofa kemudian ia mengeluarkan sejumlah uang dan menyodorkannya ke hadapan Amanda. "Ini untuk transportmu pulang, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang."


Amanda menerimanya dan langsung melemparnya di wajah Kendra. "Aku bukan pelac*r, mas!"


"Bukan begitu, Man. Aku benar-benar tidak bisa mengantarmu pulang, aku harus pergi sekarang!" Kendra keluar dari kamar hotel, meskipun Amanda terus berteriak memanggil dan memintanya untuk kembali.

__ADS_1


"Mas Kendra...!"


__ADS_2