14 Februari

14 Februari
BAB 35


__ADS_3

Lima menit setelah Kendra pergi, bel pintu apartement berbunyi. Amanda mengira jika Kendra balik lagi karena ada sesuatu yang tertinggal, namun rupanya yang datang justru seorang kurir paket. "Maaf bu mengganggu waktunya, saya hanya ingin mengantarkan paket untuk bu Amanda dan pak Kendra," ucap kurir itu sembari menyerahkan surat tanda terima serta dua buah paket, yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.


Amanda menerima surat tanda terima dan paket yang berukuran kecil, sementara paket yang berukuran besar, Amanda meminta sang kurir untuk menaruhnya di ruang tamu. "Terima kasih ya, pak," ia mengembalikan surat tanda terima yang sudah ia tanda tangani.


Begitu kurir pergi dari kediamannya, Amanda langsung membuka isi paket yang berukuran besar, yang di kirim oleh Ajeng, ibunda Kendra. Beliau mengirimkan banyak makanan serta bantal hamil untuk Amanda. Amanda meraih surat yang ada di dalamnya kemudian membacanya.


Nak, maaf bulan ini mama tidak bisa datang menjenguk kalian ke Jakarta. Dua hari lalu ada pelebaran jalan di depan rumah hingga mengambil setengah teras depan. Sehingga mama harus memikirkan desain teras yang baru, yang hanya tinggal satu meter ini. Jaga kandungan Amanda baik-baik ya.


Peluk dan cium dari mama dan papa.


Amanda tersenyum membaca surat yang di tulis oleh ibu mertuanya, "Beruntung sekali aku memiliki mama mertua seperti mama Ajeng," gumamnya, kemudian ia mengambil handphone di sakunya, dan langsung menghubungi ibu mertuanya.


Amanda mengucapkan terima kasih atas kiriman paketnya, dan mengatakan akan membatu mendesainkan teras baru untuk rumah ibu mertuanya. "Mama kirim saja foto teras rumah mama biar Manada buatkan desainnya sekarang, siapa tahu mama cocok."


"Wah senangnya, mama jadi tidak perlu mikir keras," ucap Ajeng girang. "Ya sudah, ini teleponnya mama matiin dulu ya. Mama mau ambil foto terasnya dulu, nanti mama kirim ke kamu," Ajeng mematikan sambungan teleponnya.


Sembari menunggu mama mertuanya mengirimkan foto, Amanda meminta asisten rumah tangganya membereskan makanan kiriman mama mertuanya, sementara dirinya membuka paket yang kedua, Amanda langsung membukanya tanpa melihat nama pengirim dari paket yang di terimanya.


Alangkah terkejutnya Amanda ketika melihat isi paket tersebut merupakan undangan pertunangan Fay dan Kevin. "Mba Fay..." gumamnya, ada dua perasaan yang menghantamnya sekaligus. Yang pertama ia sangat senang karena kakak sepupunya akhirnya mendapatkan pengganti Kendra, tapi di sisi lain ia bingung bagaimana cara menyampaikan undangan itu kepada suaminya, ia khawatir suaminya tidak terima dengan pertunangan Fay, lalu kemudian kembali mengejar Fay dan pergi meninggalkan dirinya.


"Enggak, mas Kendra enggak boleh pergi dariku." Amanda menggelengkan kepalanya, rasa cemas mulai menghantui dirinya. Ia tak ingin kebahagiaan yang saat ini ia rasakan hilang begitu saja.


Amanda semakin cemas ketika Fay menghubunginya, tangannya gemetar ketika mengangkat telepon dari kakak sepupunya itu.


"Assalamualaikum, dek," ucap Fay dari seberang telepon.


"Wa-walaikumsalam, mba Fay," jawabnya dengan gugup dan terbata-bata.

__ADS_1


Berbeda dengan Amanda yang terdengar gugup, Fay justru terdengar lebih tenang. "Dek, kamu sudah terima undangan dariku?"


"I-iya mba, baru saja aku menerimanya."


"Kalau kamu bisa Flight ke Jogja, kamu dan suamimu datang ya," pinta Fay.


"Mba Fay, beneran mengundang aku sama mas Ken?" tanya Amanda seakan tak percaya.


"Kita kan masih saudara, dek. Apapun yang terjadi, kamu masih akan tetap jadi adekku, jadi sudah sepatutnya aku mengundangmu di moment bahagiaku, sekalian kita kumpul bersama, aku kangen banget ngumpul sama kamu dan Gibran," suara Fay terdengar begitu tulus. "Tapi harus seizin dokter kandunganmu ya, jika tidak boleh terbang tidak usah di paksakan, yang terpenting kamu dan bayimu sehat." sebelumnya Fay pernah mendengar jika Amanda pernah mengalami pendarahan, sehingga ia meminta Amanda untuk berkonsultasi dengan dokter kandungannya sebelum datang ke Jogja, ia tak ingin terjadi sesuatu terhadap Amanda dan juga kandungannya.


"Iya mba, nanti sebelum ke Jogja aku akan periksa."


"Ya sudah, jaga kesehatanmu dan kandunganmu ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," sambungan telepon pun terputus.



Kendra menepikan kendaraannya di lobby apartemennya,ia melihat sekeliling tak menemukan tanda-tanda keberadaan Amanda, padahal biasanya jika mereka hendak pergi keluar saat sore hari sepulang Kendra bekerja, Amanda selalu menunggunya di lobby. "Apa Amanda belum selesai bersiap?" Kendra  meraih handphonenya, kemudian menghubungi istrinya.


Beberapa kali Kendra menghubungi Amanda, namun Amanda tak kunjung menjawab panggilannya. "Kemana sih, Manda?" Kendra menduga jika istrinya tengah sibuk mengurus pesanan perhiasannya, sehingga ia menghubungi asisten rumah tangganya.


Kendra langsung panik ketika asisten rumah tangganya mengatakan jika dari pagi tadi Amanda belum keluar dari kamarnya, bahkan Amanda tidak makan siang. Ia bergegas memarkirkan kendaraannya di basement apartement, kemudian naik ke unit apartementnya.


Sesampainya di unit apartement, Kendra langsung menghampiri Amanda di kamarnya, ia terkejut melihat Amanda tengah tertidur. "Man, kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan nada cemas.


"Eh? Mas Kendra" Amanda terkejut melihat Kendra berada di hadapannya, tangannya dengan cepat menarik bantal untuk menyembunyikan undangan dari Fay. "Maaf mas, aku ketiduran," ia melihat jam di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 17.30.

__ADS_1


Kendra melihat wajah dan rambut Amanda nampa berantakan "Kamu sakit, Man?" ia memegang kening untuk memeriksa suhu tubuh Amanda, Kendra juga memeriksa perut Amanda mencari gerak bayinya untuk memastikan tak terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Aku baik-baik saja mas, tadi aku hanya ketiduran. Maaf ya," Ia beranjak dari tempat tidurnya. "Aku siap-siap dulu ya mas."


"Nanggung, Man. Sudah jam setengah enam, kita keluar habis maghrib saja ya. Kamu bersiaplah untuk shalat maghrib, aku tunggu di mushola, kita shalat berjamaah."



Selesai berjamaah, Amanda mencium tangan Kendra kemudian ia menangis di pelukan Kendra. "Kamu kenapa, Man?" tanya Kendra, ia mengelus punggung Amanda dengan lembut. "Apa ada masalah?"


Amanda menggeleng. "Tadi mama kirim paket," jawabnya. "Mama bilang jika bulan ini tidak bisa berkunjung ke Jakarta karena mau renovasi teras rumah."


"Oh itu, tadi saat di kantor, mama juga telepon aku kok. Lalu apa yang membuatmu bersedih?"


Amanda kembali menggeleng, ia semakin erat memeluk Kendra. "Aku hanya terharu karena mama sebaik itu padaku padahal kita baru kenal beberapa bulan ini," ucap Amanda di sela isak tangisnya. "Terima kasih mas Ken dan mama telah menyayangiku di saat aku merasa tak memiliki siapa-siapa."


Kendra mengelus kepala Amanda. "Hei, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu punya ayah, ibu, dan juga Gibran, mereka semua keluargamu, Manda."


Amanda terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia bercerita jika sebenarnya dirinya hanyalah anak selingkuhan ayahnya. Ia terpaksa di asuh oleh bude Jum lantaran ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. "Saat itu mereka sudah tiga tahun menikah tapi belum memiliki keturunan, sehingga ayah berselingkuh dengan salah satu OB di tempat kerjanya."


Kendra terkejut dan tak tahu harus bicara apa, tapi semua teka teki dan rasa penasarannya terjawab sudah. Bude Jum memang terlihat baik kepada Amanda ketika di depan orang lain, namun sesungguhnya bude Jum sangat dingin dan tak peduli dengan Amanda. "Doakan ibu kandungmu dan berbaktilah kepada ibumu yang telah mengurusmu, beliau sudah menyekolahkanmu bahkan hingga ke luar negeri."


Amanda menjelaskan jika dirinya bisa kuliah di Singapore lantaran beasiswa yang diperolehnya. "Dari SD kalau ibu tau aku meminta uang saku kepada ayah, ibu akan memukuliku." Amanda membuka mukenanya kemudian memperlihatkan beberapa bekas luka dan jaitan di kepala dan tubuhnya.


Kendra menatap mata Amanda, ia sama sekali tak melihat adanya kebohongan dari sorot matanya, bahkan Amanda lebih terlihat seperti seekor anak kucing yang hilang arah. Kendra merengkuh Amanda ke dalam pelukannya, "Jangan sedih lagi ya," bisik Kendra. "Kasihan yang di dalam sini." ia mengelus perut Amanda.


"Bumil tidak boleh kebanyakan sedih, kita jalan saja yuk, takut keburu malam," ajak Kendra.

__ADS_1


Amanda mengangguk, ia mendongak mengecup pipi Kendra sebelum ia beranjak dari pelukan Kendra dan bersiap untuk jalan dengan suaminya.


__ADS_2