
Hai, readers.
Terima kasih masih setia dengan novel 14 Februari, sebelum masuk ke BAB 40 aku mau melampirkan sedikit informasi, terkait BAB sebelumnya.
Imam Syafi’i berpendapat bahwa perkawinan akibat hamil diluar nikah adalah sah, perkawinan boleh dilangsungkan ketika seorang wanita dalam keadaan hamil. Baik perkawinan itu dilakuan dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun dengan laki-laki yang bukan menghamilinya. Argumen Imam Syafi’i tentang kebolehan perkawinan tersebut adalah karena wanita tersebut bukanlah termasuk golongan wanita yang haram untuk dinikahi. Bayi yang lahir akibat hubungan diluar nikah nasabnya kembali kepadanya. Imam Syafi’i juga berpendapat boleh menggaulinya baik oleh laki-laki yang menghamilinya atau bukan.
Sumber:
https://www.orami.co.id/magazine/hukum-hamil-di-luar-nikah.
Jika ada yang tidak sependapat, saya mohon maaf karena bukan kapasitas saya untuk beradu argumen. 🙏🙏🙏
Semoga anak cucu kita di jauhkan dari kejadian yang Amanda alami. Aamiin.
Terima kasih dan sehat selalu 😊
Satu Minggu Kemudian.
Fay tampak cantik dalam balutan kebaya modern berwana biru muda yang ia kenakan di hari pertunangannya bersama Kevin. Acara yang di selenggarakan di sebuah hotel berbintang 5 itu di hadiri oleh keluarga dan juga kerabat keluarga Fay dan Kevin, di antara banyaknya tamu undangan yang mereka undang, yang paling menarik perhatian Ratri, selaku ibunda Fay adalah kedatangan Ajeng, ibunda Kendra.
Ratri tak mengetahui sebelumnya jika putri sulungnya ternyata mengundang keluarga Kendra, namun ia dan suaminya tetap menyambut Ajeng dengan senyum ramah ketika Ajeng memberikan ucapan selamat kepadanya.
Tak berbeda dengan sang ibu, Fay pun menyambut Ajeng dengan ramah. "Selamat ya nak," Ajeng memberikan ucapan selamat sambil memeluk dan mencium kedua pipi Fay. "Tante doakan semoga lancar sampai hari H pernikahan kalian."
"Terima kasih, tante," Fay pun membalas pelukan hangat Ajeng. "Tante sendirian? tidak bersama Om?"
"Iya om lagi keluar kota," jawab Ajeng. "Kalau Kendra dan Amanda tidak bisa datang karena dokter tidak menyarankan Amanda untuk naik pesawat."
"Tadi malam, kami sudah video call kok tante. Amanda sudah menceritakan kondisi kandungannya yang tidak memungkinkan untuk terbang ke Jogja." ucap Fay, ia pun turut mendoakan semoga Amanda dan bayinya sehat sampai melahirkan nanti.
__ADS_1
"Terima kasih ya nak, atas doanya," ucap Ajeng, ia bisa melihat sorot mata Fay yang begitu tulus mendoakan menantunya.
"Terima kasih juga tante sudah datang."
Sebelum beranjak menuju meja makan, Ajeng menyempatkan diri untuk berfoto bersama Fay dan Kevin menggunakan kamera handphonenya. "Sekali lagi selamat ya sayang." Ajeng mengelus lengan Fay dengan lembut.
"Terima kasih tante," Fay tersenyum ramah ke arah Ajeng yang mulai beranjak meninggalkannya.
Tak ada raut wajah cemburu dalam wajah Kevin melihat Fay masih berhubungan baik dengan keluarga Kendra, Kevin justru sangat bangga melihat calon istrinya bisa berdamai dengan masa lalunya dan menyambut masa depan bersama dirinya dengan suka cita.
Sementara itu setelah selesai makan, Ajeng mengirimkan foto dirinya bersama Fay tadi kepada Kendra. Kendra yang masih berada di ruang kerjanya pun langsung membukanya, ia tersenyum melihat senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah wanita yang masih sangat ia cintai. "Selamat ya Fay, aku bahagia atas kebahagiaanmu."
Kendra menghembuskan napas beratnya, kemudian ia mematikan laptopnya dan menghampiri Amanda di kamar. Kendra di buat terkejut dengan penampilan baru Amanda yang kini mengenakan hijab, pasalanya terakhir kali ia keluar bersama istrinya, sekitar dua hari yang lalu, Amanda belum mengenakan hijab, kala itu Kendra mengantar Amanda konsultasi ke psikolog.
Kendra memeluk Amanda dari belakang. "Wow cantik sekali mommy," puji Kendra, tak hentinya ia menciumi pipi chubby istrinya. "Istiqamah ya."
Amanda tersipu malu mendapat pujian dari suaminya. "Insyaallah, sayang."
Kendra membelai lembut wajah istrinya, ia mengerti jika Amanda sedang tidak percaya diri. "Yakin dong, kamu kan istriku," ucap Kendra. "Maafin aku ya, saat kemarin kita nikah, aku tidak mengundang satu pun teman-temanku."
"Mas Ken tidak salah, aku yang salah."
"Ya sudah, tidak usah di bahas lagi ya, kita kan sudah sepakat untuk memulai lagi dari awal. Kamu mau kan diner sama teman-teman kantorku?"
Amanda mengangguk perlahan. "Iya mas aku mau, tapi kita ke jasa pengiriman dulu ya," pinta Amanda. "Agar pesanan pelangganku bisa ikut pengiriman hari ini."
"Siyaap. Yuk berangkat!!" Kendra menggandeng tangan Amanda dengan tangan kanan kanannya sementara tangan kirinya membawa paket pelanggan.
"Terima kasih ya sayang." Amanda mengecup tangan Kendra, ia merasa senang karena Kendra sangat mendukung usahanya yang mulai berkembang. Kini ia sudah memiliki dua orang pegawai yang membantunya mengerjakan pesanan perhiasannya, ia juga sudah mulai membuat beberapa jenis perhiasan, yang semula hanya liontin, kini ia mulai menerima pesanan berupa cincin dan gelang.
Di dalam lift, Kendra menggoyang-goyangkan paperbag yang berada di tangannya. "Hari ini kirim berapa? kayanya banyak banget."
__ADS_1
"5 mas Ken. Pesanan paling jauh dikirim ke Kalimantan, pesanan cincin dari pusar yang semalam aku kerjakan," jawab Amanda
Kendra melingkarkan tangannya kepinggang Amanda, dan menariknya merapat dengan tubuhnya "Jangan capek-capek, aku nyuruhmu mencari pegawai agar saat tengah malam, kamu tidak diam-diam menyelinap keluar kamar dan mengerjakan orderanmu."
"Iya mas, aku janji semalam yang terakhir." Amanda mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Kendra, ia menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar karena merasa terharu dengan perhatian yang Kendra berikan.
"Enggak usah GR. Aku cuma merasa aneh aja tidur tanpa guling gemoy." Kendra tertawa.
"Hah? Memangnya aku gendut banget ya?"
"Enggak, cuma gemesin aja." Kendra kembali menggandeng Amanda menuju parkiran dan keduanya pergi menuju restoran.
Tiba di restoran teman-teman Kendra sudah terlebih dahulu datang dan menunggunya. Selain mengundang teman-teman kantornya, Kendra pun mengundang Luna dan putranya.
"Kayanya kita pernah ketemu deh," ucap Luna sembari mengingat-ingat wajah Amanda. "Ah.. Iya... Di lobby apartement. Jadi kamu Amanda, istrinya Kendra? Kenalkan aku Luna." Luna memeluk dan mencium kedua pipi Amanda. "Dulu aku pernah satu kantor dengan Kendra."
Tatapan Luna beralih ke putranya yang duduk di Baby chair. "Ini putraku," ia meminta putranya untuk menyapa Amanda. "Gavin, tante Amanda sebentar lagi akan punya baby, dan kamu akan punya teman main," ucap Luna pada Gavin. Ia kembali beralih ke Kendra. "Bayimu apa Ken, apa sudah USG?"
"Insyaallah perempuan."
Luna girang mendengar Kendra akan memiliki baby girl. "Kau dengar sayang, temanmu nanti perempuan," ucap Luna.
Amanda dan Kendra tertawa, karena Luna sudah merencanakan playdate dengan calon anak mereka. Kendra juga mengenalkan Amanda dengan Ray, Angga dan Bela.
Bela melirik sinis ke arah Amanda. "Jadi ini cewe yang udah merebut calon tunangan kakak sepupunya sendiri?" mata Bela turun ke perut Amanda yang terlihat membesar.
"Bela, loe ini apa-apaan sih?" Kendra menatap tajam ke arah Kendra.
Bela beranjak dari tempat duduknya. "Sorry Ken, gue enggak udah enggak selera makan." ia melirik ke arah Amanda. "Thanks ya udah ngundang gue kemari, semoga berkah hasil curiannya." Bela melangkah pergi meninggalkan restoran.
__ADS_1
Sementara Kendra menggenggam erat tangan Amanda. "Tidak usah di dengarkan, dia mungkin sedang ada masalah," ia mencoba menenangkan hati istrinya agar tidak bersedih dengan ucapan bela. Tak hanya Kendra yang menenangkan Amanda, Ray, Angga dan Luna pun ikut menenangkan Amanda. Luna bahkan berpindah tempat agar bisa dekat Amanda.