14 Februari

14 Februari
BAB 8


__ADS_3

Kendra terbangun oleh suara ketukan pintu rumah kontrakannya. "Ken... Kendra..." panggil bude Jum dari pintu depan kontrakan. "Kendra..."


Dengan langkah gontai, Kendra berjalan membuka pintu depan. Alangkah terkejutnya bude Jum ketika melihat Kendra nampak lesu dan berantakan, ia bahkan heran mengapa sudah hampir jam 14.00 siang Kendra baru bangun. "Kendra, kamu sakit?" tanyanya cemas.


Kendra menggeleng. "Enggak kok bude, aku hanya kecapean saja," jawabnya. Saat di apartement Luna semalam Kendra minum terlalu banyak sehingga kepalanya masih terasa berat. "Ada apa bude dan Gibran kemari?"


Bude Jum mengulurkan sebuah rantang kepada Kendra. "Ini bude bawain makan siang untukmu, di habiskan ya! Kamu jangan bekerja terlalu keras, akhir-akhir ini bude perhatikan kamu sering pulang larut malam."


Kendra menerima rantang itu dari tangan bude Jum, sembari mengelus tengkuknya karena merasa tak enak terus-menerus berbohong kepada bude Jum. "Iya bude, terima kasih"


"Oh iya, Ken. Sebetulnya Gibran ingin menanyakan tugas sekolahnya," bude Jum kembali memperhatikan wajah Kendra. "Tapi kalau kamu kurang sehat, biar Gibran kerjain sendiri saja tugasnya." ia beralih ke putra bungsunya. "Kita pulang saja yuk, mas Kennya sedang kurang sehat.."


"Jangan bude!" cegah Kendra. "Aku enggak apa-apa kok," ia beralih menatap Gibran. "Masuk yuk, nanti Mas bantuin tugasmu," ucapnya kepada Gibran.


"Beneran kamu tidak apa-apa, Ken?"


Kendra memaksakan seulas senyuman untuk menyakinkan bude Jum jika dirinya baik-baik saja. "Betul bude, aku baik-baik saja."


"Terima kasih banyak ya, Ken. Maaf merepotkan," ucapnya, kemudian Bude Jum menyuruh putranya masuk. "Bude tinggal dulu ya, Ken." ia pun melangkah pergi meninggalkan kontrakannya. Sementara putra bungsunya masuk dan duduk di ruang tamu sembari membuka buku pelajarannya.


Rasa pusing masih menjalar di kepalanya, Kendra menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Soal apa, Gib?" ia memperhatikan Gibran membuka halaman demi halaman buku kimianya, hingga membuatnya teringat bahwa pelajaran tersebut merupakan pelajaran favorit Fay. Kendra tersenyum, mengingat betapa cerdasnya wanita yang sampai sekarang masih menjadi kekasih hatinya.


"Rumus molekul, mas." Gibran menyodorkan soalan yang tak bisa ia kerjakan.


Berapa jumlah seluruh atom dalam dua senyawa CuSO4.5H2O?


Kendra langsung menarik sebuah kertas dan mengambil sebuah pulpen milik Gibran. "2 Molekul CuSO4.5H2O tersusun atas," ucapnya sembari menulis di atas kertas.


2 Molekul CuSO4.5H2O tersusun atas:


2 x 1 atom Cu \= 2 atom Cu


2 x 1 atom S \= 2 atom S

__ADS_1


2 x 4 atom O \= 8 atom O


2 x 10 atom H \= 20 atom H


2 x 5 atom O \= 10 atom O   +


Jumlah atom \= 42


"Jadi, 2 molekul CuSO4.5H2O tersusun atas 42 atom," ucap Kendra. "Mudah bukan?" ia memandang wajah Gibran yang agaknya sudah mulai paham dengan apa yang di terangkan oleh Kendra. "Ada lagi?"


Gibran mengangguk, kemudian ia menyodorkan soalan lainnya, setidaknya ada lima soalan yang tak bisa ia kerjakan, dan Kendra mampu mengajari semua soalan tersebut.


Kendra menghembuskan nafas leganya ketika Gibran sudah selesai dan kembali pulang ke kediamannya. Rasa pusingnya kian menjadi, dan di tambah dengan rasa perih seperti terbakar di dadanya (heartburn). "Sepertinya aku butuh obat," ia mencari kotak obat pemberian Fay yang ia simpan di lemari.


Kendra tertegun sejenak, saat ia membaca surat yang terdapat dalam kotak obat tersebut.


Ken, aku tidak berharap kamu membuka kotak obat ini, karena aku selalu berharap kamu sehat selalu. Tapi jika kamu sampai membuka kotak ini, semoga kamu lekas pulih. Sehat terus ya sayang.💜


"Fay..." ucapnya lirih. Ia menaruh kembali kotak obatnya, kemudian menyambar jaket dan handphonenya. Sembari mengenakan sepatunya ia memesan transportasi online dan mencari tiket pesawat menuju Jogjakarta dengan rute penerbangan terdekat.


Pukul 19.30 Kendra tiba di depan kediaman kekasihnya, ia mulai mengetuk pintu dengan perlahan. "Iya sebentar..." Kendra mendengar suara Fay dari dalam, dan tak lama kemudian pintu terbuka.


Fay terkejut melihat kedatangan Kendra yang datang secara tiba-tiba tanpa memberitahunya. "Kendra..." namun seketika wajahnya berubah menjadi cemas melihat Kendra nampak lemas dan lusuh. "Ya Alllah kamu kenapa, Ken?" tanyanya panik. "Duduk dulu yuk!" Fay memapah Kendra duduk di teras rumahnya.


"Maaf, kamu duduk di teras saja ya, soalnya Ibu dan Ayah sedang tidak di rumah."


Kendra tersenyum mengangguk. "Ia tidak apa-apa kok, Fay." ia paham dengan peraturan yang di terapkan oleh orangtua Fay, di mana mereka melarang pria masuk jika sedang tidak ada orangtua di rumah, lagi pula Kendra datang hanya untuk melihat Fay.


Fay memegang kening Kendra. "Kamu demam, Ken. Tunggu sebentar ya," ia bergegas mengambil minum dan kotak obatnya.


Tak lama kemudian Fay datang dengan membawa minum dan kotak obat, ia mengulurkan segelas air putih hangat untuk Kendra "Minum dulu, Ken!"


Sembari Kendra minum, dengan cekatan Fay mengukur suhu tubuh Kendra "38°" kemudian Fay mengukur tensi darah Kendra. "Tekanan darah kamu rendah, Ken. Aku antar ke dokter ya." Fay bergegas membereskan peralatan medisnya.

__ADS_1


Kendra menggeleng. "Sekarang, aku sudah lebih baik kok, sudah ketemu dengan obatnya," ia tersenyum memandangi wajah cantik kekasihnya dalam balutan mukena yang masih Fay kenakan, ia berfikir bagaimana dirinya begitu bodoh mengkhianati dan membohongi wanita sebaik Fay. Apakah Fay akan memaafkannya jika Fay tahu apa yang telah ia perbuat di belakang Fay. Kendra tak bisa membayangkan jika Fay meninggalkan dirinya.


"Gombal kamu," Fay memukul lengan Kendra, menyadarkan Kendra dari lamunannya. "Setidaknya kamu makan dulu, biar bisa minum obat. Aku ambilin sebentar ya."


Saat Fay hendak beranjak dari hadapan Kendra, cepat Kendra meraih tangan Fay. "Tidak usah, Fay. Perutku agak mual, aku takut malah muntah."


"Mual?"


Fay mengulurkan tangannya memegang perut Kendra dan menekannya "Sakit tidak?"


Kendra mengangguk.


"Asam lambung kamu naik, Ken," ucap Fay sembari menepuk-nepuk perut Kendra. "Kamu pasti kebanyakan minum kopi dan lembur." ia merogoh kotak obat, kemudian memberikan obat mual untuk Kendra. "Ini kamu minum dulu obat mualnya, aku antar kamu pulang ya."


Fay membawa masuk kembali kotak obatnya dan bersiap untuk mengantar Kekasihnya pulang. Saat Fay keluar menghampir Kendra, Kendra di buat terkejut dengan penampilan baru Fay yang kini telah mengenakan hijab.


"Kamu sekarang pakai hijab?"


Fay mengangguk. "Masih belajar," ujarnya. "Udah dari seminggu yang lalu aku mau cerita, tapi kamunya susah di hubungin. Kamu enggak keberatan kan?"


"Ya enggaklah, justru kamu terlihat semakin cantik dan anggun."


Fay tersipu malu mendapat pujian dari Kendra. "Ya udah yuk, nanti keburu malam."


Sempat ada perdebatan mengenai siapa yang akan mengemudi, namun akhirnya Kendra mengalah, ia membiarkan Fay menyetir hingga tiba di kediamannya. "Sudah setengah jam, kamu sudah bisa makan dan minum obat lambungnya. Nanti pagi sebelum ke kampus aku datang ke rumahmu, pokoknya kalau masih enggak enak badan, kamu enggak boleh nolak aku ajak ke dokter."


Kendra tersenyum mendengar semua penjelasan Fay. "Cukup kamu aja dokternya, aku enggak mau yang lain."


"Kendra, aku serius," ucap Fay dengan kesal.


Kendra menyandarkan kepalanya sembari memandangi Fay dalam-dalam. "Aku juga serius Fay, aku sudah merasa jauh lebih baik hanya dengan bertemu denganmu," ucapnya. "Terima kasih ya." ia mengelus lengan Fay dengan lembut.


Dengan perubahan penampilan Fay, Kendra semakin menjaga sikapnya terhadap Fay, ia sudah tidak berani lagi mengecup kening Fay. "Aku turun dulu ya, sekali lagi terima kasih banyak. Aku sayang banget sama kamu."

__ADS_1


Kendra turun dari mobil Fay, dan menunggu sampai Fay meninggalkan kediamannya barulah ia masuk.


__ADS_2