
14 Februari di Tahun Pertama.
Ada raut kekecewaan dalam wajah Fay ketika mendengar kekasihnya tak bisa datang di hari specialnya. "Kamu benaran enggak bisa pulang, Ken?" tanya dari sebrang telepon.
"Maafin aku ya sayang, aku betul-betul sedang sibuk. Ini saja aku baru ketemu sama client," jawabnya, sembari mengemudikan kendaraannya. "Mungkin lusa atau nanti saat weekend, aku baru bisa pulang. Kamu tidak keberatankan?"
Fay mencoba untuk mengerti akan kesibukan Kendra yang kini kian padat seiring dengan kenaikan jabatan yang di emban kekasihnya."Tidak apa-apa kok, Ken," jawab Fay. "Kamu jaga kesehatan ya di sana, dan jangan lupa lihat kalender hari ini!"
Sebernarnya Fay masih bisa maklum jika Kendra tak bisa datang karena sibuk, namun yang ia sesalkan mengapa Kendra juga lupa akan hari ulang tahun dan anniversarynya yang ke empat tahun.
"Kalender?"
Kendra melihat jam di pergelangan tangannya, "Ya ampun aku sampe lupa," ucapnya.
Fay tersenyum, ia pikir Kendra kini sudah ingat jika ini adalah hari anniversary mereka, namun seketika senyum itu hilang saat Kendra berkata. "Jam satu siang ini aku ada jadwal menemani pak William meeting bersama clientnya di restoran chinese, aku nyusulin pak William dulu ya sayang, bye."
"Kendra...."
Tut... Tut...
"Iih malah di matiin lagi," ucapnya kesal, ia memasukan kembali handphonenya ke tasnya, kemudian ia bersiap untuk memeriksa bangsal.
Sementara itu di tempat berbeda, Kendra memasukan mobilnya ke garasi rumah kontrakannya. Tiga bulan lalu Kendra membeli sebuah mobil SUV dari hasil kerja kerasanya selama satu tahun merantau di Jakarta.
Melihat Kendra pulang, Gibran melongok dari dinding pembatas rumahnya dengan kontrakan Kendra. "Mas Ken," teriaknya. "Nanti malam latihan enggak?"
__ADS_1
Sudah lebih dari empat bulan belakangan ini, Kendra sering menghabiskan waktu senggangnya untuk bermain futsal bersama Gibran dan teman-temannya, bahkan tak jarang saat weekend Kendra dan Gibran bersepeda keliling bundaran HI.
Kendra tak peduli jika dirinya di bilang cupu karena bermain dengan anak SMA, baginya Gibran cukup asik untuk di ajak ngobrol dan kebetulan sampai saat ini Kendra masih belum menemukan teman yang menurutnya cocok.
Kendra menghampiri Gibran di dinding pembatas "Enggak Gib, Mas ada urusan. Titip rumah ya," Kendra mengulurkan sebungkus martabak telur dan mie ayam kesukaan Gibran dan bude Jum. "Untukmu dan mama."
Dengan senang hati Gibran pun menerimanya, "Siap Mas!!" ia pun membawa masuk makanan yang di berikan oleh Kendra. Dan Kendra pun kembali keluar pagar setelah ia memesan transportasi online yang akan mengantarkannya ke bandara.
Tepat pada pukul 19.00 Kendra sudah berdiri di depan rumah sakit tempat Fay menjalani program profesinya, ia melipat tangannya sembari tersenyum melihat kekasihnya yang tengah berjalan menuju loby rumah sakit. Fay sama sekali tak menyadari kedatangan Kendra, ia sibuk mengobrol dengan teman di sebelahnya.
Hingga beberapa menit kemudian, saat Fay menoleh ke depan, ia pun menyadari jika Kendra tengah berdiri tak jauh darinya. "Kendra..." ia berlari menghampiri kekasihnya. "Ini beneran kamu ada disini?" Fay memegang wajah Kendra untuk meyakinkan jika benar kekasihnya berada di hadapannya.
Raut kebahagiaan Fay, sekejap hilang. "Katanya kamu sibuk dan enggak bisa pulang?" ia baru menyadari jika dirinya telah di bohongi oleh Kendra.
Kendra tertawa, ia gemas dengan wajah kekasihnya yang sedang cemberut. "Mana mungkin aku lupa dengan hari special kita," ucapnya. "Kita makan malam yuk, aku dah laper banget nih!" Kendra meraih tangan Fay dan langsung menggandengnya menuju parkiran.
"Namanya kejutan masa bilang-bilang," Kendra menekan tombol buka pada kunci mobilnya, kemudian ia membuka pintu mobil untuk Fay. "Silahkan masuk ratuku."
Fay tersenyum. "Terima kasih rajaku," ia masuk ke dalam mobil. 'Pantas saja Caca tadi sore ke rumah sakit untuk pinjam mobilku,' Fay menduga jika terjadi persekongkolan antara adiknya dengan Kekasihnya.
Di tengah perjalanan menuju restoran Kendra menepikan kendaraannya di pinggir jalan, ia mengambil kain hitam dari sakunya. "Di tutup dulu ya sebentar."
"Loh kenapa?" protesnya. "Aku takut gelap, Ken."
"Enggak apa-apa, kan ada aku," ia meraih tangan Fay dan menaruhnya di lengan kirinya. "Pegangan sini ya," Kendra kembali melajukan kendaraannya.
__ADS_1
15 menit kemudian Kendra menepikan kendaraannya di restoran yang tahun lalu menjadi tempat bagi mereka merayakan ulang tahun sekaligus anniversary mereka, hanya saja kali ini Kendra memesan meja khusus untuk mereka berdua yang di lengkapi dengan lilin serta bunga untuk menambah kesan lebih romantis.
"Pelan-pelan jalannya," Kendra menuntun Fay dengan hati-hati untuk sampai di meja makan mereka.
Dalam gelapnya mata yang tertutup, Fay mendengar debur suara ombak dan hembusan angin pantai yang menerpa tubuhnya, "Ken kita ada di mana sih?" tanyanya semakin penasaran.
"Dikit lagi sampai sayang," Kendra terus menuntun Fay menuju meja makan mereka.
Begitu tiba di meja mereka, Kendra melepas penutup mata Fay. Fay melihat sekeliling, matanya hampir berkaca-kaca melihat kejutan special yang di berikan Kendra untuk dirinya, padahal pagi tadi ia sudah sempat menduga jika Kendra lupa dengan hari special mereka, tapi Kendra justru menyiapkan sesuatu yang special untuk dirinya.
Kendra merangkum wajah cantik kekasihnya. "Jangan nangis dong," ia mengahapus air mata Fay.
"Te-terima kasih ya, sayang," ucap Fay terbata-bata menahan isak tangis bahagianya.
"Sama-sama kita makan yuk." Kendra menarik kursi untuk Fay kemudian ia duduk di hadapan Fay.
Sepanjang makan malam, tak hentinya Kendra memandangi wajah kekasihnya, ia teramat rindu dengan moment-moment kebersamaannya dengan Fay. "Aku kangen banget bisa makan dan jalan bareng sama kamu, Fay."
Fay menggenggam erat tangan Kendra. "Aku juga sayang."
"Khusus malam ini, aku sudah pesan hidangan penutup special untukmu," Kendra memanggil pelayan untuk membawakan hidangan yang sudah ia pesan sebelumnya.
Pelayan pun datang dengan membawa hidangan pesanan Kendra, saat ia membuka tudung penutup piringnya, alangkah terkejutnya Fay ketika melihat sebuah cincin di atas piring tersebut.
Kendra beranjak dari tempat duduknya dan berlutut di hadapan Fay. "You’re the one girl that made me risk everything for a future worth having. Will you be mom of my child?"
Fay membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ia terlampau bahagia atas lamaran kekasihnya, namun ia bingung karena ia belum menyelesaikan koasnya. "Ken, aku enggak mau menolakmu, tapi kamu kan kalau aku belum lulus?"
__ADS_1
"Aku sudah minta izin sama ayah dan ibumu, mereka memberiku izin untuk melamarmu. Aku tidak ingin terus menunda niat baik kita, kita jalanin semuanya sama-sama dalam ikatan yang resmi."
Fay menganggukan kepalanya. "Yes, I will."