
Suara kumandang Adzan dzuhur menghentikan permainan piano Kevin, ia mengajak anak-anak yang beragama islam untuk shalat berjamaah bersamanya. "Wudhunya gantian ya anak-anak," ucap Kevin mengarahkan anak-anak untuk segera mengambil air wudhu, ia juga mengajarkan anak-anak untuk menyempurkan wudhu mereka. "Jangan lupa baca basmalah dan niatnya ya!!"
Setelah selesai berudhu, Kevin berpapasan dengan Fay yang tengah berdiri depan mushola "Kamu tidak masuk?"
Fay menggeleng. "Nanti saja gantian dengan ibu pengurus panti, aku tidak bawa mukena." jawab Fay.
"Tunggu sebentar ya," Kevin berlari ke luar panti.
Beberapa menit kemudian Kevin kembali dengan membawa sebuah mukena di tangannya dan memberikannya kepada Fay. "Ini punya ibuku, pakailah!!"
"Ibu??" tanya Fay bingung, seingatnya tadi Kevin mengatakan jika ibundanya meninggal dunia tiga tahun yang lalu.
"Dulu, aku sering berpergian bersama orangtuaku, dan ibu selalu menyimpan mukenanya di mobil. Aku masih sering merindukan beliau, jadi aku tidak ingin merubah apa pun yang sudah di simpan oleh beliau." Kevin meminta Fay untuk memakainya.
Dengan sedikit ragu Fay pun menerimanya, "Terima kasih."
Kevin tersenyum ketika Fay bersedia memakainya, ia masuk ke mushola dan memposisikan dirinya di depan sebagai imam. Sebelum mulai shalat, Kevin sempat menoleh ke arah Fay yang terilhat semakin cantik mengenakan mukena milik ibundanya. Kevin kembali tersenyum, lalu menundukan kepalanya dan menghadap kiblat.
Sebelum niat shalat, Fay sempat menghirup aroma wangi pada mukena milik ibunda Kevin. "Harum sekali wanginya," gumam Fay, kemudian ia pun niat dan mengangkat kedua tangannya.
Suara merdu nan syahdu lantunan bacaan ayat suci Al-Quran terdengar dari mulut Kevin, serta aroma wangi dari mukena ibunda Kevin membuat Fay semakin larut dalam kekhusyukan dalam beribadah.
Selesai Shalat, Fay mengembalikan mukena milik ibunda Kevin. "Terima kasih ya, mas Kevin."
Kevin mengangguk. "Sama-sama," ucapnya sembari tersenyum, ia kemudian mengajak Fay makan siang bersama anak-anak panti. "Anak-anak sudah nungguin kita di ruang makan." Keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.
__ADS_1
Fay di buat terkesima ketika melihat Kevin bernyanyi sembari mengajari anak-anak mencuci tangan dengan benar.
🎵"Basahi tangan dengan air mengalir, gunakan sabun, lalu bersihkan telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, terakhir bawah kuku. Wash wash wash your hands, let the bubbles do their dance, scrub scrub scrub-a-dub, now you're in the clean hands club."🎵
Fay mendekat ke arah Kevin, ia ikut mencuci tangan dan bernyanyi bersama anak-anak.🎵"Wash wash wash your hands, let the bubbles do their dance, scrub scrub scrub-a-dub, now you're in the clean hands club."🎵
"Menyenangkan bukan?" tanya Kevin saat mereka mengeringkan tangan.
Fay mengangguk, sudah lama sekali rasanya ia tak bermain bersama anak-anak. Jarak usia antara dirinya dengan adik perempuannya tidaklah begitu jauh sehingga ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya bermain bersama anak-anak.
Saat tengah menikmati makan siang, tiba-tiba saja ada kejadian yang tak mereka duga, salah seorang anak tak sengaja menyenggol gelas hingga gelas itu terjatuh, danpecahan gelas menggenai kaki anak itu.
Fay dan Kevin langsung beranjak dari tempat duduk mereka, Kevin berlari mengambil kotak P3K sementara Fay langsung memberikan pertolongan pada anak tersebut, namun sebelumnya ia sudah mensterilkan tangannya.
Dengan telaten Fay membebat kaki anak itu dengan kasa, sementara Kevin nampak memperhatikan Fay dari belakang tubuh Fay, ia meminta anak-anak lainnya untuk memperhatikan Fay agar jika suatu hari terjadi insiden yang sama, setidaknya mereka tahu bagaimana cara menghentikan pendarahan. "Tapi harus sama Ibu Laksmi ya, jangan mengambil tindakan sendiri, apa lagi jika lukanya serius, wajib hubungi om atau langsung di bawa ke rumah sakit!!" ucap Kevin.
"Baik om," jawab anak-anak secara serempak, kemudian mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk melanjutkan makan siang.
Kevin tak hanya membuatkan ruang musik tapi juga membuatkan tempat bermain layaknya time zone yang biasa di jumpai di mall, arena bermain itu hanya di buka saat weekend mulai pukul 13.00-15.00 agar tak mengganggu waktu belajar anak-anak.
"Tidak memiliki keluarga yang utuh tentu membuat anak-anak merasa sedih, untuk itulah aku membuat ini untuk mereka, agar bisa mengobati sedikit kesedihan mereka," ucap Kevin, ia kemudian mengajak Fay bermain bersama anak-anak.
Fay melilih permainan basket ball, ia bahkan mengajak salah satu anak untuk bertanding dengannya. Sementara Kevin hanya mengawasi sembari menemani Fania bermain kuda-kudaan. Kevin tersenyum ketika melihat Fay tertawa lepas, "Sudah lama sekali, aku tidak melihatmu seperti ini, Fay," gumam Kevin.
Pukul 16.00 selepas shalat ashar, Fay dan Kevin pamit dari panti. Kevin berjani akan datang kembali saat ia libur, sementara Fay tidak bisa berjanji karena ia harus banyak belajar untuk menyelesaikan pendidikannya.
__ADS_1
Rasa penasaran akan bocah bernama Fania tadi masih bergelayut dalam benak Fay, sehingga saat perjalan menuju kediamannya Fay membahasnya. "Kayanya aku agak familiar dengan wajah Fania," ucapnya. "Tapi di mana ya?"
"Ya dua yang lalu dia sempat di operasi di rumah sakit, tapi kamu tidak ikut serta," jawab Kevin.
"Oh iya aku baru ingat. Pantas saja aku seperti pernah melihatnya, aku pernah memeriksa bangsalnya," ucap Fay. "Kalau tidak salah terkena Accessory navicular syndrome?"
Kevin mengangguk. "Itu salah satu operasi terberat untukku."
"Kenapa mas? Apa sangat serius?"
"Bukan," Kevin menggeleng. "Entahlah, aku suka terbawa perasaan jika mengoperasi orang-orang terdekatku. Meski terkadang hanya opersi ringan."
Fay menepuk di lengan Kevin. "Mas itu dokter yang hebat loh, harusnya mas merasa bangga bisa mengobati orang-orang terdekat mas dengan tangan mas sendiri."
Kevin menatap Fay sekilas. "Semoga suatu saat bisa sepenuhnya mengobati hatimu," gumam Kevin, terkadang ia masih melihat adanya kesedihan dalam mata Fay meski Fay sedang tertawa.
"Maksud mas Kevin?"
Kevin menggeleng, ia menepikan kendaraannya di depan kediaman Fay. "Tidak ada," jawab Kevin. "I hope you will be happy, and stay focused on achieving your goals. I will always be there for you."
Fay tak tahu harus berkata apa selain mengucapkan terima kasih, ia tak ingin memberikan harapan apa pun kepada Kevin. "Maaf aku di larang membawa tamu pria jika, ayah dan ibu sedang tidak di rumah."
Kevin mengangguk mengerti, ia sama sekali tak merasa keberatan. Sudah di izinkan jalan dengan Fay saja, dirinya sudah merasa sangat senang. "Terima kasih ya, sudah bersedia jalan denganku. Sampaikan salamku untuk ayah, ibu dan juga Icha," ucap Kevin.
"Aku yang harusnya berterima kasih, karena mas telah mengajakku ke panti. Aku seneng banget bisa main bersama anak-anak panti." Fay melepas sabuk pengamannya. "Sampai jumpa besok di rumah sakit. Assalamualaikum," ia membuka pintu mobil dan turun dari mobil Kevin.
__ADS_1