14 Februari

14 Februari
BAB 46


__ADS_3

Kendra membawa jenazah istrinya ke Jakarta untuk segera di kembumikan, sementara kedua orangtuanya masih berada di Bogor, mengurus perpindahan rumah sakit putri kecilnya.


Sesampainya di rumah duka, sudah nampak berkumpul keluarga dan kerabat terdekat Amanda, termasuk seluruh keluarga yang tinggal di Jogja. Diantara seluruh keluarga besar Amanda yang datang, tentu saja ada Fay yang duduk di ruang duka bersama kedua orangtuanya.


Fay beranjak dari tempat duduknya, ia hendak menghampiri Kendra, namun ternyata Luna sudah terlebih dahulu menghampiri Kendra. "Ken, paket duka di rumah duka ini sudah menyiapkan tempat pemakaman. Apa kamu yakin tidak ingin menggunakan?" ia mengkonfirmasi kembali mengenai tempat Amanda akan di kebumikan, sebab Kendra mempercayakan proses pemakaman istrinya kepada Luna.


Bukan ia tak menghormati kedua orangtua Amanda, hanya saja ia sudah terlanjur sakit hati dengan apa yang di katakan ibu mertuanya kepada istrinya, terlebih Amanda pun tak merasa nyaman berada di rumah orangtuanya sehingga ia memilih rumah duka sebagai tempat mengurus jenazah istrinya.


"Tidak, aku ingin memakamkan istriku di sebelah ibunya," ucap Kendra.


"Oh ya sudah, makamnya juga sudah ready kok, aku hanya ingin memastikan kamu tidak berubah pikiran."


Kendra menggeleng. "Lun, terima kasih ya sudah banyak membantuku."


Luna menepuk lengan Kendra. "Kita kan teman sekaligus tetangga, Ken. Kamu tidak perlu sungkan meminta bantuanku. Aku juga sudah dapat donor ASI untuk Lily, nanti ASInya akan di kirim setelah Lily tiba di Jakarta, kamu tinggal menghubungi orangnya karena dia meminta data diri Lily dan juga dirimu agar jelas hubungan saudara sesusunya."


"Nanti setelah selasai pemakaman, aku akan menghubungi orangnya. Sekali lagi terima kasih ya Lun, aku beruntung punya teman sebaik kamu."

__ADS_1


Sejak pertama Kendra menghubungi Luna, mengabarkan jika istrinya telah meninggal dunia, Luna langsung berinisiatif menawarkan bantuannya, bahkan hingga mencarikan rumah sakit dan donor ASI untuk putrinya di lakukannya tanpa Kendra minta.


Luna mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kendra. "Kau tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini semua untuk calon menantuku. Aku ingin memastikan jika Gavin dan Lily bukan saudara sesusu," bisiknya.


"Kau ini bicara apa? Putriku baru lahir enam jam yang lalu, bisa-bisanya kau sudah mengclaim calon menantumu." Kendra menggelengkan kepalanya, ia melangkah pergi meninggalkan Luna.


Selama prosesi berlangsung Kendra terus berada di samping jenazah istrinya, ia menolak untuk menceritakan kronologi persalinan istrinya, karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat. Kendra ingin terus di dekat Amanda, dan mengiringi kepergian istrinya dengan banyak doa.


Setelah di mandikan dan di shalatkan, jenazah Amanda di bawa ke tempat pemakaman umum. Kendra turun langsung ke liang lahat untuk mengantarkan istrinya ke tempat peristirahatan terakhirnya. 'Istirahatlah dengan tenang, Moly. Aku akan menjaga putri kecil kita dengan sepenuh hatiku.' gumam Kendra sembari menutup jenazah istrinya dengan papan.


Air matanya kembali mengalir, ketika ia kembali naik dan papan mulai di tutup oleh tanah. Kendra teringat semua kenangan selama lima bulan hidup bersama Amanda. ia teringat bagaimana Amanda yang selalu menyiapkan semua keperluannya, mendengarkan semua keluh kesahnya menghadapi pekerjaannya di kantor, bahkan ia ingat saat menemukan Amanda hujan-hujanan di samping makam ibunya, Amanda terlihat seperti kucing kecil yang kehilangan arah.


Kendra menaburi makam istrinya dengan bunga-bunga segar, yang salah satunya bunga lily bunga favorit istrinya yang kini menjadi nama anaknya. 'Ya Allah, terimalah seluruh amal ibadah istriku, tempatkan dia di tempat terindah sebab dia adalah istri yang sangat baik.' Ia mengecup nisan Amanda.


Dari belakang Fay sedari tadi memperhatikan Kendra nampak sangat kehilangan Amanda. "Kita pulang yuk!" ajak Ratri, ia sudah memesan tiket kepulangannya ke Jogja.


"Bu, boleh kita menunggu sampai bayi Amanda tiba di Jakarta? Aku ingin mengetahui kondisinya," pinta Fay.

__ADS_1


"Tapi Fay, kita harus pulang ke Jogja. Tiga hari lagi kamu akan menikah dengan Kevin, dan masih banyak hal yang harus kita urus."


"Bu, tolonglah aku hanya ingin lihat dan tahu kondisi Lily." Fay terus memohon agar ibundanya merubah jadwal penerbangan mereka.


Ratri menghela napas beratnya, ia pun sebenaranya ingin melihat dan mengetahui kondisi Lily. "Baiklah, kita akan pulang besok pagi. Ayo kita pulang dulu ke hotel, setelah itu kita ke rumah sakit, tadi ibu sudah dapat informasi rumah sakit yang akan di tuju Lily."


Fay dan keluarganya, beserta para pelayat lainnya pergi meninggalkan tempat pemakaman. Hanya tinggal Kendra yang masih berada di depan pusara istrinya. "Mol, aku pulang dulu ya. Aku mau ke rumah sakit mengurus putri kita, aku janji besok aku akan datang lagi kemari membawakan bunga lily dan menceritakan kondisi putri kita. Kamu istirahat yang tenang ya, percayakan Lily denganku." ia kembali mengecup nisan istrinya sebelum ia melangkah pergi meninggalkan makam Amanda.


Setelah dari pemakaman, Kendra memutuskan untuk kembali ke apartementnya, untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Kendra ingin langsung menemui orang yang akan mendonorkan ASI untuk anaknya, meski Luna mengatakan cukup menghubunginya lewat telepon, namun Kendra merasa perlu bertemu dan mengucapkan terima kasih secara langsung sekaligus memberikan sedikit tanda ucapan terima kasih atas kesediaannya memberikan sumber makanan utama untuk putrinya.


Begitu masuk ke apartementnya, ia merasakan ruang kosong yang begitu hampa. Kendra melangkah memasuki kamar putrinya untuk mengambil barang-barang putrinya yang akan ia bawa ke rumah sakit.


Kendra baru menyadari jika sebenarnya Amanda sudah banyak memberikan tanda-tanda akan kepergiannya. Amanda tidak pernah menyiapkan keperluan pribadinya pasca melahirkan, tak ada baju ataupun br* menyusui, tak ada perlengkapan mandi, pembalut ataupun stagen dalam tas maupun lemari.


Kendra membawa tas itu ke kamarnya, kemudian ia membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Ia terkejut saat membuka lemarinya, ia melihat beberapa tulisan kecil menempel di lemarinya. 'Kemeja Kerja', 'Baju Tidur', 'Kaus Polos', 'Hoodie', 'Dalaman' .


"Serapih itu menyiapkan ini semua untukku," Kendra meraih satu kaus dan celana panjang, lalu ia memakainya. Saat tengah merapihkan pakaian yang ia kenakan, mata Kendra tertuju pada tumpukan dokumen di atas meja rias Amanda.

__ADS_1


Kendra meraih dokumen tersebut dan membukanya, rupanya Amanda telah menyiapkan dokumen pendukung pembuatan akta kelahiran putrinya, asuransi kesehatan hingga bilyet deposito yang sudah Amanda siapkan untuk biaya pendidikan putrinya.


Kendra hanya mengambil dokumen pendukung pembuatan akte kelahiran, selebihnya ia menyimpannya di laci, barulah ia keluar dari apartemennya.


__ADS_2