14 Februari

14 Februari
BAB 16


__ADS_3

Kendra semakin tak bisa menolak ajakan Amanda, ketika bude Jum sendirilah yang meminta Kendra untuk menemani putrinya datang ke pesta ulang tahun teman SMAnya.


Kendra sendiri sebelumnya sudah meninta izin kepada Fay, namun untuk lebih menyakinkan lagi jika Fay tak keberatan, Kendra kembali menghubunginya sebelum ia berangkat. "Fay kamu beneran enggak keberatan aku pergi sama Amanda?" tanya Kendra dari seberang telepon.


"Enggak sayang," jawabnya sembari menyalakan mengemudikan kendaraannya menuju kediamanya, ia sama sekali tak merasa keberatan, justru ia senang jika Kendra bisa semakin dekat dengan keluarganya. "Selama kuliah di Singapore Amnda itu kan jarang sekali pulang, jadi dia pasti agak canggung untuk bertemu dengan teman-temannya. Temanilah, setidaknya di sana ia punya teman mengobrol." Fay kenal betul adik sepupunya itu terkadang sulit untuk bersosialisasi, jadi menurutnya dengan di temani Kendra bisa sedikit mengurangi kecanggungan Amanda.


Fay melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam 19.30, Ken. Apa kamu sudah bersiap? Nanti Amanda menunggumu."


Kendra berdiri di depan cermin, sudah lima belas menit yang lalu ia sudah siap berangkat, namun Kendra masih enggan keluar dari rumah kontrakannya. "Aku sudah sip, Fay."


Mendengar calon suaminya sudah siap untuk berangkat ke pesta, Fay menepikan kendaraannya dan merubah panggilan menjadi panggilan video call. "Coba aku mau lihat!!" Ia tersenyum, ketika melihat Kendra nampak rapih dengan kemeja pemberiannya. "Waahh calon suamiku tampan sekali."


Berbeda halnya dengan Kendra yang nampak terlihat serius memandangi Fay. "Kamu tidak cemburu aku jalan dengan Amanda?"


"Ken, Amanda adik sepupuku sendiri, dan dia tahu kamu adalah tunanganku dan bulan depan kita akan menikah. Jadi untuk apa aku cemburu dengan saudaraku sendiri?"


"Tapi aku tidak mengizinkanmu jalan dengan pria mana pun kecuali, ayahmu."


Fay tertawa. "Iya sayang, aku tahu kau sangat pencemburu, tapi aku sangat suka dengan sifat posesifmu itu." ucap Fay. "Sudah sana berangkat, kasihan Amanda menunggu lama. Aku juga mau lanjut jalan lagi. Kabri aku ya jika kamu sudah pulang."


Kendra mengangguk. "Aku pasti akan menghubungimu sayang, aku tidak akan lama."


"Bye honey," Fay memberikan kecupannya pada layar handphonenya, begitu pula dengan Kendra ia pun memberikan kecupannya sebelum ia mematikan sambungan video callnya.


Kendra memasukan handphonenya ke saku, kemudian ia keluar dari rumah kontraknya. Saat Kendra membuka pintu, rupanya Amanda sudah menunggunya di luar. Amanda nampak terpesona melihat penampilan Kendra yang terlihat sangat rapih. 'Calon suami orang yang satu ini memang sungguh menggoda,' batinnya.


"Amanda..."


"Amanda... Bisa kita pergi sekarang?" tanya Kendra.

__ADS_1


Pertanyaan Kendra membuyarkan lamunannya, "Bi-bisa,"ia begitu gugup untuk menjawab pertanyaan Kendra.


"Kau sakit?"


Amanda langsung menggeleng dan berusaha untuk bersikap normal. "Tidak, aku hanya sedang memperhatikan kemeja yang Mas Kendra kenakan. Bagus."


"Ooh ini pemberian, Fay. Sebagian besar Fay yang memilihkan baju untukku, calon istriku itu memang punya selera yang tinggi dan begitu sangat perhatian kepadaku. Dia memperhatikan apa yang aku kenakan dan aku konsumsi. I love her." Kendra selalu tampak bersemangat ketika bercerita tentang calon istrinya.


"Ooh, ayo kita berangkat!" ajak Amanda, entah mengapa sepertinya Amanda tidak suka ketika Kendra memuji Fay di hadapannya, namun Kendra tak peduli karena menurutnya itulah yang ia rasakan kepada Fay.


Kendra pun masuk ke mobil dan pergi mengantar Amanda menuju pestanya.



Sekilas tak ada yang aneh saat Kendra memasuki ballroom hotel bersama Amanda, pesta mewah itu di gelar layaknya pesta ulang tahun biasa, Kendra melihat nampak orangtua dari sang pemilik hajat, beserta para keluarga besar dan beberapa orang penting yang turut hadir dalam pesta tersebut.


Dan benar apa yang di katakan Fay, bahwa Amanda nampak kesulitan berbaur dengan teman-teman yang sudah lama tak ia jumpai, hal ini terlihat ketika ada beberapa temannya yang menyapanya, Amanda seperti merasa sangat canggung.


Amanda tersenyum sembari menjabat tangan Alice. "Ya baru saja," ia melirik ke arah Kendra. "Kenalkan, ini.." sesaat Amanda menjeda ucapannya sebelum akhirnya ia berkata. "Kakakku?"


Alice hampir saja tersedak mendengar pernyataan Amanda, "Kau punya kakak laki-laki?" tanyanya seakan tak percaya, yang ia tahu jika Amanda hanya memikiki adik laki-laki. Alice pun mengulurkan tangannya ke arah Kendra. "Alice."


"Kendra," ucapnya sembari menerima jabatan tangan Alice.


"Ya, selama ini Mas Kendra tinggal di Jogja, jadi mungkin kau tak pernah bertemu," ucap Amanda.


Alice mengangguk, ia melihat ada banyak tamu yang harus ia sapa. "Okay, aku ke sana dulu ya," ia mengecup pipi Amanda sebelum ia melinggalkannya. "Enjoy this party."


Setalah Alice pergi Amanda mendekatkan bibirnya ke telinga Kendra. "Mas Kendra tidak apa-apa kan jika aku menganggap Mas, kakakku sendiri?" tanyanya. "Aku menganggap Mba Fay seperti kakak kandungku sendiri sehingga jika kalian menikah tentu Mas Kendra pun akan menjadi kakakku juga."

__ADS_1


Kendra mengangguk, ia sama sekai tak keberatan jika Amanda menganggapnya kakak.


Pesta berlangsung cukup meriah, hingga pukul 23.00 WIB ketika para orangtua sudah meninggalkan tempat, acara berubah menjadi party layaknya di club malam, banyak minuman beralkohol bertebaran di mana-mana.


"Manda, kita pulang saja yuk!" ajak Kendra.


Amanda yang suadah mulai berbaur dengan teman-temannya pun menolak ajakan Kendra. "Sebentar lagi Mas, Mas ikut gabung saja yuk," ia malah menarik Kendra ikut bergabung bersama teman-temannya.


Kendra langsung melepaskan tangan Amanda, "Tidak Amanda, kita harus pulang! Nanti ibumu mencarimu."


"Ibuku tidak akan mencariku, ia sangat percaya padamu," Amanda kembali menarik Kendra kedalam kerumunan teman-temannya. "Ayolah Mas, sebentarrrr... saja," bujuknya.


"Tidak!!" tolaknya. "Kau berpestalah sendirian, aku menunggumu di sana." Kendra menjuk kearah meja bar, kemudian ia pergi meninggalkan Amanda dan teman-temannya.


'Kupikir dia sungguhan introvert ternyata...' gerutunya, kemudian ia memesan segelas cocktail untuk menemaninya menunggu Amanda berpesta.


Tak lama kemudian pelayan membawakan pesanan yang di pesan oleh Kendra, namun belum sempat Kendra meminumnya Amanda menukarnya dengan champagne miliknya. "Mas Kendra cobain ini deh, enak banget loh."


"Apa ini?"


"Krug Clos d’Ambonnay," jawab Amanda.


"Oh ya?" tanyanya seakan tak percaya, karena sepengetahuannya Krug Clos d’Ambonnay merupakan champagne yang cukup langka dan pastinya sangat mahal.


Amanda mengangguk, "Tadi Alice yang memberi tahuku."


Kendra pun menerimanya kemudian ia meneguk champagne Krug Clos d’Ambonnay yang di berikan oleh Amanda kepadanya.


"Enak kan?"

__ADS_1


Kendra tak bisa berbohong jika minuman itu memang sangat enak.


"Mau lagi?" Amanda memesankannya lagi untuk Kendra.


__ADS_2