14 Februari

14 Februari
BAB 15


__ADS_3

Ada beberapa tema gaya yang mereka ambil untuk foto prewedding, mulai dari tema daily life yang di lakukan di studio foto, hingga tematik di mana mereka berdua bersepeda di kawasan Kota Tua.


Terik matahari yang menyengat siang situ, tak menyurutkan semangat dan kebahagian mereka dalam menjalani foto prewedding. Kendra membukakan tutup botol air putih kemasan, kemudian memberikannya kepada Fay. "Capek ya?" tanya Kendra sembari mengelap keringat yang menetes di dahi Fay.


Kendra berdiri di hadapan Fay, melindunginya dari sengatan matahari.


Fay mendongakan kepalanya memandang wajah Kendra. "Sedikit," jawabnya. "Jakarta panas banget ya, Ken?" ia terus mengibas-ngibaskan tangannya, meski sang MUA sudah mengipasinya dengan kipas portable namun tetap saja Fay merasa kepanasan.


Kendra menggeleng. "Bagiku aku dua hari ini sangat sejuk, karena adanya dirimu," Kendra mengangkat alisnya, seraya menggoda kekasihnya.


"Gombal kamu, Ken."


"Aku serius Fay," Kendra meraih tangan Fay, kemudian menciumnya. "Semalam aku membayangkan, jika bulan depan kau akan tinggal di sini, menemaniku selamanya." ia sudaah benar-benar tidak sabar menantikan hari bahagia yang selama ini sudah ia tunggu-tunggu.


Fay mengulurkan tangannya yang satu lagi, ia meminta bantuan Kendra untuk beranjak dari tempat duduknya. "Tapi aku belum lulus, sayang," ujarnya. "Aku masih harus tinggal di Jogja sampai aku menyelesaikan kuliahku." Fay merapihkan pakaian Kendra dan bersiap untuk sesi fotonya yang terakhir.


"Ya, tapi setidaknya setiap weekend kita bisa bersama entah itu di Jogja atau di sini."


Keduanya melanjutkan sesi foto terakhirnya, hingga pukul 16.00 sore barulah Kendra mengantar Fay menuju bandara untuk kembali ke Jogja.


Dalam waktu yang singkat itu, Fay dan Kendra banyak membahas rencana-rencana mereka untuk kedepannya baik itu mengenai persiapan pernikahan, isi apartement baru mereka, hingga perjanjian pranikah.

__ADS_1


"Fay, apa kamu menginginkan surat perjanjian pranikah?" tanya Kendra. Bukan tanpa alasan Kendra menanyakan hal itu, karena kini banyak pasangan yang me,buat sirat perjanjian sebelum mereka menikah.


Fay membalik tubuhnya menghadap Kendra yang tengah menyetir di sebelahnya, ia mengelus lengan Kendra dengan lembut. "Ken, aku niatkan pernikahan ini untuk ibadah," ucapnya dengan sepenuh hati. "Aku percaya penuh padamu, kau akan menjadi imam terbaik untukku dan anak-anak kita."


Kendra meraih tangan Fay kemudian menggenggamnya. "Terima kasih atas kepercayaannya. Aku pastikan ini akan menjadi ibadah kita yang paling menyenangkan seumur hidup kita, meski akan ada masalah yang menghadang, kita akan sama-sama melewatinya."


Jika biasanya Kendra-lah yang pergi, kini gilaran Fay pergi. Kendra sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya, rasanya terlalu berat untuk melepas Fay kembali pulang ke Jogja.


"Ken, aku harus check in pesawat.." Fay mencoba melepaskan tangan Kendra, namun Kendra malah membawa Fay kedalam dekapannya. "Kau adalah hal terbaik yang Allah berikan padaku. Aku sangat mencintaimu, Fay."


"Kau juga, kau adalah kado terbaik yang Allah berikan kepadaku, dan bulan depan aku akan memilikinya seumur hidupku." Fay melepaskan pelukan Kekasihnya, kemudian ia meraih tangan Kendra dan menciumnya. "Aku masuk dulu ya sayang." Fay mulai menarik kopernya dan berjalan masuk.


Kendra memandangi punggung Fay yang mulai menjauh darinya, hingga Fay sudah tak terlihat lagi, barulah Kendra kembali pulang ke kontrakannya.



"Mbak Faynya mana mas?" tanya Amanda ketika Kendra berjaln mendekat ke arahnya, ia menoleh ke arah mobil Kendra mencari sosok Fay.


"Fay baru saja pulang," jawab Kendra datar. "Memangnya ada apa kamu kemari?" tanya Kendra, sebenarnya ia sudah sangat lelah untuk meladeni Amanda, namun karena ia masih menghargai Amanda sebagai anak pemilik kontrakannya dan sebagai adik sepupu calon istrinya, terpaksa Kendra meladeni Amanda.


Wajah Amanda tampak ragu, namun kemudian ia mengatakan, "Besok malam temanku ulang tahun, dia mengadakan pesta reuni teman-teman SMAnya" ucap Fay.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku sudah lama sekali tidak pulang ke Indonesia, jadi aku tidak punya teman yang bisa aku ajak ke pesta tersebut."


"Mengapa kamu tidak ajak Gibran saja?" menurut Kendra, Gibran sudah cocok untuk menemani Amanda datang ke pesta. Selain Gibran memiliki tubuh yang tinggi besar, tentu tak akan ada orang yang mengira jika Gibran adalah adik dari Amanda, Gibran pun tentunya akan menjaga kakaknya.


"Gibran?!!"


"Gibran masih SMA, mas!! Aku tidak mungkin mengajaknya, karena Ibu pasti tidak akan izinkan Gibran dia datang ke pesta." tolak Fay.


Kendra nampak berpikir sejenak untuk menyampaikan penolakan dirinya. "Begini Amanda," ucap Kendra. "Minggu ini aku sedang banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi mohon maaf aku tidak bisa menemanimu." Kendra hendak membuka pintu kontrakannya namun Amanda menahannya.


"Apa karena mba Fay?" tanyanya sembari menatap Kendra. "Nanti aku akan bilang padanya."


"Amanda, bukankah itu acara teman-temanmu? Tentu seharusnya tidak masalah jika kau datang sendirian, karena nantinya di sana kau akan bertemu dengan teman-temanmu, bukan?" Selain menjaga perasaan Fay, alasan lainnya Kendra menolak Amanda adalah karena ia sama sekali tak tertarik untuk datang ke sebuah pesta, terlebih jika melihat penampilan Amanda yang tak jauh berbeda dengan Luna tentu pesta yang di maksud Amanda bukan pesta makan malam biasa.


Amanda tertunduk lesu atas penolakan Kendra kepadanya. "Aku sudah lama sekali tak bertemu dengan teman-temanku, aku tidak tahu apa mereka berubah atau tidak? Tapi yang jelas aku akan canggung, untuk itulah aku mengajak Mas Kendra. Tapi jika Mas Kendra tidak mau menemaniku, aku juga tidak akan datang ke pesta itu." Amanda membalik tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari rumah kontrakan Kendra.


Kendra yang merasa tak enak hati melihat wajah lesu Amanda, akhirnya memanggilnya kembali. "Amanda," panggilnya. "Aku tidak bisa janji, tapi aku akan usahakan."


Seketika wajah Amanda berubah menjadi bahagia, "Benarkah?" ia berbalik menghadap Kendra.

__ADS_1


Kendra mengangguk. "Iya, tapi aku tidak janji, karena aku benar-benar sedang banyak pekerjaan dan sibuk mengurus persiapan pernikahanku."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tunggu kabar baiknya." Amanda tersenyum, kemudian ia pergi meninggalkan rumah kontrakan Kendra.


__ADS_2