14 Februari

14 Februari
BAB 26


__ADS_3

Pukul 23.00 usai nmengobrol panjang bersama Luna, Kendra pamit kembali pulang. "Jangan segan-segan datang kemari jika kau butuh untuk bercerita, aku akan selalu siap mendengar ceritamu," ucap Luna saat ia mengantarkan Kendra ke pintu depan apartementmya.


Kendra mengangguk. "Aku akan datang lagi untuk bayi tampanmu," ia melangkahkan kaki meninggalkan unit apartement luna. Di dalam lift Kendra berpikir, bahwa apa yang di katakan Luna memang ada benarnya, dirinya tak seharusnya sekasar itu dengan wanita yang tengah mengandung, terlepas Amanda bersalah apa tidak, apa yang di lakukannya tentu menyakiti janin dalam kandungan Amanda, namun Kendra sendiri tak tahu harus memulainya dari mana, sebab baru melihat Amanda saja dirinya sudah sangat kesal dan emosi.


Pintu lift terbuka, Kendra berpapasan dengan asisten rumah tangganya yang tengah memegang koper milik Amanda di tangannya. "Bibi mau kemana?" tanyanya dengan nada curiga, sebab wanita paruh baya itu terlihat seperti sedang terbu-buru.


"Mau ke rumah sakit, Pak Kendra," jawabnya dengan raut wajah yang sangat gelisah. "Tadi pagi, bu Amanda mengalami flek dan kram, sehingga saya membawanya ke rumah sakit."


Kendra terkejut mendengar jawaban asisten rumah tangganya, ia meminta asistennya segera masuk ke lift. "Mengapa bibik tidak menghubungiku?" tanya Kendra dengan cemas.


Bik Ijah tertunduk, ia tak berani menatap Kendra. Baru dua hari ia bekerja bersama Kendra dan Amanda, ia menilai jika majikannya itu sangat galak terlebih saat pagi tadi ia tak sengaja mendengar pertengkaran Kendra dengan Amanda. "Maaf pak Kendra, Bu Amanda yang melarang saya, untuk menghubungi Pak Ken. Ibu tidak ingin mengganggu Pak Kendra kerja."


"Lalu sekarang siapa yang menunggu Amanda di rumah sakit?" tanyahya kembali.


Bik Ijah menggelengkan kepalanya."Tidak ada," jawabnya. "Tapi tadi sebelum saya pergi, saya meminta perawat untuk menjaga bu Amanda."


Kendra semakin panik, begitu pintu lift terbuka, ia mempercepat langkahnya menuju mobilnya. "Ayo cepat bik!" ia meraih koper Amanda dan memasukannya ke bagasi mobilnya.


Kendra mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi sehingga hanya butuh waktu dua puluh menit untuk Kendra tiba di rumah sakit. "Amanda di ruang mana?" tanya Kendra.


"Di Aster, pak Ken," jawabnya sembari mengarahkan Kendra menuju ruang Amanda di rawat.


Begitu masuk ke ruang rawat inap istrinya, Kendra tertegun melihat Amanda berbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Perlahan Kendra mendekat ke arah istrinya, ia menaikan selimut hingga ke dada Amanda. Kendra duduk di samping Amanda, kemudian mengelus perutnya dengan lembut. "Maafkan aku," bisiknya, ada perasaan menyesal dalam diri Kendra karena telah membentak Amanda pagi tadi. Lama ia memandangi Amanda, Kendra pun tertidur di sampingnya.

__ADS_1



Pagi harinya Amanda terkejut dengan keberadaan Kendra yang tertidur di sampingnya, ia mengelus rambut Kendra hingga Kendra terbangun dari tidurnya.


"Mas Kendra kenapa tidur di sini?"


Kendra meregangkan otot tubuhnya, tidur di kursi semalaman membuat tubuhnya sedikit pegal. "Semalam bibik bilang kamu di rawat, kenapa kamu tidak menghubungiku atau paling tidak kamu menghubungi orangtuamu."


"Aku baik-baik saja mas, hanya butuh istirahat." Amanda tersenyum ke arah Kendra. "Terima kasih ya, mas Kendra sudah menemaniku."


Kendra mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian menarik meja makan pasien. "Kamu makan dulu ya, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksamu."


Aroma daun bawang yang menyengat pada sup di hadapnnya, membut perut Amanda bergejolak. "Hoeek..." tanpa sengaja Amanda memuntahkan isi perutnya ke samping hingga mengenai pakaian Kendra.


"Teruma kasih mas," ucap Amanda. "Aku baik-baik saja mas, hanya saja jika mencium aroma daun bawang, rasanya sangat mual."


"Apa itu yang di namakan ngidam?" tanya Kendra dengan polosnya.


Amanda mengangguk. "Mas Ken tidak perlu khawatir, kata dokter ini hanya di trimester awal saja." Amanda memperhatikan pakaian Kendra yang terkena muntahan dirinya. "Maaf ya mas."


"Tidak apa-apa, nanti aku bersihkan sekalian aku mandi," ucap Kendra sembari menaruh emesis basin, kemudian ia mencuci tangannya dan memisahkan daun bawang pada sup dan bubur Amanda. "Di habiskan ya, setelah itu minum obatnya. Aku mau mandi dulu."


"Terima kasih ya mas."

__ADS_1


Kendra mengangguk, sebelum masuk ke kamar mandi, ia meminta asisten rumah tangganya untuk menemani Amanda sarapan dan minum obat.


Didalam kamar mandi ia memandangi dirinya di depan cermin wastafel. "Benar apa yang di ucapkan Luna, ini tak seburuk yang aku pikirkan. Aku bisa bersikap baik kepadanya demi anak dalam kandungan Amanda, sambil perlahan meminta Amanda untuk berterus terang mengenai kejadian malam itu dan menyelesaikan masalah ini secara baik." Kendra mengangguk. "Hanya 7 bulan, dan itu tidak akan sulit."


Setelah membersihkan tubuhnya, Kendra kembali ke ruangan, ia melihat Amanda tengah di periksa oleh dokter. "Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Kendra.


Sama seperti bulan lalu, dokter mengatakan jika kandungan Amanda terbilang lemah dan cukup rawan, sehingga Amanda harus bed rest total selama beberapa hari, dan dokter meminta Kendra untuk ikut menjaganya.


"Baik dok, terima kasih," Kendra mengantarkan dokter keluar dari ruang rawat inap istrinya, setelah itu Kendra mengambil laptop dan duduk di samping Amanda.


"Mas tidak ke kantor?"


Kendra menggeleng. "Aku sudah izin tidak masuk," jawabnya sembari fokus pada layar laptopnya. "Tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Mendengar Kendra tidak masuk kerja demi menemani dirinya, membuat hati Amanda merasa senang, namun di sisi lain Amanda tak enak hati karena ia tahu, jika Kendra sangat mencintai pekerjaannya. "Boleh aku tahu apa yang mas Kendra kerjakan?"


Kendra menutup sedikit laptopnya, lalu kemudian menatap Amanda. "Aku bekerja di bursa aset kripto Indonesia, sebagai Crypto Content Writer," ia menjelaskan sedikit menenai jobdesknya dan dateline pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Ya aku pernah lihat beberapa konten itu di internet, tapi kenapa aku tidak menemukan konten seri 'Bitcoin for Beginners'?"


Kendra berpikir sejenak ia memang belum pernah membuat konten untuk pemula. "Terima kasih, untuk idenya." ia kembali membuka laptopnya dan kembali bekerja, sambil sesekali berdiskusi dengan Amanda dan mengelus perutnya.


Ia tak menyangka jika sudah hampir satu tahun Amanda bermain crypto, sehingga obrolan mereka menjadi sangat berkembang. 'It's not so bad,' gumam Kendra

__ADS_1


__ADS_2