14 Februari

14 Februari
BAB 32


__ADS_3

Tiga Bulan kemudian.


Setelah menyelesaikan Program Profesi Dokter (Koas), masih ada tahapan yang harus Fay jalani, yaitu Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang satu-satunya ujian yang diselenggarakan oleh negara bagi calon dokter Indonesia untuk mendapatkan gelar dokternya.


Ujian ini terdiri dari 2 bagian, yaitu CBT/Computer Based Test (tes berbasis komputer) dan OSCE/Objective Structured Clinical Examination (tes roleplay dokter dan pasien).


Minggu lalu Fay sudah menjalani CBT/Computer Based Test (tes berbasis komputer), ada sekitar 200 soal pilihan ganda yang harus Fay jawab. Dari 200 soal tersebut diambil dari 13 topik berbeda dengan komposisi jumlah soal yang beragam dari masing-masing topik. Ke 13 topik tersebut antara lain: Indra (THT dan Mata), Reproduksi, Gastrointestinal, hepatobilier, dan pankreas, Forensik dan medikolegal, SarafIntegumen (Kulit), Respirasi, Kardiovaskuler, Ginjal dan saluran kemih, Hematologi dan imunologi, Muskuloskeletal, Endokrin metabolik dan nutrisi, Psikiatri.


Sementara minggu ini, Fay akan menjalani OSCE (Objective Structured Clinical Examination), bagi Fay ini jauh lebih menegangkan di bandingkan test minggu lalu karena ia harus mempraktekkan skill sesuai standar kompetensi dokter umum Indonesia.


"Nanti akan ada 12 station dengan 12 topik berbeda, biasanya waktu yang diberikan adalah 15 menit di setiap station," ucap Kevin. Selama tiga bulan ini, dengan setia dan penuh kesabaran ia menemani Fay.


Kevin bukan hanya membantu Fay belajar, namun ia juga jadi tempat Fay berkeluh kesah menumpahkan segala kegalauan hatinya. "Mas, aku takut hiks...."


Kevin meminta Fay menatap matanya, melihat Fay yang napak stres dalam menghadapi ujian, Kevin seperti dirinya dulu saat masih menempuh pendidikan kedokterannya. Dengan lembut Kevin menghapus air mata Fay dengan jemarinya, ia menggenggam erat tangan Fay dan berkata, "Stay focus, Fay. Aku yakin kamu pasti bisa!!" ia terus meyakinkan Fay agar Fay lebih percaya diri dalam menjalani ujian besok pagi. "Bukankah kamu sering mengatakan jika kamu merasa tidak enak karena telah membebani ayah dengan biaya pendidikanmu yang tidak sedikit ini?"


Fay mengangguk, tak bisa ia pungkiri jika ayahnya pernah menjual beberapa asset untuk membayar biaya kuliahnya, sehingga Fay tak ingin mengecewakan orangtuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu kau harus sungguh-sungguh dan yakin pada dirimu sendiri. Aku saja yakin masa kamu tidak," Kevin mengelus tangan Fay dengan ibu jarinya. "Kamu jangan takut, besok aku temenin."


Mata Fay langsung berbinar-binar, mendengar jika Kevin akan menemaninya, meskipun ia tahun jika Kevin tak bisa membantunya, namun dengan adanya Kevin bisa sedikit menghilangkan rasa gugupnya. "Benarkah mas?"


Kevin tersenyum sembari mengangguk. "Sekarang belajar lagi ya," ia kembali membuka buku kapita selekta neurologi, dan mulai mengajukan pertanyaan kepada Fay.


Lama mereka berdiskusi, saling melempar pertanyaan, hingga pukul 23.00 Fay tertidur bersandar pada penyanggah sofa. Kevin memandangi Fay cukup lama, sampai Ratri yang baru saja merapihkan dapur datang menghampiri mereka di ruang tamu.


Kevin langsung memberi kode kepada, Ratri bahwa Fay tidur. Ingin rasanya ia memindahkan Fay ke kamarnya, namun rasanya kurang sopan, sehingga ia hanya merapihkan buku-buku yang berserakan di meja dan mematikan laptopnya.


"Tidak apa-apa, nak Kevin. Biarkan Fay tidur sebentar di sini, nanti ibu temani sampai ayah selesai zoom meeting," ucap Ratri.


"Wlaikumsalam," jawab Ratri. "Hati-hati ya nak, terima kasih sudah banyak banyak membantu Fay belajar," Ratri mengantarkan Kevin hingga pintu gerbang kediamannya.



Ingin rasanya Kevin menepati janjinya untuk menemani Fay, namun mendadak ia mendapatkan panggilan dari rumah sakit jika ada pasien kecelakaan yang harus ia operasi. "Maafin aku ya, Fay. Aku tidak bisa menepati janjiku," ucapnya dengan nada kecewa.

__ADS_1


"Mas tidak perlu minta maaf, keselamatan pasien adalah prioritas utama kita sebagai seorang dokter," ucap Fay sembari tersenyum. "Terima kasih sudah mengantarku," ia membuka sabuk pengamannya dan mengenakan tas selempangnya. "Aku turun dulu ya mas, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," jawab Kevin, kemudian ia membuka kaca mobil bagian sisi kiri. "Nanti aku jemput ya, Fay. Semangat!!"


"Semangat juga untuk, mas. Bye," Fay melambaikan tangannya ke arah mobil Kevin yang mulai bergerak perlahan meninggalkan dirinya.


Semua peserta duduk di depan ruang ujian, saat itu semua peserta berdo'a agar mendapatkan kemudahan dalam menjalankan soal yang diberikan, tak terkecuali dengan Fay, ia membuka buku doa yang di berikan oleh Kevin, kemudian membacanya.


Saat bel sudah berbunyi, Fay menyimpannya kembali buku doanya, kemudian ia berdiri dan membaca soal di depan pintu selama 1 menit. Jantungnya berdegup kencang karena sama sekali tidak ada kisi-kisinya sebelumnya, benar-benar full random, dan biasanya soal akan berbentuk sebuah skenario yang harus ditentukan tindakan-tindakan apa saja yang harus dilakukan.


Setelah membaca skenario, bel kembali berbunyi yang menyatakan peserta diperbolehkan memasuki ruangan.


"Bismillahirrahmanirrahim," Fay melangkah dengan penuh keyakinan. Setelah masuk ruangan, ia mulai observasi ruangan, cek alat yang tersedia lalu duduk di kursi dokter dan berhadapan dengan pasien-pasienan. Mengapa pasien-pasienan karena ternyata yang datang adalah adik tingkatnya yang ia kenal baik, namun keduanya tetap profesional.


Fay tersenyum kemudian mulai melakukan anamnaesis, di lanjutkan dengan mencuci tangan sebelum ia mengerjakan tindakan, selesai tidakan Fay memberikan edukasi, resep dan wejangan terhadap penyakit yang telah ia diagnosa.


Fay menghela nafas leganya. 'Alhamdulillah satu ruangan selesai, ayo semangat Fay,' batinnya terus memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Ia kembali ke suasana sebelum ujian, ia duduk di kursi, kemudian membaca soal lagi, dan mengerjakan tindakan lagi.

__ADS_1


Begitu seterusnya hingga bel berbunyi yang menyatakan jika OSCE telah selesai, dan peserta dipersilahkan meninggalkan ruangan. Saat keluar, ternyata Kevin sudah menunggunya. "Loh bukannya mas ada operasi?"


"Hanya operasi pemasangan pen," jawabnya. "Cari makan dulu yuk, aku sudah lapar," ia meraih tangan Fay kemudian menggandengnya menuju parkiran.


__ADS_2