14 Februari

14 Februari
BAB 18


__ADS_3

Kendra terbang menuju Yogyakarta untuk menemui calon istrinya. Setibanya di jJgja Kendra langsung menemui Fay di rumah sakit tempat Fay melakukan program profesi.


Fay sangat terkejut ketika salah seorang temannya mengatakan padanya, jika Kendra sedang berada di ruang tunggu, menunggu dirinya. "Benarkah?" ia menyerahkan berkas laporan bangsal dan meminta temannya untuk memeriksa bangsal terakhir, baru kemudian ia bergegas menemui Kendra di ruang tunggu.


Begitu tiba di ruang tunggu, Fay nampak heran melihat Kendra terlihat berantakan dan masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang semalam ia kenakan "Sayang?" Fay lebih mendekat satu langkah ke arah Kendra. "Tumben sekali kamu datang kemari di hari kerja? Kamu tidak ke kantor?" Fay mengelus dada dan lengan Kendra. "Semalam kamu tidak pulang?"


Kendra nampak bingung menjawab semua pertanyaan Fay, ia sama sekali tak menyiapkan jawaban untuk semua pertanyaan tersebut, karena tujuannya datang ke Jogja hanya untuk menemui Fay dan menyakinkan Fay bahwa ia begitu mencintai Fay. "A-aku.." jawabnya terbata-bata.


"Semalam setelah mengantar Amanda ke pesta, rupanya Amanda menginap di tempat Alice dan kebetulan Pak William memintaku membuat konten malam itu juga sehingga aku langsung ke kantor." Kendra tak punya alasan lain, sehingga mau tak mau ia kembali membawa nama atasannya. "Setelah pekerjaanku selesai aku meminta izin tidak masuk kantor untuk beristirahat, namun rasanya aku terlalu rindu padamu sehingga aku datang kemari."


Fay memegang wajah Kendra. "Kamu manis sekali sayang, aku juga sangat merindukanmu." ia melihat jam di tangannya. "Tapi sayangnya sekarang aku harus memantu Riri membuat laporan, kamu tidak keberatankan jika menunggu di sini sebentar?" tanya Fay.


Kendra menggeleng. "Kerjakanlah, aku akan menunggumu."


"Sebentar ya paling lama lima belas menit, aku akan kembali lagi." ia membalik tubuhnya dan bergegas meninggalkan Kendra.


Sembari menunggu kekasihnya menyelesaikan lapornnya, Kendra menghubungi bude Jum, ia tak ingin terlihat seperti pria yang tak bertanggung jawab yang membiarkan Amanda pulang sendirian.


"Tidak apa-apa Ken, bude sangat mengerti kamu sibuk, lagi pula Amanda menginap di tempat Alice jadi kamu tidak perlu menjemput dan mengantarnya pulang," ucap bude Jum dari seberang telepon.


Kendra menghembuskan napas leganya karena Amanda betul-betul menyampaikan apa yang ia minta. "Ya sudah kalau begitu bude, aku masih ada urusan yang harus aku kerjakan." Kendra mengakhiri pembicaraannya.


"Iya nak, terima kasih banyak ya sudah menemani Amanda semalam."

__ADS_1


"Sama-sama bude, Assalamualaikum" Kendra pun menutup sambungan teleponnya.


Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Fay kembali menemui Kendra. "Maaf ya menunggu lama," ucap Fay


Kendra tersenyum melihat Fay mengenakan jas dokter, ia terlihat semakin cantik dan sangat mengagumkan. "Harusnya aku yang minta maaf karena telah menggagumu."


"Kamu tak pernah menggangguku, sayang." Fay mengulurkan tangannya. "Kita keluar sekarang yuk!!" ajaknya.


Hari itu Kendra meminta Fay menemaninya meeting bersama WO untuk mengecek persiapan pernikahan mereka dan juga melunasi semua tagihan. Mereka berkeliling melihat venue dengan di temani oleh team WO sembari membahas dekorasi yang akan mereka gunakan di pernikahan mereka, kemudian di lanjutkan dengan test food sebelum menentukan katering mana yang mereka pilih


Kendra langsung jatuh hati pada salah satu katering yang berasal dari Bantul. "Aku pilih ini saja tapi minta tambahan menu bakmi godog," pinta Kendra.


"Baik Pak Kendra, nanti kami akan sediakan satu stand untuk bakmi godog, di sebelah es dawet."


Kendra mengangguk setuju, ia tidak ingin ada satu pun makanan kesukaan calon istrinya yang tidak ada dalam acara pernikahannya.


"Tidak apa-apa sayang, agar kamu bisa sekalian wisata kuliner di acara pernikahan kita."


"Nanti aku gendut loh, Ken!!"


Kendra tertawa. "Kamu pasti akan sangat menggemaskan jika gendut." ia menggenggam erat tangan Fay. "Aku tidak peduli dengan berat badanmu sayang, aku sudah terlanjur jatuh hati padamu."


Fay tersipu setiap kali Kendra manatapnya sembari mengungkapakan perasaannya. "Aku pun merasakan hal yang sama."

__ADS_1


Puas meninjau venue dan memilih katering, tujuan mereka selanjutnya adalah butik baju pengantin.


Kemarin akundapat kabar, jika baju resepsi untukku masih dalam proses, Ken."


"Tidak apa-apa, aku mau lihat yang sudah ada saja." ia menggandeng tangan Fay menuju butik.


Mereka berdua menjajal semua pakaian yang akan mereka kenakan untuk semua rangkaian acara mereka, mulai dari pengajian, malam midodareni hingga akad nikah. Kendra nampak terpesona saat melihat Fay mengenakan kebaya untuk akad nikah mereka nanti. "Kamu cantik banget Fay," puji Kendra "Aku semakin tidak sabar menanti hari bahagia kita."


"Sabar sayang, tinggal 25 hari lagi."


Tak hanya Kendra saja yang terpesona dengan penampilan Fay, Fay pun nampak terpesona ketika melihat Kendra mengenakan Jawi Jangkep yang terdiri dari atasan hitam berpadu dengan jarik sebagai bawahan. "Kamu juga tampan sekali mengenakan ini," ia meminta Kendra untuk berputar agar Fay dapat melihat pakaian yang di kenakan calon suaminya secara keseluruhan untuk memastikan tidak ada kurang. "Sempurna!!"


Tak hanya mengecek gedung, katering dan pakaian pernikahan. Undangan dan souvenir pun tak luput dari perhatian Kendra, hanya saja undangan dan souvenir masih dalam tahap pengerjaan.


"Saya pastikan minggu depan semuanya akan beres," ucap sang pemilik percetakan di mana Kendra dan Fay mempercayakan undangan dan souvenir pernikahan mereka.


Kendra mengangguk, ia cukup puas dengan desain undangan yang ia desain sendiri, kemudian ia memeriksa souvenir pengajian, akad dan resepsi yang Kendra buat berbeda. "Kenapa banyak sekali souvenirnya, Ken?" tanya Fay.


"Semuanya memiliki makna masing-masing, aku ingin tamu undangan bisa merasakan makna di setiap rangkaian acara kita."


Menjelang sore, Kendra mengajak Fay ke pantai tempat biasa mereka merayakan anniversary, mereka berdua berjalan menyusuri pantai sembari mengobrol mengenai masa depan mereka berdua.


Kendra menghentikan langkahnya dan meninta Fay untuk menetapnya "Fay, jika suatu hari kamu mendapati berita yang mungkin saja membuatmu kecewa, apa kau meninggalkanku?"

__ADS_1


Fay berpikir sejanak sembari menghembuskan napas pelan, "Bukankah kamu tahu, jika aku tak pernah percaya ucapan orang lain sebelum melihatnya secara langsung dan meminta konfirimasi darimu?" Fay membalas tatapan Kendra. "Semua orang memiliki potensi mengecewakan, karena kita hanyalah manusia biasa. Asalkan kamu mau belajar, aku pasti akan selalu menerimamu."


Kendra merengkuh Fay kedalam pelukannya. 'Tidak ada yang perlu aku khawatirkan, tadi malam hanyalah kecelakaan dan aku sama sekali tak bersalah. Aku yakin semua rencana-rencana besar yang kami susun akan berjalan dengan lancar.' batin Kendra.


__ADS_2