
Satu Bulan Kemudian
Pukul 00.00 tengah malam, seluruh anggota keluarga Fay berkumpul di ruang keluarga, mereka semua tidak sabar menantikan pengumuman Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang di umumkan secara online.
Icha bersorak bahagia, ketika kakaknya di nyatakan LULUS. "Congratulations, mbaku sayang," dengan mata yang berkaca-kaca ia memeluk Fay dengan erat. "A-aku bengga sekali memiliki kakak sepertimu," ia tak bisa berkata-kata, sebab Icha teramat bahagia atas kelulusan kakaknya, mengingat jalan yang di lalui kakaknya tidaklah mudah, terlebih saat kakanya berada di titik terendahnya, ketika batalnya rencana pernikahan kakaknya dengan Kendra.
"Terima kasih ya dek,"Fay membalas pelukan hangat adiknya. "Mba juga bangga punya adik sepertimu, yang sebentar lagi akan menjadi calon pengacara yang hebat," ia menggapus air mata Icha, kemudian mengecup kedua pipinya.
Fay beralih ke kedua orangtuanya, yang sedari tadi melihat kedua anak-anaknya saling berpelukan, mereka bukan hanya bangga dengan prestasi anak-anak mereka tapi juga bangga dengan kedekatan keduanya yang saling support dan menyayangi satu sama lain. "Selamat ya sayang," Ratri memeluk dan mengecup pipi putri sulungnya bergantian dengan Adikara, suaminya.
"Sudah malam, kita istirahat. Besok kalian masih ke kampus kan?" ucap Ratri, merka mengucapkan selamat sekali lagi kepada Fay sebelum mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Sebagai ungkapan rasa syukur dan mengapresiasi keberhasipan putri sulung mereka, Adikara dan Ratri mengajak kedua anak mereka makan malam bersama di sebuah restoran ternamaan.
Malam itu Fay di kejutkan dengan kedatangan Kevin, yang ikut bergabung bersama mereka. "Selamat ya, Fay." Kevin memberikan sebuah buket bunga cantik untuk Fay.
"Terima kasih banyak, mas," ia menerima buket tersebut dengan senang hati, sekilas Fay mencium aroma bunga pada buket di terimanya. "Ini semua berkat dukungan dari mas Kevin, sekali lagi terima kasih banyak ya mas."
Makan malam berlangsung dengan hangat, kedekatan yang terjalin antara Kevin dengan keluarga Fay semakin akrab, ia seperti merasakan kembali memiliki keluarga yang utuh. Terlebih kedua orangtua Fay sangat perhatian padanya, bahkan kedua orangtua Fay hafal dengan makanan kesukaan Kevin.
"Tumben, cumi bakarnya tidak di habiskan nak," ucap Ratri kepada Kevin, ia melihat ada dua sisa cumi bakar yang masih terdapat di pada piring saji. "Biasanya kamu sama Icha suka berebut sama Icha," sambung Adikara.
__ADS_1
Kevin tertawa, "Cumi bakar buatan ibu sangat juara, sayang jika di lewatkan."
"Palingan Mas Kevin lagi jaga image tuh bu, takut ada pasiennya yang lewat, kan malu kalau ternyata Mas Kevin makannya banyak," Icha menimpalinya.
"Husst engga boleh gitu." Ratri melarang putri bungsunya untuk tidak bercanda dengan keterlalun terhadap Kevin. Alih-alih tersinggung dengan ucapan Icha, Kevin justru tertawa, "Ya itu juga termasuk alasannya," ucap Kevin.
Selesai makan, Kevin beranjak dari tempat duduknya, ia mendekat ke arah Fay dan berlutut di hadapannya sembari menyodorkan sebuah cincin untuk gadis yang sudah lama ia kagumi. "It's your smile. The first time I saw it, I knew I wanted to see it for the rest of my life. Will you marry me?" Kevin menatap Fay dengan penuh harap.
Fay terdiam, sebenarnya sejak awal saat Kevin mulai intens mendekatinya ia sudah menduga hal ini akan terjadi, namun Fay masih tak menyangka akan secepat ini dan Kevin langsung melamarnya bukan sekedar menjadi kekasihnya. Sekelebat bayangan Kendra kembali muncul. Kendra merengkuh dirinya dalam pelukannya, sembari berkata. "Fay kamu harus percaya, bahwa aku tidak melakukannya." isak tangis dan tatapan penuh harap Kendra saat itu masih jelas dalam benak Fay.
Bahkan ia masih merasakan ketika Kendra menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dan berbisik lirih "Please Fay, kasih aku waktu untuk membuktikan bahwa aku tak bersalah, bayi yang di kandung Amanda bukan anakku. Aku sama sekali tidak pernah menyentuh Amanda!!!" sorot mata ketakutan Kendra, akan kehilangan dirinya masih terekam jelas dalam memorinya.
"Fay," panggilan dari kedua orangtuanya yang juga menuggu jawaban Fay, menyadarkannya dari lamunan tentang Kendra.
"Ma-maaf mas, sepertinya aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Fay.
Kevin berbalik menghadap kedua orangtua Fay, kemudian ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas undangan makan malam mereka. "Aku pulang dulu ya, Fay," Kevin pun melangkah meninggalkan restoran.
Sebelum tidur, Ratri menyempatkan diri untuk deeptalk bersama putri sulungnya untuk membahas mengenai lamaran Kevin tadi. Sebenarnya ia kecewa terhadap sikap putri sulungnya, karena dari awal ia sudah memberinya leringatan sehingga seharusnya Fay sudah memiliki jawaban untuk lamaran Kevin tadi. "Apa karena Kendra?"
Fay terdiam karena memang dugaan ibundanya benar adanya. Ratri meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat. "Jika kamu masih mau menunggu Kendra, seharusnya kamu tidak membiarkan Kevin masuk ke kehidupanmu terlalu dalam."
__ADS_1
"Tapi bu..."
"Kamu itu harus ingat, Fay. Kendra itu sudah menikah, tidak baik mengharapkan orang lain bercerai," ucap Ratri dengan serius. "Apa jangan-jangan selama ini kamu hanya menjadikan Kevin guru les gratismu untuk mempermudah proses belajarmu menghadapi ujian kemarin?"
"Ibu kok ngomong gitu?"
"Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk melamar (wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut (dengan wanita kalian). Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)" ucap Adikara dari alik pintu kamar putri sulungnya. "Kamu boleh menolak Kevin jika kamu merasa agama dan akhlaknya kurang baik," sambungnya.
"Percayalah nak, memiliki imam yang agama dan akhlaknya baik, akan menentramkan hidupmu dan anak-anakmu. Cinta itu bisa di pupuk bersama, seperti dulu kau memupuknya bersama Kendra."
Adikara mengajak istrinya kembali ke kamar untuk memberikan Fay waktu untuk berfikir. "Pikirkan baik-baik ya nak," Ratri mengelus lengan Fay kemudian ia mengikuti suaminya keluar dari kamar putri sulungnya.
Tiga hari kemudian, secara tiba-tiba Fay datang ke rumah sakit tempat Kevin bertugas. "Hai, tumben kamu ke sini tidak memberi kabar?" Kevin celingukan mencari orangtua, saudara, atau seseorang yang datang bersama Fay. "Kamu sama siapa? Apa ada yang sakit?"
"Aku datang sendiri mas, sambil lewat mau ke kampus." Fay menyodorkan sebuah totebag. "Tadi aku bikin makan siang untuk mas Kevin, semoga mas Kevin suka dengan masakan calon istri mas Kevin."
Seketika Kevin langsung terkejut mendengar ucapan yang terlontar dari mulut "Calon istri? Jadi, kamu menerima lamaran mas?" tanyanya memastikan.
Fay tersenyum sembari mengangguk. Kevin langsung merogoh saku celananya, ia mengambil sebuah kotak cincin dan bergegas menyematkan cincin tersebut ke jari manis Fay. "Terima kasih banyak ya, Fay." ia memegang bahu Fay, hendak memeluknya namun Kevin mencoba menahan dirinya. "Masih belum boleh," ucapnya.
Fay tersipu melihat tingkah Kevin. "Ya sudah kalau begitu aku ke kampus dulu ya, mas. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawab Kevin. "Sayang, kabarin aku ya jika sudah sampai, maaf tidak bisa mengantarmu ke parkiran," Kevin menoleh ke belakang melihat banyaknya pasien yang menunggu dirinya.
"Tidak apa-apa mas, aku mengerti. Yang terpenting makan siangnya nanti di habiskan ya," Fay melambaikan tangannya, kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit.