14 Februari

14 Februari
BAB 34


__ADS_3

Mendengar suara pintu kamar tertutup dan derap langkah yang semakin mendekat ke arah dapur, Amanda langsung berbalik dan menyapa Kendra. "Morning mas...." kalimatnya terhenti, berganti dengan suara tawa ketika melihat Kendra mengenakan pakaian ala tokoh Aladin. "Mas Ken mau kemana pakai baju itu pagi-pagi begini?" tanyanya heran.


"Ke kantor," jawabnya dengan santai, sembari melihat penampilannya. "Ketampananku tidak berkurang kan?" tanyanya dengan penuh rasa percaya diri sambil berpose di depan meja makan.


Amanda semakin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Kendra, ia menghampiri suaminya sembari membawa dua lasagna panas yang baru saja ia keluarkan dari oven. "Ya enggak sih, tapi aneh aja, masa mas Ken ke kantor pakai pakaian ini? Tadi pagi aku sudah siapin baju kerja mas Ken di kamar,"


Kendra menarik kursi dan duduk di meja makan. "Ini kerjaan Ray, dia mengusulkan jika setiap hari jum'at kita cosplay, temanya di kocok seperti arisan," jawab Kendra. "Teman-teman yang lain pada setuju, jadi mau tidak mau aku acc."


Amanda mendengarkan cerita Kendra sembari memasukan lasagna buatannya ke dalam wadah kedap udara. "Ini extra cheese untuk mas Ken, dan yang ini untuk teman-teman mas Ken." Amanda membedakannya karena ia tahu Kendra sangat menyukai keju.


Kendra mengangguk sembari memasukan salad buatan Amanda, ke mulutnya. Saat ini mulai mau memakan makanan buatan Amanda karena ia menilai jika Amanda tidak akan lagi menaruh obat tidur ke dalam makanan atau minumannya.


"Aku buat steak, aku ambil sembentar ya." Amanda kembali beranjak menuju dapur. "Mas, mau aku bawain baju koko tidak?" tanya Amanda dari dapur. "Agar saat mas mau shalat jum'at, mas Kendra bisa ganti." ia kembali ke meja makan menyajikan chicken steak buatannya.


"Boleh deh, aku agak malu ke masjid pakai baju ini," ia kembali memandangi pakaian yang ia kenakan. Sebelumnya Kendra sama sekali tak berpikir sejauh itu, tapi kini ia jadi berpikir apakah ia sanggup keluar dari apartementnya dengan mengenakan pakaian Aladin yang sungguh mencolok ini. "Amanda, tolong ambilkan hoodie dan maskerku sekalian ya." Setidaknya dengan hoodie dan masker bisa menutup wajahnya agar tak ada yang mengenalinya.


"Iya mas," teriak Amanda dari dalam kamar Kendra.


Selagi Amanda mengambil pakaiannya, Kendra mengintip buku gambar yang selalu Amanda bawa-bawa akhir-akhir ini, ia sedikit penasaran karena Amanda sering terlihat sibuk dengan buku gambar dan laptopnya. "Wow, gumamnya." Kendra terkejut melihat beberapa desain liontin yang kemungkinan Amanda sendiri yang memuatnya.

__ADS_1


"Mas Kendra," seketika Amanda langsung merebut buku gambar miliknya.


Kendra seperti maling yang tertangkap tangan tengah mencuri, namun karena sudah terlanjur ketahuan Kendra memilih untuk bertanya. "Untuk apa kamu menggambar liontin itu?" tanya Kendra penasaran.


Amanda menggeleng, ia menaruh buku gambarnya di ujung meja makan di seberang Kendra, agar Kendra tak bisa menjangkaunya. "Tidak ada," jawabnya sembari memasukan perlengkapan shalat milik Kendra ke totebag, dan membantu Kendra mengenakan hoodienya.


Kendra menatap Amanda dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Kendra kembali.


"Tidak ada mas," jawab Amanda semakin gusar karena Kendra terus mendesaknya.


Kendra terus menatap Amanda. "Jawab pertanyaanku dengan jujur, Amanda."


Kendra langsung mengangguk, ia merasa hubungannya dengan mertunya tidak begitu baik, selama menikah dengan Amanda, ia tidak pernah bertemu atau sekedar bersua via telepon dengan mertuanya. Ia tak pernah mengunjungi ke kediaman Amanda lantaran Amanda tidak pernah mau pulang, sementara orangtuanya juga tidak pernah mengunjungi mereka, meskipun tahu jika Amanda tengah di rawat.


Hal sebaliknya justru di lakukan oleh ibunda Kendra, beberapa kali Ajeng datang ke Jakarta untuk mengunjungi putranya dan juga Amanda, hal ini ia lakukan karena rindu dengan putra bungsunya, namun karena kandungan Amanda yang tidak memungkinkan untuk flight ataupun menempuh perjalanan jauh, sehingga Ajeng mengalah, dirinya rela bolak balik Jakarta - Jogja untuk mengunjungi Kendra dan istrinya.


Amanda meraih tangan Kendra dan mengajak Kendra ke kamarnya. Ia membongkar isi laci meja riasnya yang di penuhi oleh perlengkapan untuk memproduksi produk perhiasan buatannya. "Namanya Mysoul," ucap Amanda. "Perhiasan yang aku buat dari DNA. Bisa rambut, ASI, atau tali pusar. Masih skala kecil, aku hanya menerima 1 orderan untuk satu minggu pengerjaan dan itu pun baru liontin yang aku kerjakan."


Amanda menggenggam erat tangan Kendra. "Please jangan kasih tahu ibu, beliau pasti akan marah jika mengetahui aku berbisnis. Beliau pasti akan menuduhku meminta modal dari ayah, padahal modal ini aku dapatkan dari hasil penjualan crypo kemarin saat harganya sedang tinggi. Dulu aku kerja sambil kuliah, jadi aku bisa sediki menyisihkan untuk investasi."

__ADS_1


Kendra cukup terkejut mendengar ucapan Amanda, mengapa ada seorang ibu yang berpikir seperti itu? Ia juga tak menyangka jika ternyata hubungan Amanda dengan bude Jum, tidak baik-baik saja.


Kendra mengambil salah satu liontin yang berisi rambut bayi yang di rangkai menjadi sebuah pohon Ara, pohon yang melambangkan kehidupan. "Aku takan bilang kepada ibumu, tapi ada syaratnya," ucap Kendra, ia menaruh kembali liontin itu ke tempatnya.


"Syarat? Apa?"


Kendra berjalan kembali ke meja makan, di ikuti oleh Amanda dari belakang. "Recruit lah 2 atau 3 orang karyawan, untuk membantumu mengerjakan bisnis itu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja sepanjang malam."


Amanda terkejut mendengar syarat yang di ucapkan Kendra. "Jadi mas Ken selama ini tahu jika aku sering lembur untuk mengerjakan ini."


Kendra mengangguk, kemudian menggeleng. "Aku tahu kamu sering tidur menjelang subuh, tapi aku tidak tahu apa yang kamu kerjakan karena kamu seperti menghindariku." ia berjongkok mengelus perut Amanda mencari gerak bayi dalam kandungan Amanda. "Aku tidak ingin bayi ini kenapa-kenapa karena kamu kurang istirahat. Kamu tidak lupa kan, pesan dokter saat kemarin kita periksa? Dokter menyuruhmu banyak istirahat."


"Nanti aku akan bantu mengurus perizinan dan menambah modal untukmu," Kendra mengecup perut Amanda kemudian ia berdiri, dan mengambil totebag yang berisi makanan serta perlengkapan Shalat yang sudah Amanda siapkan untuknya. "Sudah siang, aku berangkat ke kantor dulu ya," ia beranjak dari ruang makannya, namun baru beberapa langkah ia kembali menoleh ke arah Amanda yang berjalan mengikutinya ke depan. "Kamu lihat kunci mobilku tidak?"


"Tadi malam mas taruh di meja depan," Amanda berjalan lebih dulu untuk mengambilkan kunci mobil suaminya. "Ini kuncinya," ia melihat suaminya hendak mengenakan sepatu formal, secara spontan Amanda langsung mencegahnya. "Mas jangan pakai itu enggak cocok sama baju Aladin yang mas pakai," Amanda menggantinya dengan sepatu sandal yang lebih terlihat santai. "Pakai ini aja," ia memberikannya kepada Kendra.


"Terima kasih ya," ucap Kendra, ia mencium kening Amanda kemudian kembali mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar dan mencuat karena baju yang Amanda kenakan sudah tidak muat. "Nanti sore kita ke mall yuk, aku mau beli cosplay animasi sekalian beli baju hamil untukmu."


Amanda tersenyum sembari mengangguk, ia sangat senang setiap kali Kendra mengajaknya keluar.

__ADS_1


"Ya sudah nanti aku jemput jam 17.00 ya." Kendra membuka pintu dan pergi menuju kantor.


__ADS_2