14 Februari

14 Februari
BAB 41


__ADS_3

"Pak Ken, ini berkas yang kemaren bapak minta sudah saya kerjakan," ucap Bela sembari mengulurkan sebuah berkas ke hadapan Kendra.


Kendra mengalihkan perhatian dari laptopnya, ia mendongak menatap Bela. "Terima kasih," ia menerima berkas yang di serahkan oleh Bela dan langsung memeriksanya. "Okay, semua analisa laporannya sudah sesuai," ucap Kendra saat membuka halaman terakhir berkas yang di berikan Bela.


"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat sore." Bela membalik tubuhnya, dan melangkah keluar, namun baru beberapa langkah ia berjalan dari meja kerja Kendra, Kendra memanggilnya kembali.


"Soal tadi malam," ucap Kendra, saat Bela sudah kembali menghadap ke arahnya. "Kau tidak sepantasnya berbicara seperti itu kepada Amanda, dia adalah istriku."


Bela tersenyum sinis mentap Kendra. "Istri?" tanyanya sambil tertawa. "Ooh rupanya loe udah mulai menikmati kehidupan bersama pelakor."


"Bel, loe enggak usah berasa paling bener deh." Kendra mulai menaikan nada bicaranya. "Dulu loe pernah nyuruh gue deketin Luna yang notabennya istri orang. Loe lupa?"


"Hei, bapak Kendra yang terhormat. Gue enggak pernah nyuruh loe buat ngerebut Luna dari suaminya, just for fun hanya karena saat itu Luna sedang depresi dan kesepian. Lagi pula saat itu gue mengira bahwa hubungan loe sama Fay hanya sekedar pacaran biasa." Bela mendekat ke arah Kendra dan duduk di hadapannya.


"Dua bulan lalu adek gue kecelakaan di jalan Kaliurang Jogja, saat dia pulang dari kampus. Entah kebetulan atau apa, Fay lewat dan langsung menolong adekku. Bahkan dia nungguin adek gue sampe gue dan nyokap dateng ke Jogja." Bela mencondongkan tubuhnya. "Dan loe tahu, waktu pertama kali gue ketemu sama dia? Gue langsung inget kalau dia orang yang sama dengan foto yang loe pajang di meja kerja loe. Fay bukan cuma membawa Raya ke rumah sakit, tapi dia juga donorin darahnya buat Raya. Di situ gue nyesel banget pernah nyuruh loe deket sama Luna."


"Maaf jika semalam gue muak, melihat loe mesra-mesraan sama orang yang udah ngerusak hubungan loe sama Fay, yang notabennya adik sepupu Fay sendiri. Loe waras Ken?"


Kendra menatap tajam ke arah Bela. "Loe enggak tahu apa-apa tentang kehidupan gue, loe cuma seorang tukang ghibah yang cari informasi ke sana ke sini tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya," ucap Kendra. "Berhenti sok tahu tentang hidup gue!! dan silahkan keluar dari ruangan gue." Kendra meminta Bela untuk keluar dari ruangannya.


Bela pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian keluar dari ruangan Kendra.


Kedatangan Bela membuat mood Kendra berantakan, sehingga ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Namun sebelum pulang Kendra menyempatkan diri mampir ke toko bunga untuk membeli seikat bunga Lily kesukaan Amanda.


Begitu masuk ke apartementnya, Amanda berserta dua pegawainya terlihat sibuk membuat pesanan perhiasan DNA, sampai-sampai Amanda tak menyadari kedatangan suaminya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, mommy." Kendra memeluk Amanda dari belakang sambil memberinya bunga.


Amanda terkejut sekaligus senang mendapatkan bunga dari suaminya. "Walaikumsalam," jawabnya sembari menaruh bunga pemberian Kendra di atas meja, kemudian ia berbalik menghadap Kendra dan meraih tangan Kendra lalu menciumnya. "Loh mas sudah pulang? Tadi pagi Mas Ken bilang lembur?"


Kendra menggeleng. "Tidak jadi."


Seketika wajah Amanda menjadi panik, ia beranjak dari tempat duduknya. "Maaf ya mas aku belum masak," ucap Amanda. "Mas mandi saja dulu, aku buatin mas makanan." Ketika Amanda hendak melangkah Kendra menariknya. "Aku sudah pesan makanan, kamu tidak perlu masak."


Kendra duduk di kursi Amanda kemudian menarik Amanda ke pangkuannya. "Aku sudah mengajukan cuti, kita baby moon yuk ke Bogor, sekalian foto maternity." Kendra mengelus perut Amanda dengan lembut.


Amanda berpikir sejenak, bukannya ia ingin menolak ajak Kendra hanya saja banyak hal yang sedang ia kerjakan. "Boleh di undur minggu depan tidak cutinya?" tanya Amanda dengan hati-hati. "Aku masih menyelesaikan pesanan perhiasanku," ia melirik ke arah perhiasan di meja yang masih harus ia kerjakan. "Aku juga baru saja membeli cat untuk melukis kamar anak kita."


"Kamu mau melukis sendiri?"


Setiap kali Kendra masuk ke kamar baby, selalu banyak perubahan yang terjadi. Amanda mulai mencicil isi kamar dan barang-barang keperluan bayinya. "Kapan kamu beli kasur bayi ini?" ia menepuk kasur bayi yang bahkan sudah terpasang rabih berikut dengan seprai dan selimutnya.


"Kemarin, aku belinnya online kok. Kan aku tidak boleh keluar tanpa Mas Ken."


Kendra menatap Amanda. "Aku tahu kamu memiliki penghasilan, tapi untuk kebutuhan anak kita, pakai kartu kredit yang aku kasih ya."


Hampir semua perlengkapan bayi yang Amanda beli menggunakan uang pribadinya yang ia peroleh dari penjualan perhiasan, ia merasa sungkan untuk menggunakan uang yang di berikan Kendra. "Iya mas, nanti kedepannya pakai uang mas Ken. Masih banyak yang belum aku beli, aku belum membeli sofa menyusui dan perlengkapan mandi bayi."


Kendra mengangguk, ia kembali menyusuri kamar bayi. Ia terkesima melihat gambar bertemakan zoo yang sudah Amanda buat sebagian di dinding. "Aku jadi tak yakin untuk membantumu melukis." ia takut malah mengacak-acak gambar yang di buat Amanda. "Anak kita pasti bangga memiliki ibu yang sangat berbakat sepertimu."


Amanda tersenyum senang, sejak bersama Kendra. Ia merasa bebas mengekspresikan bakat alami yang ia miliki di bidang seni, Kendra sama sekali tidak pernah membatasi atau pun melarang, ia hanya mengingatkan agar Amanda tidak terlalu capek.

__ADS_1


"Anak kita juga akan bangga memiliki ayah sehebat dan sebaik mas Ken," Amanda memeluk Kendra dari belakang.



Sementara itu di tempat berbeda Fay dan Kevin nampak sibuk mempersiapkan acara pernikahannya yang hanya berjarak dua minggu dari hari pertunangan mereka. Kevin tidak ingin ada jeda terlalu lama dari hari pertunangan menuju hari pernikahan, namun sebagai konsekuensinya ia dan Fay menjadi sangat sibuk.


Fay terdiam memandangi Kevin yang tengah melakukan fitting baju akad dan resepsi mereka, masih jelas dalam benaknya saat dirinya tengah fitting untuk acara pernikahan mereka.


"Sayang, kok kamu bengong sih?" Kevin menyentuh tangan Fay, menyadarkan Fay dari lamunannya. "Bagaimana bajuku bagus tidak?"


Fay mengangguk, "Bagus mas," ia beranjak dari tempat duduknya memeriksa jahitan pada pakaian Kevin. "Semuanya sudah pas."


"Ya sudah aku ganti baju dulu ya." Kevin melihat jam di tangannya. "Habis ini kita lihat gedung."


Fay memegang perutnya yang terasa sedikit sakit. "Bisa besok saja tidak mas? Aku baru saja datang bulan," ucap Fay sambil berbisik.


Kevin tersenyum mendekatkan mulutnya di telinga Fay. "Berarti saat kita menikah nanti, kamu masih masa subur," bisiknya. "Kalau begitu baiklah aku akan mengantarmu pulang, biar nanti semuanya aku yang mengurus." Kevin bergegas menunju ruang ganti kemudian ia mengantar Fay pulang.


Di perjalanan menuju kediaman Fay, Fay lebih banyak diam menahan rasa nyeri di perutnya. Kevin meraih tangan Fay dan menggenggamnya. "Nanti di rumah di komperes ya, banyak minum air putih dan jangan lupa penambah darahnya."


"Ia mas," Fay menyandarkan kepalanya di bangku, perlahan ia memejam kan matanya.


Kevin memandangi wajah cantik calon istrinya, sebenarnya ada sedkit hal yang mengganjal dalam pikirannya, mengapa Fay hingga kini tak memberinya panggilan 'Kesayangan' seperti yang Fay lakukan dulu terhadap Kendra. Kevin ingin Fay memangil dengan sebutan lain selain 'Mas'


'Mungkin setelah menikah nanti,' batin Kevin, ia melepaskan tangan Fay secara perlahan agar Fay tidak terbangun. Kevin baru membangunkan Fay ketika mereka tiba di kediaman Fay.

__ADS_1


__ADS_2