
02 Januari
Bude Jum berlari menghampiri Kendra yang tengah memanaskan mesin mobilnya di halaman kontrakannya. "Ken..." panggilnya.
Kendra menurunkan kaca mobilnya, ia melongok lewat kaca tersebut. "Ada apa bude?"
"Kamu nanti sore jadi jemput Fay di bandara?"
Kendra mengangguk. "Iya jadi, bude. Ada apa?"
Wajah bude Jum mendadak serius menatap Kendra. "Jadi begini, sore ini Amanda, anak sulung bude pulang dari Singapore. Pakde sama bude tidak bisa jemput karena kami mau takziah, istri dari temannya pakde baru saja meninggal. Dan Gibran kebetulan sedang ada kerja kelompok, jadi bude mau minta tolong sekaliannjemput Manda ya, kamu tidak keberatan kan?"
Kendra menggeleng, ia sama sekalintak keberatan untuk menjemput Amanda, hanya saja kedatangan domestik dan luar negeri beda terminal. "Amanda tiba jam berapa?"
Bude Jum membuka handphonenya, ia mengecek kembali percakapan antara dirinya dan putrinya semalam. "Jam 17.20." ia kemudian menyodorkan handphonenya ke arah Kendra. "Ini foto terbaru Amanda, jangan sampai salah orang ya, Ken." Bude Jum juga mengirimkan foto putrinya kepada Kendra agar Kendra tidad salah orang, pasalnya Kendra sama sekali belum pernah bertemu dengan Amanda.
"Bude juga sudah mengirimkan no whatsappmu ke Amanda, agar ia bisa menghubungimu."
Kendra mengangguk, jam kedatangan Amanda dengan Fay hanya selisih setengah jam, sehingga Kendra berpikir setelah menjemput Amanda di terminal 3, ia bisa langsung menjemput Fay di terminal 2. "Baiklah kalau begitu bude, nanti sore aku akan menjemput Amanda," ucapnya. "Aku berangkat ke kantor dulu ya bude, Assalamualaikum." ia menutup kembali kaca mobilnya dan pergi meninggalkan kontrakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 16. 30 Kendra baru keluar dari kantornya, jalanan ibu kota yang mcet pada pagi daan sore hari membuat dirinya terlambat datang ke bandara. Kendra berlari menembus keramaian orang-orang di bandara, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok Amanda. "Astaga," Kendra menepuk kepalanya, ia baru teringat jika handphonenya tertinggal di dalam mobil.
Ia memutuskan untuk terus berjalan mencari sosok Amanda, karena jika dirinya kembali ke mobil, tentu akan memakan waktu yang cukup lama. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari. Amanda berdiri bersandar pada tiang penyanggah bandara, sembari memegang handphone yang menempel di telinganya. "Iih kemana sih ini orang?" ucapnya dengan kesal.
"Maaf aku terlambat," Kendra mengulurkan tangannya ke arah Amanda. "Aku Kendra, tadi pagi ibumu memintaku untuk menjemputku."
__ADS_1
Amanda memandang Kendra dari atas ke bawah, kemudian kembali lagi dari bawah ke atas, wajahnya kesalnya seketika sirna ketika melihat Kendra berada di hadapannya. 'Jadi ini tunangannya Mba Fay,' batinnya.
Ia menerima jabatan tangan Kendra. "Amanda."
"Kita ke terminal dua dulu yuk," ajak Kendra. "Aku mau jemput, Fay." Kendra berjalan lebih dulu sementara Amanda mengikutinya dari belakang. 'Benar-benar pria tak peka," Amanda kembali kesal karena Kendra sama sekali tak menawarkannya bantuan untuk membawa koper, di tambah dengan langkah kaki Kendra yang terlampau cepat membuat Amanda kewalahan mengejarnya.
Tiba di terminal dua, Kendra langsung mencari sosok kekasihnya. "Mas Ken, bisa pelan-pelan enggak sih jalannya?" tanya Amanda yang sudah mencapai puncak kekesalannya. "Aku capek!!"
"Sorry, Man. Aku..."
"Kendra..." Panggilan dari Fay memotong pembicaraan Kendra dengan Amanda, Kendra menoleh ke belakang, dan beberapa detik kemudian Fay sudah berada di pelukannya.
"Welcome to Jakarta," Kendra mengelus kepala Fay dengan lembut. "Bagaimana tadi perjalanannya?" tanyanya sembari meraih koper dari tangan kekasihnya.
"Lumayan," Fay melongok dari balik tubuh Kendra. "Hai, Manda," sapanya, Fay melangkah mendekat ke arahnya. "Kau sudah pulang dari Singapore?"
Fay tahu maksud dari ucapan Amanda yang mengejeknya karena belum selesai kuliah, namun Fay sama sekali tak mengambil hati atas ucapan Amanda karena semua orang tahu bahwa kuliah kedokteran memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Fay tersenyum sembari mengulurkan tangannya, "Selamat, ya Manda."
Amanda menerima jabatan tangan Fay. "Terima kasih," ia langsung membalikan tubuhnya dan berjalan menuju parkiran. "Ayo cepat, aku sudah sangat lelah."
Kendra meraih tangan Fay, dan menggandengnya. "Jadi tiga hari di sini?"
Fay menggeleng. "Ibu hanya memberi izin dua hari." ia tak mengatakan kepada Kendra bahwa sebenarnya orangtuanya keberatan jika dirinya datang ke Jakarta.
Kendra kembali mengelus kepala Fay. "Tidak apa-apa, kita maksimalkan waktu dua hari ini."
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Amanda saat mereka dalam perjalanan menuju kediaman bude Jum.
"Kami mau makan malam," jawab Kendra. "Tapi aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu." Kendra meraih tangan Fay dan menggegamnya erat.
"Aku mau ikut," ucap Amanda. "Kalian tidak keberatankan?"
Kendra dan Fay saling mentap, sebetulnya mereka enggan mengajak Amanda namun mereka tidak enak untuk menolaknya secara langsung. "Sebenarnya ada beberapa tempat yang ingin kami datangi," ucap Kendra. "Kami tidak ingin membuatmu bosan atau lelah."
"Tidak masalah. Aku mau ikut."
Fay tersenyum, menganggukan kepalanya. "Ya sudah ajak saja," bisiknya, ia tak ingin Amanda mengadu hal yang tidak-tidak kepada kedua orangtuanya.
Tujuan pertama yang Kendra sambangi adalah sebuah apartement di kawasan Jakarta Pusat, ia dan Fay sudah sepakat akan tinggal di apartement setelah mereka menikah.
Kendra memberikan sebuah pulpen kepada Fay, dan memintanya untuk menandatangani dokumen jual beli.
"Ken, kok aku yang tanda tangan sih?" bisik Fay sembari melirik ke arah notaris dan pegawai pemasaran apartement.
Kendra menatap Fay dalam-dalam. "Fay, ini adalah hakmu karena nantinya kamu yang akan jadi ratu di rumah kita. Kamu akan jadi pendamping hidupku selamanya, dan ibu dari anak-anak kita." Kendra kembali meminta Fay untuk menandatanganinya.
Fay merasa terharu dengan ucapan Kendra, satu persatu Kendra memenuhi semua janji-janji yang pernah ia ucapkan dulu. Fay pun menandatangani semua dokumen, baru kemudian mereka berkeliling ke unit apartement baru mereka.
"Bagaimana?"
Fay membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Ini sangat luar biasa, Ken!!" ia nampak takjub dengan apartement yang calon suaminya berikan padanya "Terima kasih ya sayang."
Puas berkeliling di apartement barunya, Kendra mengajak Fay dan Amanda makan malam barulah Kendra mengantar Fay ke hotel, kemudian ia dan Amanda pulang.
__ADS_1