14 Februari

14 Februari
BAB 38


__ADS_3

"Ngomong-ngomong mama kenapa bisa ada di rumah Fay?" tanya Kendra sembari mengemudikan kendaraan orangtuanya menuju bandara, karena ia hendak kembali ke Jakarta.


"Tadi pagi mama telepon Amanda, mama mau minta desain teras yang dia janjiin kemarin, tapi mama denger suaranya kaya orang sedang nangis. Jadi mama paksa agar dia cerita, dan benar dugaan mama kamu ke sini."


Kendra terdiam, ia jadi teringat pagi tadi telah membentak dan memarahi Amanda. 'Apa dia baik-baik saja ya?' batinnya. "Bagaimana mah, tiket balik ke Jakarta ada yang paling cepat?" tanya Kendra. Sementara dirinya yang mengemudi, mamanyalah yang yang mencari tiket pesawat untuk dirinya pulang.


"Ada kok ini sudah mama beli, tapi adanya yang ekonomi, tidak apa-apa kan?" jawab Ajeng.


Kendra menggeleng, sembari menepikannya kendaraannya di lobby bandara. "Tidak apa-apa mah, yang penting cepat sampai Jakarta."


Ajeng meraih jaket suaminya yang berada di bangku belakang. "Sebentar lagi hujan, kamu pake jaket papa ya," ia meminta putranya untuk memakai jaket tersebut.


Kendra memperhatikan jaket itu nampak seperti jaket bapak-bapak. "Sudah pakai saja," Ajeng memaksanya untuk segera memakainya.


"Iya mah, iya..." dengan setengah terpaksa, ia pun memakai jaket papanya.


"Ingat ya Ken, kalau kamu memang tidak bisa menerima Amanda lepaskan dia baik-baik, mama akan dukung apa pun keputusanmu. Tapi kamu jangan sampai mengganggu kebahagiaan Fay, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Dan mama yakin, kebahagianmu pun akan menantimu di depan."


Kendra memeluk ibundanya dengan hangat. "Terima kasih ya mah," meski hatinya masih terasa berat untuk melepas Fay, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa lega melihat wanita yang ia cintai bahagia.


"Ken berangkat dulu ya," ia mencium tangan dan kedua pipi ibundanya, barulah ia turun dari mobil dan masuk ke bandara.


__ADS_1


Satu jam kemudian ia tiba di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, begitu landing ia mendapatkan kabar jika Amanda sudah pergi meninggalkan kediamannya dengan membawa barang-barangnya. "Ibu kemana bik?" tanya Kendra dengan panik.


"Maaf, saya tidak tahu pak Ken," jawab asisten rumah tangga Kendra. "Tadi ibu hanya bilang, titip pak Ken, dan meminta saya untuk tidak memasak makanan pedas. Ibu Amanda juga menitipkan surat untuk pak Ken."


"Aku akan segera pulang," Kendra mematikan handphonenya, kemudian ia bergegas menaiki taxi yang ia pesan secara online.


Sepanjang perjalanan Kendra terus memikirkan di mana keberadaan Amanda sembari menghubunginya, namun sayang handphone Amanda tidak bisa di hubungi 'Dimana kamu Manda? Apa kamu marah padaku karena kejadian tadi pagi?' ada perasaan cemas menyelimuti di Kendra terlebih ketika rintik hujan mulai jatuh. 'Manda kamu di mana? Apa kamu dam bayimu baik-baik saja?'


Begitu tiba Kendra membuka pintu apartementnya, asisten rumah tangganya telah menunggu dirinya di ruang tamu, ia menyodorkan surat yang di titipkan Amanda kepadanya. "Ini pak suratnya. Maaf aku tidak berhasil mencegah ibu pergi karena ibu bilang, bukan istri pak Ken lagi."


Tanpa menanggapi ucapan asisten rumah tangganya, Kendra membuka isi surat yang berikan Manda untuknya, sembari berjalan menuju kamar Amanda.


Dear Mas Kendra.


Sekarang mas Ken sudah bisa mengurus pembatalan pernikahan kita, tanpa harus menunggu aku melahirkan, semua bukti pendukungnya sudah aku letakan di dalam laci meja riasku.


Sekali lagi aku minta maaf, sampaikan salam dan terima kasihku untuk mama Ajeng.


Amanda


Kendra melipat surat itu dan menaruhnya di atas meja, kemudian ia membuka laci meja rias Amanda. Kendra menemukan dokumen dan flashdisk di dalamnya, ia menyambungkan flashdisk ke TV yang berada di kamar Amanda. Sembari membaca dokumen, Kendra menonton tayangan CCTV hotel saat Amanda menaruh obat tidur ke dalam minumannya saat pesta ulang tahun Alice.


Sebenarnya hati Kendra masih di selimuti kemarahan atas kejadian itu, namun mendengar bunyi petir yang menggelegar, membuat Kendra khawatir pada Amanda. Kendra menyalakan hanphonenya berharap nomor Amanda udah aktiv, tapi rupanya handphone Amanda masih belum juga dapat di hubungi. "Amanda tidak mungkin pulang ke rumahnya," Kendra teringat cerita ibundanya pagi tadi mengenai perlakuan bude Jum kepada Amanda

__ADS_1


Akhirnya Kendra memutuskan untuk memghubungi Alice, namun sayangnya Alice tidak tahu keberadaan Amanda. "Dimana kamu Manda?" Kendra berpikir keras sembari menatap langit-langit kamar Amanda.


Beberpa menit kemudian ia meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar dari apartementnya. Di tengah derasnya hujan yang mengguyur ibu kota, Kendra menyusuri jalanan untuk mencari keberadaan Amanda.


Sudah hampir satu jam Kendra berkeliling, dan hujan pun sudah mulai reda, tapi ia belum juga menemukan Amanda. "Amanda kamu di mana?" gumamnya. Ada satu tempat yang terlintas dalam benak Kendra, sebenarnya ia tak yakin namun ia tetap mencoba mencari Amanda ke tempat itu.


Kendra memutar arah kendaraannya menuju tempat pemakanaman umum, ia berpikir jika Amanda tengah mengunjungi makam ibundanya. "Untung saja kemarin aku sempat bertanya di makam ibu kandungnya."


Tiba di tempat pemakaman umum, Kendra langsung mencari keberadaan Amanda. Dan benar saja, ia melihat sosok wanita tengah dengan kondisi basah kuyup tengah memeluk batu nisan.


Kendra berjalan mendekat ke arah Amanda sembari melepas jaket yang di kenakananya. Tepat berada di belakang Amanda, Kendra berjongkok dan menyelimuti tubuh Amanda dengan jaket milik papanya.


Menyadari ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya, Amanda langsung menoleh ke belakang. "M-mas Ken..." ucapnya terbata-bata karena rasa gugup dan juga kedinginan yang menjadi satu.


Amanda bersimpuh di hadapan Kendra. "Mas Ken, aku mohon jangan bawa maslah ini ke ranah hukum. Aku benar-benar minta maaf atas semua kehilafanku. Maafkan aku mas hiks..."


Kendra meraih bahu Amanda dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Pulanglah, aku tidak akan membatalkan pernikahan kita dan juga tidak akan menceraikanmu."


Amanda langsung terkejut mendengar ucapan Kendra, ia mendongak menatap Kendra. "Benarkah?"


Kendra merapihkan rambut Amanda yang menutup sebagian wajahnya. "Ya, kita bangun rumah tangga kita dari awal, kita besarkan bayi ini sama-sama." tangan Kendra merayap ke bawah mengelus perut Amanda dengan lembut. "Kamu masih mau kan jadi istriku?"


"Mas Ken, hiks...." Amanda menangis dalam pelukan Kendra.

__ADS_1


'Menikahi wanita yang dicintai adalah impian, tapi mencintai wanita yang di nikahi adalah kewajiban.' Kendra teringat pesan ibundanya, sesaat sebelum dirinya takeoff ke Jakarta, ia tak ingin mempermainkan sebuah pernikahan sehingga ia memilih untuk terus melanjutkannya bersama Amanda.


__ADS_2