
"Aku tidak tahu mas, perutku sakit sekali," ucap Amanda sembari merem*s ujuk kaus yang Kendra kenakan.
"Maaf pak Ken, terkadang ada kelahiran yang belum genap sembilan bulan, namanya prematur, jadi sebaiknya pak Ken bawa saja Bu Amanda ke rumah sakit terdekat."
Tanpa pikir panjang Kendra membawa Amanda ke rumah sakit terdekat. "Tolong ambilkan tas istri saya di kamar," pinta Kendra, sementara dirinya membantu Amanda masuk ke mobil.
Di perjalanan Kendra semakin di buat panik ketika Amanda mengatakan air ketubannya telah pecah. "Sabar ya, moly." ia mengelus perut Amanda dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya terus menekan klakson, ia baru sadar jika saat weekend seperti ini jalanan puncak sangat ramai sehingga di berlakukannya sistem satu arah.
"Moly, kamu tunggu di sebentar ya," Kendra mengecup kening Amanda kemudian ia melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil. Ia berlari menghampiri polisi yang tengah mengatur lalu lintas, Kendra mengatakan bahwa istrinya akan melahirkan dan meminta agar polisi membantunya membukakan jalan untuknya.
Tak butuh waktu lama jalanan pun terbuka untuk Kendra, bahkan polisi bersedia mengantar Kendra dan Amanda menuju klinik bersalain terdekat. Tak lebih dari empat puluh menit, Kendra dan Amanda pun tiba di klinik bersalin.
Kendra langsung membawa Amanda menuju ruang IGD. "Mohon maaf, bapak silahkan menunggu di ruang tunggu!" salah seorang perawat meminta Kendra untuk keluar dari ruang IGD.
Kendra menatap Amanda dengan tatapan kecewa, karena perawat meminta keluar. "Aku tunggu di luar ya," ia mengelus lengan Amanda sebelum ia keluar dari ruang IGD. Sembari menunggu istrinya di periksa, Kendra menghampiri polisi yang berada di depan IGD, ia mengucapkan banyak terima kasih karena telah membukakan jalan serta mengantarnya sampai ke klinik.
Setelah mengantar polisi itu keluar dari klinik, Kendra mencoba menghubungi ibundanya, ia mengabarkan jika Amanda tengah mengalami kontraksi.
"Lalu bagaimana kondisi Amanda?" tanya Ajeng dari seberang telepon dengan nada yang sangat khawatir.
"Masih di periksa oleh dokter di ruang IGD, mah."
"Ya sudah, kamu share location kliniknya di mana. Mama dan papa mau ke sana sekarang," ucap Ajeng, ia memberi tahu suaminya untuk segera mencari tiket pesat dengan penerbangan tercepat, kemudian ia beralih ke handphonenya. "Pokoknya kamu kabarin terus ya perkembangannya."
"Mah..." ucap Kendra lirih. "Apa tidak apa-apa, bayi lahir kurang bulan?" tanya Kendra.
__ADS_1
"Dari hasil pemeriksaan nanti, akan ketahuan kondisi Amanda dan bayinya. Jika memang memerlukan penanganan serius, dokter pasti akan merujuk Amanda ke rumah sakit yang lebih besar. Kamu tidak perlu khawatir Ken, tidak semua bayi prematur bermasalah, lagi pula di klinik bersalin itu juga sudah cukup lengkap peralatan medisnya," terang Ajeng, ia merasakan betul kekhawatiran yang tengah di rasakan putranya. "Mungkin saja, bayi kalian ingin cepat-cepat bertemu dengan kalian," hiburnya.
"Untuk perawatan bayinya, nanti mama akan dampingi, Amanda. Mama akan tinggal di sana selama beberapa bulan, kalau perlu sampai bayi kalian MPASI. Itu pun jika kalian tidak keberatan."
"Ya enggak dong mah, aku dan Moly justru malah senang di temani mama."
"Moly?" Ajeng merasa asing dengan nama itu, hampir saja ia menduga jika putranya punya wanita lain.
"Mommy Lily, Lily nama anak kami."
"Oh... Baguslah kalau kamu sudah punya nama panggilan sayang untuk istrimu. Ya sudah sana, temani istrimu. Mama mau ganti baju dulu, siap-siap mau ke sana. Itu tadi papa juga sudah dapat tiket pesawatnya."
"Iya, terima kasih banyak ya mah," Kendra pun mematikan sambungan teleponnya, ia nampak ragu untuk menghubungi orangtua Amanda. 'Sudahlah, lagi pula mama dan papa sudah mau kemari' gumanya, ia kembali memasukan handphonenya ke saku, kemudian berjalan menuju pintu IGD karena kebetulan dokter yang menangani Amanda telah memanggilnya.
"Lakukan saja dok, apa pun yang terbaik untuk istri dan anak saya," ucap Kendra, kemudian perawat mengarahkan Kendra untuk menyelesaikan administrasi.
Selesai menyelesikan administrasi, Kendra bergegas menghampiri Amanda, ia membantu Amanda mengganti pakaiannya. "Kamu takut ya?" ia melihat wajah Amanda nampak sedikit pucat, serta tangan Amanda yang basah ketika Kendra memegangnya.
Amanda mengangguk. "Aku tidak pernah di operasi, aku bahkan jarang ke rumah sakit sebelum aku hamil."
Kendra tersenyum sembari merangkum wajah istrinya. "Tidak perlu khawatir, aku akan menemanimu sepanjang operasi ini berlangsung." Kendra mengecup kening Amanda kemudian ia menarik kursi roda yang berada di dekatnya, dan membantunya duduk.
Sebelum ia mendorongnya menuju ruang operasi, Kendra sempat menawarkan Amanda untuk menghubungi keluarganya. "Tadi aku hanya sempat menghubungi mama saja," ia menyodorkan handphonenya ke Amanda.
Dengan ragu-ragu, Amanda mulai menekan nomor ayahnya. Handphone berdering, Amanda melirik ke arah Kendra. Pada deringan ketiga, Amanda mendengar suara ibundanya.
__ADS_1
"Bu..." ucap Amanda dengan hati-hati. Hening sejenak, kemudian "Aku hanya ingin mengabarkan dan meminta doa karena sebentar lagi aku mau melahirkan."
Kembali hening, namun Kendra menangkap raut kesedihan dalam wajah istrinya, ia langsung mengambil handphonenya dari tangan Amanda.
"Kamu sudah memiliki suami, suruh saja suamimu mengurusmu. Berhentilah mengganggu ayahmu, aku sudah muak mengurusimu dari bayi!!!"
"Terima kasih ibu sudah mengurus Amanda, sejak ia masih bayi. Maaf jika sudah mengganggu ibu, Assalamualaikum." Kendra mematikan sambungan teleponnya, rasanya ia menyesal telah menawarkan Amanda menghubungi keluarganya.
Saat ia hendak memasukan handphonenya ke saku, panggilan video call masuk ke handphonenya. "Dari mama, kamu angkat ya," ia memberikan kepada Amanda, sementara Kendra mendorong kursi roda Amanda menuju ruang operasi.
Amanda tersenyum sembari melambaikan tangannya ke arah kamera handphone. "Mah..." sapanya pada ibu mertuanya.
"Mama dan papa sedang di ruang tunggu bandara, sebentar lagi mau ke pesawat. Bagaimana keadaanmu sayang?"
"Campur aduk mah," Amanda memaksakan seulas senyumannya menahan rasa gugup dan nyeri di perutnya.
"Kamu harus rileks, nak. Banyak-banyak berdoa, mama dan papa juga mendoakanmu dari sini."
"Iya mah, terima kasih. Maaf sudah merepotkan mama dan papa, malam-malam begini harus terbang kesini."
Ajeng menggeleng. "Kami sudah tidak sabar bertemu cucu darimu. Pokoknya rileks ya, jangan putus baca sholawat dan dzikirnya, agar lancar persalinannya. Mama sama papa jalan dulu ya nak. Bye.."
"Bye mah.." Amanda dan Kendra kompak melambaikan tangannya ke arah Ajeng, kemudian sambungan video call terputus dan Amanda mengembalikan handphone suaminya.
"Fokuslah pada persalinan anak kita," Kendra mengelus bahu Amanda, ia tak ingin Amanda memikirkan perkataan ibundanya.
__ADS_1