
Sesuai dengan janjinya minggu lalu, saat libur Kevin mengajak Fay mengunjungi salah satu panti asuhan yang berlokasi di daerah Bantul, namun sebelum menuju lokasi, Kevin mengajak Fay untuk memesan makanan dan membeli mainan untuk anak-anak panti.
Fay membantu Kevin memilihkan mainan edukasi untuk anak-anak, "Untuk anak berapa tahun mas?" tanya sembari memilah beberapa puzzle bergambar buah, angka dan huruf.
"Total ada 20 anak," jawab Kevin. "5 anak balita berusia 2.5 tahun-4 tahun, 3 anak usia TK, 7 anak usia SD kelas 1 sampai 3, 4 anak usia SD kelas 4 sampai 6, dan sisanya 1 orang usia SMP kelas 2."
Fay cukup terkejut, karena ternyata Kevin hafal dengan semua anak-anak di panti. "Apa mas Kevin sering ke sana?"
"Lumayan." Kevin memasukan beberapa flashcard ke keranjang belanjaannya. "Saat libur, aku sering mengunjungi mereka," ia mengangkat bahunya. "Dari pada bingung mau ngapain dirumah."
Fay tertawa, karena ternyata seorang dokter Kevin bisa juga gabut. "Wow, gabut yang sungguh bermanfaat," ucap Fay. "Bagaimana dengan puzzle-puzzle ini?" tanya menyodorkan beberapa puzzle buah dan angka kepada Kevin.
"Boleh juga. Bisa untuk meningkatkan kemampuan keterampilan visuospasial anak." Kevin meminta Fay memasukannya ke keranjang belanjaannya.
Puas berbelanja mainan, mereka pun langsung pergi menuju panti. Dalam perjalanan Fay kembali bertanya mengenai kedekatan Kevin dengan anak-anak panti.
Sekilas Kevin menoleh ke arah Fay, kemudian ia kembali fokus pada kendaraannya. "Sebenarnya, sejak kedua orangtuaku meninggal, aku mulai sering ke sana dan bermain dengan mereka," ucapnya, ia memandang ke atas untuk menahan air matanya, rasanya masih terlalu sesak jika mengingat kepergian kedua orangtuanya. "Aku melihat mereka sama seperti aku melihat diriku sendiri. Tidak punya siapa-siapa."
Fay menjadi merasa bersalah karena telah menanyakan hal pribadi yang membuat Kevin sedih, padahal sebelumnya ia mengira jika Kevin hanya gabut biasa bukan karena kesepian. "Maaf," ia mengelus lengan Kevin.
"Enggak apa-apa kok," Kevin menggengam tangan Fay dan kembali bercerita. "Ayahku meninggal dunia sejak tiga tahun yang lalu karena sakit jantung yang di deritanya, kemudian tiga bulan kemudian ibu menyusul ayah."
"Apa ibu juga sakit?"
Kevin menggeleng. "Tidak. Ibu tidak punya riwayat penyakit yang serius, hanya saja beberapa hari sebelum beliau meninggal, beliau selalu mengatakan rindu ayahku." ia tersenyum memandang ke arah Fay. "Sweet banget ya. Mereka memang tak terpisahkan, kemana pun ayah pergi pasti selalu mengajak ibu."
"Aku berharap kita bisa seperti mereka." Kevin mengelus tangan Fay dengan ibu jarinya.
Fay terkejut mendengar ucapan Kevin. "Maksud mas Kevin?"
Kevin hanya tersenyum sembari menepikan kendaraannya di depan panti. "Sudah sampai, kita turun yuk!" ia melepaskan tangan Fay kemudian turun dari mobilnya.
Fay masih terdiam di tempatnya, rasanya ia baru saja di tembak oleh Kevin. "Ternyata benar apa yang di bilang ibu," ia menghembuskan napas pelan sembari mengambil tasnya kemudian turun dari mobil dan membantu Kevin menurunkan mainan dari bagasi mobil.
__ADS_1
"Jangan yang itu berat," cegah Kevin ketika Fay hendak mengambil bungkusan besar. "Yang ini saja ya," ia memberikan bungkusan yang lebih kecil yang berisi boneka tangan yang biasa di gunakan untuk mendongeng.
Keduanya berjalan memasuki panti, baru saja sampai di pintu anak-anak sudah berteriak dan behambur menghampiri Kevin. "Ada om dokter datang..." teriak salah satu anak yang pertama kali melihat Kevin, kemudian di susul dengan anak-anak lainnya.
Kevin menurunkan mainan yang ia bawa ke lantai, agar anak-anak bebas memilih mainan mana yang mereka sukai. "Jangan berebut ya, gantian satu-satu," ujar Kevin.
"Yang ini di taruh di mana mas?" tanya Fay memandang ke arah bungkusan di tangannya.
"Yang ini nanti kita kasih ke pengurus panti saja, karena mereka yang biasa mendongeng untuk anak-anak sebelum mereka tidur."
Fay mengangguk, "Okay."
Di tengah suasana ramai anak-anak memilih mainan yang mereka sukainya, tiba-tiba ada salah seorang anak berusia 5 tahun yang berjalan ke arah Kevin dan Fay dengan menggunakan tongkat. "Om dokter..." teriaknya dengan riang melihat kedatangan Kevin.
"Sebentar ya Fay," Kevin mengelus bahu Fay kemudian ia berlari menghampiri bocah itu. "Assalamualaikum, Habibati," sapa Kevin sambil berjongkok mensejajarkan diri dengan bocah itu (Habibati adalah panggilan sayang yang berasal dari bahasa Arab untuk anak perempuan yang artinya tersayang.)
"Walaikumsalam Om dokter," mata bocah itu tertuju pada Fay yang sudah berdiri di belakang Kevin. "Itu siapa om?"
Fay mengulurkan tangannya ke arah bocah cantik itu, bocah itu tak menerima jabatan tangan Fay, ia justru memeluk Fay dengan hangat. "Nama kita hamir sama, namaku Fania. Terima kasih aunty Fay, sudah datang kemari."
"Sama-sama sayang," Fay kembali berdiri, lalu menggedong bocah itu.
"Berat Fay, biar aku saja," dengan sigap Kevin langsung meminta Fay memberikan Fania kepadanya, namun Fay menolaknya. "Tidak kok," Fay beralih ke Fania. "Main sama aunty ya."
"Apa aunty bisa bermain piano?"
Fay menggeleng, tak ada satu pun alat musik yang ia kuasai, bahkan untuk bernyanyi pun rasanya Fay tidak percaya diri, ia merasa suaranya seperti ember pecah. "Tidak. Aunty tidak bisa bermain piano?"
"Fania mau bermain musik?" tanya Kevin. "Kita main sama-sama ya, ajak kakak-kakak yang lainnya."
"Eh?" Seketika Fay menjadi panik, ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri dan juga mempermalukan Kevin karena tak pernah bermain piano, ia hanya bisa memencet tangga nada dasar, do, re, mi, fa, sol, la, si, do. Selebihnya ia sama sekali tidak mengerti.
Kepanikan Fay hilang ketika melihat Kevin dan Fania duduk di depan piano, mereka berduet memainkan piano, sementara anak-anak lainnya bernyanyi.
__ADS_1
Oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh
I messed up tonight, I lost another fight
Lost to myself, but I'll just start again
I keep falling down, I keep on hitting the ground
I always get up now, see what's next
Birds don't just fly, they fall down and get up
Nobody learns without gettin' it wrong
I won't give up, no, I won't give in
'Til I reach the end, and then I'll start again
No, I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail
Fay berdiri di belakang bersama para pengurus panti, menyaksikan penampilan Kevin bersama anak-anak, layaknya menyaksikan konser paduan suara. "Wow, mengagumkan!" gumamnya.
"Dokter Kevin sendiri yang mengajarkan anak-anak bernyanyi dan bermain musik,"ujar salah satu pengurus panti, ia menujuk ke salah satu foto yang di tempel di dinding ruang musik. "Tiga bulan yang lalu anak-anak di undang paduan suara di Balaidesa."
Fay mengangguk, ia berjalan menyusuri dinding ruang musik untuk melihat foto-foto yang lainnya. Fay tersenyum ketika ia menemukan foto Kevin terpajang di sana bersama anak-anak, dari foto tersebut ia sudah bisa menyimpulkan sendiri seberapa dekat Kevin dengan mereka.
__ADS_1