14 Februari

14 Februari
BAB 48


__ADS_3

Fay keluar dari rumah sakit, menyusuri jalanan sembari berpikir. 'Jika Kendra di jebak oleh Amanda, mengapa Kendra terlihat bahagia seolah dia benar-benar melupakanku?' batin Fay terus bertanya, "Apa semudah itu Kendra melupakan hubungan yang sudah lima tahun kita bina?" air matanya menetes di wajah cantiknya setiap kali mengingat hubungannya dengan Kendra.


Fay terkejut ketika ada seseorang yang memegang tangannya, hampir saja ia berteriak sebelum ia mengetahui jika Kendra lah yang memegang tangannya. "Aku rasa ada yang perlu kita bicarakan." Kendra menggandeng tangan Fay menuju taman di sekitaran rumah sakit.


Kendra membersihkan bangku taman dengan tangannya kemudian ia mempersilahkan Fay duduk barulah ia duduk di sampingnya.


Mereka terdiam cukup lama, satu sama lain tak ada yang berani menatap. Hingga akhirnya Kendra berdeham dan mulai berbicara. "Aku sudah mendapatkan undangan pernikahanmu," ucap Kendra mengawali obrolannya. "Tapi maaf sepertinya aku tidak bisa datang, aku harus menjaga Lily dan menggelar pengajian untuk Amanda."


Fay mengangguk. "Tidak apa-apa, aku sangat mengerti, Ken."


Kembali hening beberapa saat.


"Ken.. Apa kamu benar-benar akan merawat Lily?" tanya Fay. "Maksudku, bukankah Lily bukan anak kandungmu."


Kendra tersenyum, sebenarnya bukan hanya Fay yang sempat meragukannya akan mengasuh Lily seorang diri, namun orangtuanya sendiri pun sempat meragukannya.


"Seperti yang kamu tahu, dulu aku memang sempat menolak kehadiran Amanda dan bayi itu dalam kehidupanku, karena aku yakin bayi itu bukan anakku," ucap Kendra, ia mulai menceritakan kondisi kehamilan Amanda, hingga ia memutuskan untuk belajar berdamai dengan keadaan karena apa pun yang terjadi, anak itu tidak bersalah. "Aku mau bayi itu lahir sehat dan selamat. Sehingga saat tiba waktunya, aku berhasil membuktikan anak itu bukan anakku, aku tidak memiliki beban apa pun."


Tubuh Fay mulai gemetar, ia tak menyangka jika Kendra berpikir sejauh itu terhadap kondisi bayi yang tidak berdosa yang berada dalam kandungan Amanda, padahal dulu dirinya justru berpikir bahwa Kendra melakukan itu karena bayi itu benar-benar anaknya.

__ADS_1


"Sampai suatu hari, aku mendapati undangan pertunanganmu. Aku sempat ke Jogja, dan melihatmu sedang bersama tunanganmu." Kendra menghela napasnya. "Kalau boleh jujur, aku sangat cembur, hatiku hancur. Tapi aku bahagia melihat kau mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Baik itu dari segi fisik, financial, pekerjaan dan pastinya dia tidak pernah membohongimu serta mengecewakanmu."


Air mata Fay mengalir deras di pipinya, bukan. Bukan karena fisik ataupun financial dirinya menerima pertunangan Kevin, ia bahkan sama sekali tak pernah melihat hal itu.


"Di saat yang bersamaan, aku mendapati fakta bahwa ternyata Amanda bukanlah anak kandung bude Jum, dan ia pun sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari bude Jum," lanjut Kendra.


Fay teringat, saat masih kecil dirinya sering melihat Amanda di marahi oleh budenya, bahkan hingga di pukuli dengan sapu.


"Aku pulang ke Jakarta dan menemukan dia sedang menangis di pusara ibundanya di tengah hujan. Dia bersimpuh mengakui semua kesalahanya dan memintaku untuk melepaskannya." Kendra menatap wajah Fay. "Ini bukan lagi soal benar atau salah, dan bukan lagi soal cinta. Aku melihatnya, bagaimana jika itu terjadi pada mamaku? hamil dan tidak punya siapa-siapa."


"Seandainya aku di kasih kesempatan untuk memutar waktu, tidak ada yang perlu aku rubah. Aku bahagia melihat wanita yang paling aku cintai bahagia dengan pria yang lebih baik dariku, aku bahagia melihat istriku bahagia di sisa usianya, aku pun bahagia memiliki Lily." Kendra memandang ke angkasa sembari tersenyum. "Aku sudah tidak sabar ingin bermain dan membuat hari-hari yang luar biasa bersamanya, tak peduli darah siapa yang mengalir di tubuhnya, aku akan tetap menyayanginya."


Fay berdiri di hadapan Kendra kemudian memeluknya dengan erat, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Kendra.


Kendra mengelus punggung Fay, untuk menenangkannya. "Pulanglah, sambutlah hari bahagiamu bersamanya!!" ia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di wajah cantik Fay. Kendra mengelus bahu Fay, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Fay.


Fay memandangi punggung Kendra yang perlahan menjauh darinya, hatinya bimbang setelah mendengar semua penjelasan Kendra. Fay merasa menjadi orang yang sangat jahat karena pernah tak mempercayai Kendra, rasa cemburu dan marah berkecamuk di hatinya setiap kali mendapati foto-foto kemesraan antara Kendra dan Amanda lenyap seketika berubah menjadi rasa iba terhadap Amanda.


"Aku juga masih sangat mencintaimu, Ken." Fay memejamkan matanya, meski dirinya masih sangat mencintai Kendra, ia tak ingin menyakiti Kevin dan mengecewakan orang tuanya.

__ADS_1


Getar handphone di tasnya membuyarkan lamunan Fay, ia langsung merogoh tasnya dan mengangkat panggilan masuk itu.


"Fay, kamu di mana? Dari tadi ibu dan ayah mencarimu kemana-mana tidak ada," tanya Ratri dengan cemas.


Fay baru teringat jika dirinya tadi tak sempat izin dengan orang tuanya saat keluar dari rumah sakit. "Anu bu, aku beli minum sebentar di depan rumah sakit," ia bergegas berjalan keluar dari rumah sakit untuk mencari taxi


"Terus kamu di mana?" tanya Ratri kembali. "Ibu dan ayah sudah kembali ke hotel."


Fay menoleh ke kanan dan ke kiri jalan mencari taxi yang lewat. "Aku udah di jalan kok bu, ini mau ke hotel." ia melihat ada taxi di seberang jalan, dan ia pun langsung mengacungkan tangannya agar taxi itu berhenti.


"Kamu tidak bertemu Kevin di rumah sakit?"


"Eh? Kevin? Maksud ibu?" Fay kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menyebrang jalan, menurutnya jika menunggu taxi itu putar arah tentu akan memakan waktu yang lama, sehingga lebih baik dirinya saja yang menyebrang.


"Iya tadi Kevin bilang kalau dia nyusulin kita ke Jakarta, dia mau ikut takziah juga. Jadi ibu suruh dia ke rumah sakit sekalian jemput kamu, ibu sudah pusing dengan masalah keluarga budemu, makanya ibu dan ayah kembali ke hotel."


Fay yang sudah berada di tengah jalan menghentikan langkahnya saat mengetahui Kevin berada di rumah sakit. "Apa Kevin melihatku bersama Kendra?" gumamnya, ia menoleh ke arah rumah sakit.


Satu detik kemudian handphone Fay terpental, bersamaan dengan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2