
Selama operasi berlangsung Kendra duduk di samping Amanda membisikan kalimat tasbih dan tahmid, sembari menggenggam erat tangannya, ia juga sesekali mengecup kening Amanda. "Moly, kamu tahu enggak, tadi dokter bilang kalau air ketubanmu sudah hampir habis," ucap Kendra. "Kemungkinan saat kamu renang tadi, air ketubanmu sudah keluar dan kamu juga sudah mengalami kontraksi, hanya saja karena kamu keasikan renang jadi tidak berasa." Kendra mengelus kening Amanda dengan telunjuknya "Jangan di ulangin lagi ya, aku itu khawatir banget sama kamu dan bayi kita."
Amanda menjadi merasa bersalah, karena tak mendengar ucapan Kendra yang telah menyuruhnya untuk segera mengganti bajunya. "Maafin aku ya mas, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Kendra mengangguk, ia kembali menggenggam tangan Amanda.
Melihat perhatian dan kebaikan yang Kendra berikan kepadanya membuat Amanda kerap di hantui rasa bersalah dan tidak enak kepada suaminya. "Mas, bagaimana jika tidak ada bagian dari dirimu di wajah bayi ini?"
Kendra tersenyum. "Setelah ini kita buat yang mirip denganku," ia menanggapi ucapan Amanda dengan santai. "Kita buat dua sekaligus."
Dari awal Kendra tak memiliki ekspektasi jika Lily akan mirip dengannya karena memang sudah jelas Lily bukanlah darah dagingnya, namun seiring berjalan waktu ia merasakan rasa sayang yang teramat dalam pada Lily. Sama seperti bapak-bapak pada umumnya, Kendra pun merasa bersemangat menyambut kelahirannya, ia sudahntidak sabar menggendong bayi mungilnya.
"Aku serius mas. Seandainya dulu aku tidak menjebakmu... Saat ini mas Ken tidak akan repot mengurusi kami, mengurusi bayi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mas Ken dan mas Ken juga pasti sudah hidup bahagia bersama mba Fay, wanita yang mas Ken cintai."
Kendra membelai wajah Amanda dengan lembut. "lillahi ta'ala aku sudah ridho dengan apa yang terjadi, aku begitu menyayangi Lily, dan aku juga sudah merasa nyaman bersamamu, jadi aku sama sekali tidak pernah merasa di repotkan," ia menghapus air mata yang menggenang di sudut mata Amanda. "Kamu tidak perlu memikirkan Fay, dia sudah menemukan kebahagiaannya. Sekarang tinggal giliranmu bisa lepas dari rasa bersalah ini dan bahagia bersamaku, dan anak kita."
"I'm so happy to have you, you are the best part of my life. My deepest thank you for everything you have done for me all this time, I love you, I love you more." Amanda menciumi tangan Kendra.
Kendra hanya bisa mengangguk sembari tersenyum, karena sejauh ini ia tak bisa membohongi hatinya, jika dirinya belum bisa mencintai Amanda sepenuhnya, masih ada nama Fay dalam hatinya, namun dalam benaknya, Kendra berjanji akan terus belajar mencintai Amanda.
__ADS_1
Parhatian Kendra dan Amanda langsung teralihkan ketika mereka mendengar suara tangis dari bayi mungil mereka. Saat dokter mengangkat tubuh mungil Lily, Kendra hanya bisa melihat siluetnya, karena tatapannya terhalang oleh air mata yang mulai menggenangi matanya. Kendra sungguh terharu melihat putrinya telah lahir.
Sang perawat membaringkannya di dada Amanda. Keduanya memandangi wajah mungil putri mereka yang tengah berusaha untuk membuka matanya, Kendra merasa itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan, terlebih saat bayi mungilnya menguap, Kendra semakin jatuh hati di buatnya, ia mengelus rambut pirang bayinya.
"Kita punya bayi bule yang sangat cantik sekali," ucap Kendra dengan penuh kekaguman.
Rasa haru bahagia itu seketika sirna ketika Amanda merasakan sakit di perutnya, sang perawat bergegas mengambil Lily dan meminta Kendra untuk keluar sebab Amanda mengalami pendarahan hebat.
'Ya Allah, aku mohon selamatkan istriku,' batin Kendra tak hentinya berdoa untuk keselamatan istrinya.
Di ruang tunggu rasanya waktu berjalan begitu lama, Kendra terus mondar-mandir menunggu pintu ruang operasi terbuka. Tangannya gemetar ketika mengangkat telepon dari ibundanya. "As-Assalamualaikum, mah."
"Alhandulillah sudah selesai, mah. Lily sedang menjalani pemeriksaan, sementara Amanda..." Kendra terdiam cukup lama.
"Amanda kenapa nak?" perasaan Ajeng semakin tidak karuan.
"Amanda masih di dalam, tadi dokter menyuruhku keluar karena Amanda mengalami pendarahan."
Ajeng menghembuskan napas beratnya, "Sabar ya, nak. Mama dan papa sudah di Jakarta, sekarang kami sedang menuju ke sana, kurang lebih dua jam lagi kami sampai. Kabari mama terus, jangan putus berdoa, kami juga ikut mendoakan istri dan anakmu."
__ADS_1
"Iya mah, terima kasih."
"Yang kuat ya, Ken. Istri dan anakmu membutuhkanmu." Ajeng terus memberikan semangat untuk putranya, ia sudah tidak sabar ingin segera tiba di Bogor, agar bisa menemani dan mensuport putranya secara langsung.
"Iya mah."
Setelah lebih dari satu jam akhirnya dokter membuka pintu ruang operasi, Kendra pun bergegas menghampiri dokter tersebut, dan menanyakan kondisi istrinya. "Bagaimana kondisi istri saya, dok?"
Sekilas dokter itu menunduk sembari menggelengkan kepalanya, ia menghela napas beratnya kemudian menyampaikan kabar duka bahwa dirinya tak berhasil menyalamatkan Amanda yang mengalami komplikasi obstetrik dengan prognosis yang cukup berat.
"Tidak mungkin dok," Kendra menggelengkan kepalanya, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Istri saya tidak mungkin pergi meninggalkan saya dan anak kami."
"Sekalai lagi maafkan kami, pak." dokter mempersilahkan Kendra untuk melihat jenazah istrinya.
Dengan langkah gontai dan air mata yang mengalir deras di wajahnya, Kendra berjalan ke arah jenazah istrinya yang telah di tutup kain putih. "Moly..." ucapnya lirih sembari membuka kain putih yang menutup tubuh istrinya.
Kendra tertunduk lemas melihat tubuh istrinya yang telah terbujur kaku. "Moly, kenapa kamu meninggalkan aku dan Lily?" ia memeluk istrinya dengan erat. "Please, jangan tinggalin aku, aku sayang kamu, Mol." Kendra masih berharap bahwa ini hanyalah mimpi.
Rasanya baru saja, ia tertawa bahagia melihat kelahiran putri kecilnya, namun bahagia itu kini berubah menjadi duka. "Bukankah kita pernah berjanji akan besarin Lily sama-sama? Bukankah masih banyak rencana yang belum kita jalankan? Jangan tinggalkan aku, Moly." ia mengguncang-guncangkan tubuh Amanda.
__ADS_1
Sadar dengan apa yang ia lakukan justru menyakiti Amanda, Kendra melepaskan tangannya dari tubuh Amanda. "Maafin aku, Moly." ia membelai wajahnAmanda dengan lembut kemudian mengecup keningnya. "Aku sayang kamu.." Kendra menutup kembali jenazah istrinya dengan kain putih dan berusaha untuk ikhlas menerima kepergian Amanda.