14 Februari

14 Februari
BAB 21


__ADS_3

"Mah, maafin Kendra sudah membuat mama kecewa." Kendra duduk bersimpuh di pangkuan ibundanya.


Ajeng hampir pingsan saat orangtua Amanda menghubunginya untuk meminta pertangungjawaban atas kehamilan putri mereka, tak hanya orangtua Amanda yang menghubunginya, orangtua Fay pun menghubunginnya untuk memutuskan pertunangan putrinya dengan Kendra dan mengetakan akan segera mengembalikan seserahan serta perhiasan yang Kendra berikan saat pertunangan kemarin.


Oleh sebab itulah Ajeng meminta putranya pulang ke Jogja, ia ingin mendengar secara langsung apa yang sebenarnya terjadi.


"Demi Allah mah, Kendra sama sekali tak menyentuh Amanda," ucap Kendra dengan penuh keyakinan. "Kendra hanya mengantar Amanda ke pesta ulang tahun temannya, itu pun bude Jum yang minta dan atas izin Fay."


Ajeng menatap mata putranya lekat-lekat, sebagai seorang ibu tentu ia tahu bahwa putranya sedang tidak berbohong atau mengarang cerita, hanya saja... "Kendra, mama mau tanya beberapa hal padamu," ucap Ajeng dengan lembut.


"Apa kamu memiliki bukti jika memang kamu memang tidak melakukan hal tersebut? Misalnya rekaman CCTV hotel atau data resevasi hotel?" tanya Ajeng.


Kendra menggeleng. "Sejak awal kejadian aku sudah minta, namun pihak hotel mengatakan pada malam itu CCTV lantai dasar sedang dalam perbaikan sehingga mereka tak punya rekamannya. Dan entah bagaimana caranya kartu identitasku berada di resepsionis, padahal aku yakin sekali aku tidak pernah memberikannya pada siapapun," Kendra kembali meyakinkan ibundanya.


Ajeng mengangguk, kemudian ia kembali bertanya pada putranya. "Apa malam itu kamu minum?"


Kendra terdiam sejenak, ia teringat bahwa dirinya pernah berjanji pada ibundanya untuk tidak lagi minum minuman beralkohol. "Iya," ia mengangguk lemah. "Tapi dua gelas mah, dan aku yakin aku tidak akan mabuk hanya karena dua gelas alkohol yang aku minum kalau tidak ada seseorang yang menambahkan sesuatu di dalam minumanku."


"Kau punya buktinya?"


Kendra menggeleng, ia sama sekali tak memiliki bukti apa pun. Semua yang ia katakan hanyalah sebuah keyakinan dalam dirinya saja.


Ajeng menggenggam erat tangan Kendra yang masih tetunduk dalam pangkuannya. "Itulah yang kemarin mama maksud, kenapa mama sangat marah kepadamu. Tapi kamu malah mengabaikan pesan dan janjimu," ia meminta putranya untuk menatapnya. "Kendra..."


"Jadilah pria yang bertanggungjawab."

__ADS_1


"Tapi mah, Kendra tidak...." sanggahnya.


"Fakta yang ada, kamu minum champagne dan kamu satu ranjang bersama Amanda tanpa pakaian. Jadi bertanggungjawablah!!" pinta Ajeng.


Kendra menggelengkan kepalanya. "Ini tidak adil mah, aku tidak mau kehilangan Fay," ia tidak bisa membayangkan saat Fay mendengar berita ini, sungguh Kendra tak ingin wanita yang sangat dicintainya itu sedih dan kecewa terhadapnya.


"Orangtua Fay sudah mengetahuinya. Ibunya tadi pagi menghubungin mama, mereka memutuskan pertunangan kalian," ucap Ajeng, ia mengepalkan tangannya. Sesungguhnya bukan hanya Kendra yang bersedih atas putusnya perunangan putranya dengan Fay, Ajeng pun turut merasakkan kesedihan yang sama, ia sudah terlanjur jatuh hati pada sosok Fay, banyak angan yang sudah ia susun ketika nanti Fay telah resmi menjadi menantunya, ia ingin sekali Fay tinggal bersamanya selama Fay menyelesaikan kuliahnya, ia ingin mengajari Fay banyak hal, namun semua angan itu harus pupus lantaran putusnya ikatan pertunangan mereka.


"Mah, Kendra tidak ingin kehilangan Fay. Kendra mau nikah sama Fay," tangisnya pecah di pangkuan ibundanya.



Sementara itu di tempat berbeda, Fay nampak sibuk memilah dan memilih undangan pernikahan yang akan segera ia bagiakan. "Ini untuk teman-teman, dokter dan perawat di rumah sakit yang akan aku undang," ia menyimpannya di dalam paper bag yang akan ia bawa keesokan harinya.


"Yang ini punya Kendra dan keluarganya," Fay memasukannya kedalam kotak berukuran sedang dan memberi lebel "Keluarga Besar Kendra," agar tidak tertukar dengan undangan yang lainnya.


"Beres!!!"


Setelah hampir satu jam bergelud dengan ribuan undangan pernikahannya, akhirnya ia selesai memeriksa sekaligus mengelompokannya, Fay pun keluar dari kamarnya dengan membawa satu kotak undangan untuk teman-temannya. Kebetulan rumah kurir yang ia percaya untuk mengantarkan undangannya berada di sebelah kediamannya, sehingga Fay berinisiatif mendatanginya sekaligus memberikan ongkos untuknya.


Saat melewati ibundanya yang berada di ruang keluarga, Ratri bertanya kepada putrinya. "Mau kemana kamu Fay?"


Mata Fay terarah pada kotak yang sedang ia bawa. "Ini bu, mau ngasih undangan ke Linda, biar besok dia bisa bagikan ke taman-temanku," jawabnya.


Ratri dan suaminya saling bertatapan ketika mendengar putri sulung mereka hendak membagikan undangan. "Duduk dulu yuk sebentar!" pinta Ratri sembari menepuk sofa di sebelahnya.

__ADS_1


Melihat jam di dinding sudah menujukan pukul 20.00, Fay agak sedikit ragu untuk mengobrol dengan orangtuanya, ia berpikir jika mengobrol dengan orangtuanya akan memakan waktu yang lama terlebih jika membicarakan persiapan pernikahan. "Nanti aja ya bu, habis dari rumah Linda, takut kemalaman enggak enak."


"Sebentar sayang!!" Ratri kembali menepuk sofa, meminta putrinya untuk duduk di antara dirinya dan suaminya.


Fay menghembuskan nafasnya. "Ya udah," ia menaruh kotak undangannya di atas meja kemudian ia duduk di sebelah orangtuanya. "Ada apa sih bu, yah." Fay menoleh ke arah ayah dan ibunya secara bergantian.


Ratri dan suaminya saling pandang, memberik kode siapa yang akan mengetakan pada putri sulung mereka.


"Ayah, ibu ada apa? Nanti keburu malam," ucap Fay kesal melihat kedua orang tuanya tak kunjung bicara.


Ratri mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Undangannya tidak perlu di bagikan ya, di simpan saja di gudang," ucap Ratri dengan hati-hati.


Fay langsung terkejut mendengar ucapan ibundanya. "Loh, memangnya kenapa bu? Kenapa tidak boleh di bagikan? Mengapa di simpan di gudang? Ibu jangan bercanda deh, aku sama Ken kan mau menikah."


Ratri tertunduk, ia sungguh tak sanggup untuk mengatakannya, ia tahu persis betapa putrinya sangat mencintai Kendra, buliran-buliran bening mulai jatuh di pipi Ratri. Hingga membuat Fay panik dan takut. "Ayah, Ibu ada apa? apa yang sebenarnya terjadi?"


"Maaf Fay, kami sudah memutuskan pertunangan kamu dan Kendra."


"Maksud ayah?"


"Tadi siang, kami sudah menghubungi orangtua Kendra untuk memutuskan pertunanganmu dan juga membatalkan rencana pernikahanmu dengan Kendra."


Fay semakin di buat bingung. "Kenapa ayah dan ibu membatalkannya? Pernikahan kami sudah di depan mata bu?"


Tangis Ratri kian menjadi-jadi, di sela isakan tangisnya ia berkata. "Kendra telah menghamili Amanda."

__ADS_1


Fay menggelengkan kepalanya "Tidak.. Kendra tidak akan perbuat seperti itu," ia beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju kamarnya untuk menghubungi Kendra dan meminta kejelasan padanya.


__ADS_2