14 Februari

14 Februari
BAB 49


__ADS_3

Fay terbangun oleh suara yang memanggil-manggil dirinya. "Fay..." ucap Ratri.


Perlahan Fay mulai membuka matanya, ia merasakan nyeri di kepala dan di sekujur badannya. "Aww..."


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Ratri dan Adikara bersamaan, dengan raut wajah khawatir di keduanya.


Fay melihat sekeliling sembari mengingat-ingat kejadian, sebelum dirinya pingsan. "Apa yang terjadi denganku?" terakhir yang ingat, dirinya sedang menyebrang sembari menelepon ibundanya.


Kevin.


"Dimana mas Kevin?"


Dari balik tubuh Adikara, Kevin mendekat ke arah Fay. "Tadi kamu keserempet mobil," jawab Kevin. "Kebetulan aku baru saja tiba di rumah sakit, dan aku melihat kejadian itu. Maaf ya aku terlambat menjemputmu."


'Kalau Kevin baru datang, itu berarti dia tidak melihat aku bersama Kendra,' batinnya, ia melirik ke arah jam dinding di ruang rawat inapnya.


Jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam, ia terungat jika dirinya belum berkemas untuk besok subuh kembali ke Jogja. "Aku sudah tidak apa-apa, ayo kita kembali ke hotel dan bersiap untuk penerbangan besok pagi."

__ADS_1


Mencegah Fay yang hendak beranjak dari tempat tidurnya."Istirahatlah, Fay. Kakimu cidera cukup berat, dan besok pagi kamu juga harus menjalani MRI, benturan di kepalamu akibat kecelakaan tadi cukup kuat," ucap Kevin.


"Tapi mas.."


"Fay, kesehatanmu jauh lebih penting dari acara kita. Besok pagi aku akan hubungi pihak WO. Kita tunda acara resepsi pernikahan kita sampai kamu benar-benar sembuh, dan untuk akad nikahnya kita laksanakan di sini. Bagaimana?"


Fay kembali melihat ke sekeliling ruang rawat inapnya. "Di sini?"


Kevin mengangguk. "Hanya akadnya saja, aku tak ingin menunda pernikahan ini, tapi aku juga ingin kamu sehat."


"Benar apa yang di katakan calon suamimu, tidak baik menunda pernikahan, terlebih kamu pernah gagal. Kita adakan secara sederhana di sini besok lusa, setelah kamu menjalani serangkaian pemeriksaan kondisimu dan sembari kita persiapkan acaranya. Besok ayah akan cari penghulu dan mengurus izinnya."


"Ya sudah, kamu istirahat lagi ya." Kevin menarik selimut hingga ke dada Fay. "Good night." ia tidur di sofa, sementara orangtua Fay tidur di bed penunggu pasien.



Kevin mendorong kursi roda Fay, menuju ruang radiologi, untuk menjalani MRI. Sementara orangtua Fay pergi ke bandara untuk menjemput putri bungsu mereka, sekaligus membeli keperluan untuk akad nikah putri sulungnya yang akan di gelar esok hari.

__ADS_1


Meski acara tersebut hanya dilangsungkan secara sederhana dan di hadiri oleh keluarga inti, mereka ingin putri sulungnya tetap terlihat cantik di hari bahagianya.


Fay mendongak menatap Kevin yang tengah mendorong kursi rodanya. "Mas, maaf ya aku jadi ngerepotin mas Kevin," ucap Fay. "Karena aku juga, rencana pernikahan yang sudah kita persiapkan dengan matang jadi berantankan."


"Setiap orang bisa berencana, tapi Allah yang menentukan. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, toh kita masih tetap bisa melaksanakan niat baik kita." Kebin terus mendorong kursi Fay, hingga mereka melewati ruang NICU.


Fay menoleh ke arah jendela ruang NICU, rupanya tirai yang semalam di buka belum di tutup kembali sehingga Fay bisa melihat Lily dari luar. "Mas boleh berhenti sebentar?" pintanya. "Aku mau lihat Lily."


Kevin pun menepikan kursi roda Fay tepat di depan jendela yang menghadap ke arah Lily. "Lucu sekali ya mas, bayinya." Fay menunjuk ke arah Lily. "Aku suka mata birunya, benar-benar seperti boneka."


"Mata biru?" Kevin melongok memperhatikan Lily dengan seksama, ia melihat Lily memang nampak berbeda dengan bayi-bayi keturunan asli Indonesia yang pernah Kevin temui. Lily memiliki hidung yang sangat mancung, berkulit putih, berambut pirang dan mata biru. Layaknya orang keturunan Eropa. "Apa adikmu keturunan Eropa?" tanya Kevin penasaran.


Fay menggeleng, ia menghela napas beratnya. "Adikku di perkosa oleh imigran yang berasal dari Eropa, untuk itulah Lily terlihat seperti orang Eropa."


Hati Fay merasa terenyuh melihat Lily, ia tak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Lily yang tidak memiliki orangtua kandung. "Aku yakin Kendra dan keluarganya akan merawat bayi malang itu," ucap Fay. "Jika suatu saat Kendra menikah lagi, aku harap istrinya akan menyayangi Lily dengan sepenuh hati."


Kevin mengelus bahu Fay dengan lembut. "Kita doakan yang terbaik untuk bayi cantik itu." ia kemudian kembali mendorong kursi roda Fay menuju ruang radiologi.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Kendra dan perawat berjalan ke arah Lily. Mata Kendra dan kevin bertemu, pandangan Kendra turun melihat ke arah Fay, wajahnya nampak terlihat cemas melihat kepala Fay yang di balut oleh perban. Namun rasa cemas itu Kendra tepis, mengingat Kevin merupakan seorang dokter, tentunya akan merawat Fay dengan baik, Kendra kembali fokus pada putri kecilnya.


__ADS_2