14 Februari

14 Februari
BAB 29


__ADS_3

Sudah lebih dari dua jam setelah dokter visit, dan memperbolehkan Amanda pulang. Kendra belum juga menampakan batang hidungnya, beberapa kali Amanda melihat handphonenya, Kendra belum juga membalas pesannya.


"Mungkin pak Kendra sedang sibuk, bu," ucap bik Ijah menenangkan Amanda yang terlihat cemas.


Amanda memaksakan seulas senyuman di wajahnya. "Iya bik, tadi pagi mas Ken memang bilang mau ada meeting..."


Belum sempat Amanda menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang rawat inapnya di buka oleh Kendra. "Maaf aku terlambat, tadi meeting agak molor." Kendra menghampiri Amanda di tempat tidurnya, kemudian mengecup pipi kanan dan kiri Amanda. "Pulang yuk, aku sudah mengurus administrasinya." ia menyibakan selimut dan hendak membantu Amanda turun dari tempat tidur.


Amanda memegang punggung Kendra, ia merasakan napas Ken sedikit terngah-engah. "Mas pasti capek, minum dulu ya," ia meraih sebotol air mineral yang berada di samping tempat tidurnya, lalu memberikannya kepada Kendra.


Kendra terdiam memandangi minuman tersebut, pertama dan terakhir kalinya Amanda memberikan minum, membuat dirinya tak sadarkan diri hingga harus menikahi Amanda lantara Amanda hamil. "Tidak usah," ucapnya. "Aku mau nyetir, nanti tidak ada yang mengantarmu pulang kalau aku tertidur."


Mendengar ucapan Kendra yang selalu membahas itu, Amanda langsung terdiam dan menaruh kembali botol minumnya di atas meja. "Ini kan cuma air putih ."


Kendra mengelus punggung Amanda. "Sudahlah, sudah malam. Ayo kita pulang!" ajaknya, ia menarik kursi roda mendekat ke tempat tidur kemudian membantu Amanda turun. "Biar aku saja sus, yang mendorongnya," ucap Kendra kepada perawat yang berada di belakangnya.


Kendra mendorong kursi roda Amanda hingga lobby rumah sakit. "Kamu sama bibik tunggu di sini sebentar ya, aku ambil mobil di parkiran," ia mengelus bahu Amanda, sebelum melangkahkan kakinya menuju parkiran, Kendra pun tak lupa menitipkan Amanda pada perawat dan asisten rumah tangganya.


Sembari berjalan menuju parkiran ia sempat berpikir, mengapa dirinya tidak bisa berhenti menyinggu soal malam itu, padahal dirinya sudah benar-benar ikhlas menerima Amanda dan bayi dalam kandungan Amanda menjadi bagian dari hidupnya sampai bayi tersebut lahir dan jelas siapa ayah biologisnya.


Kendra menepikan kendaraannya di lobby, ia turun dan membantu Amanda masuk ke mobil. "Tadi apa kata dokter?" tanya Kendra sembari mengemudikan kendaraannya.

__ADS_1


"Ya seperti biasanya," ucap Amanda. "Istirahat yang cukup, jangan capek-capek dan jangan banyak pikiran, lalu harus di habiskan semua vitaminnya, sama tidak boleh...." Amanda terdiam.


"Tidak boleh apa?" tanya Kendra penasaran.


"Tidak boleh... Melakukan itu karena masih sangat rawan." jawab Amanda dengan ragu-ragu.


Kendra tertawa mendengarnya. "Memangnya siapa yang mau melakukannya." ia melirik ke arah Amanda yang kembali terdiam. "Sorry." Kendra meraih tangan Amanda kemudian menggenggamnya sembari mengemudi sampai mereka tiba di apartement.



Setibanya di apartement Kendra mengajak Amanda berbincang di ruang keluarga, ia menyodorkan surat perjanjian yang ia buat untuk Amanda. "Bacalah!"


Kendra mengangguk. "Ya, jika terbukti anak itu bukan anakku. Aku akan mengajukan pembatalan pernikahan kita, tapi kamu tidak perlu khawatir, selama kamu belum melahirkan kita akan tetap menjadi patner untuk sama-sama merawat anak itu." mata Kendra terarah pada kandungan Amanda.


Kendra mendekat ke arah Amanda, ia merangkul dan mengecup pipinya. "Bukankah dari awal kau sangat yakin jika anak itu adalah anakku?" bisik Kendra. "Tentu tidak akan jadi masalah dong." Kendra terus membujuk Amanda agar ia mau menandatangani surat perjanjian yang ia buat.


Merasa terdesak akhirnya Amanda menerima bolpoin yang di sodorkan Kendra kepadanya, dengan tangan yang gemetar ia menandatangani surat perjanjian itu.


Kendra tersenyum puas, ia mengambil surat itu. "Yang ini untukmu," Kendra memberikannya kepada Amanda. "Dan yang ini untukku," Kendra mengecup kening Amanda kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia menyimpan surat itu dalam brankas yang ia sembunyikan di laci bawa meja kerjanya.


"Ternyata tidak begitu sulit, hanya tinggal 6.5 bulan lagi," gumamnya, ia menutup brankas tersebut menguncinya dengan menggunakan sindik jarinya.

__ADS_1


Setelah membersihkan tubuhnya ia membuatkan susu hangat untuk Amanda dan mengantarnya sendiri ke kamar. "Belum tidur?" tanya Kendra dari balik pintu, ia melangkah masuk mendekat ke arah Amanda.


Amanda menggeleng, sembari menerima susu hangat buatan Kendra. "Aku tidak bisa tidur," ia mulai meneguk susu itu sedikit demi sedikit. "Mungkin selama di rumah sakit terbiasa di temani mas Ken." Ya selama Amanda di rawat di rumah sakit, setiap malam Kendra selalu menemaninya.


"Ya sudah cepat habiskan susunya." Kendra menunggu Amanda menghabiskan susu, kemudian mengambil gelas itu dari tangan Amanda, ia menyibakan selimut dan meminta Amanda berbaring. "Malam ini aku akan menemanimu di sini," ia menaruh gelas di meja sebelah tempat tidur, lalu berbaring di samping Amanda.


Tangan Kendra merayap di perut Amanda, mengelusnya dengan lembut. "Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu," ucapnya. "Konten yang minggu lalu kamu buat, menembus 1 juta view hanya dalam waktu dua hari. Karena itu lah meeting tadi jadi semakin lama, kami membahas untuk seri ke duanya."


Amanda berbalik menghadap Kendra. "Selamat ya mas," ia menggeser tubuhnya lebih mendekat kemudian memeluknya.


"Angkat dulu kepalamu sebentar," pinta Kendra, ia memposisikan tangannya terlentang, kemudian membiarkan Amanda menyusup dan memeluknya lebih erat.


"Aku juga mau berterima kasih sama mas Ken, nilai kripto yang kemarin mas bilang jangan di jual dulu, ternyata sekarang mulai naik. Untung aku tidak jadi menjualnya."


Kendra membelai rambut Amanda dengan jemarinya. "Justru saat turun, itu adalah kesempatan kamu untuk membelinya kembali. Karena bukan tidak mungkin nilai aset yang kamu beli akan meningkat dan kamu bisa dapat keuntungan lebih besar nantinya." Kendra mencoba untuk memberikan pandangan lain mengenai investasi kepada Amanda. "Mata uang crypto saat ini memang lagi digila orang banyak. Tapi, bukan berarti kamu langsung melupakan instrumen investasi lainnya. Karena menaruh kekayaan pada instrumen investasi lain juga bisa menurunkan risiko kehilangan dana dari crypto. Kamu bisa memilih emas yang terbilang harganya stabil, atau bisa juga menaruhnya di deposito yang terbilang sangat aman. Tapi kalau aku sendiri lebih memilih reksadana."


Amanda mendongak menatap wajah Kendra. "Mas Ken punya produk reksadana apa?"


"Ya yang pasti yang aku pakai sehari-hari," jawab Kendra, ia menarik selimut sampai ke dada mereka. "Kita bahas besok lagi ya, sekarang sudah saatnya istirahat. Good night." Kendra memejamkan matanya.


"Good night," Amanda pun memejamkan matanya, ia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Kendra. 'Jadi ini rasanya menjadi Fay,' batinnya.

__ADS_1


__ADS_2