14 Februari

14 Februari
BAB 19


__ADS_3

02 Februari


Sejak kejadian malam itu, Kendra jarang sekali pulang ke rumah kontrakannya, salah satu alasan terbesarnya adalah untuk menghindari Amanda, ia ingin berusaha melupakan kejadian itu, sehingga Kendra lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan menginap di apartement barunya sembari ia mencicil perabot yang ia butuhkan sebelum Fay tinggal bersamanya.


Namun malam itu Kendra memutuskan untuk pulang ke kontrakannya karena masih ada sisa pakaian dan barang-barang pribadinya yang masih tertinggal di rumah kontrakannya sekaligus Kendra ingin berpamotan dan mengembalikan kunci kontrakan kepada bude Jum, ia berniat pindah dari kontrakan bude Jum.


Pukul 20.30 WIB, Kendra memarkirkan kendaraannya di garasi, kemudian ia turun dari mobilnya. Kendra sedikit terkejut ketika melihat Amanda tengah duduk di teras rumah kontrakannya. Tak ingin terlihat seperti bajingan yang tak bertanggung jawab, Kendra pun menghampiri Amanda. "Hai Manda," sapanya pada Amanda. "Kamu sedang menungguku pulang?"


Amnda beranjak dari tempat duduknya, wajahnya terlihat sangat serius menatap Kendra, hingga membuat Kendra sedikit bingung dan bertanya-tanya ada apakah gerangan Amanda menyambangi rumah kontrakannya.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Mas Kendra," ucap Amanda.


Kendra mengangguk. "Katakanlah!" ia mempersilahkan Amanda untuk berbicara.


"I'm pregnant."


Kalimat itu keluar bagai kilatan petir yang menyambar tubuh Kendra, ia terdiam beberapa saat untuk mencerna kalimat tersebut. "Maksudmu?" tanyanya sembari menyipitkan matanya.


Amnda mengulurkan dua buah test pack dengan dua garis biru yang berarti positif hamil. "Aku sedang mengandung anakmu, mas."


Dengan tangan yang gemetar Kendra mengambil test pack itu dari tangan Amanda, ia memperhatikan dua garis biru yang tertera di test pack tersebut. Kendra langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin... Ini tidak mungkin, Amanda," ia langsung mengembalikannya kepada Amanda.

__ADS_1


"Apa maksud mas Kendra, tidak mungkin?" seketika wajah Amanda berubah menjadi sangat marah, kilatan kemarahan itu terpancar jelas di matanya. "Mas Kendra tidak ingin bertanggung jawab atas bayi yang sedang aku kandung?" bentaknya.


Kendra mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukan begitu Amanda." ia mencoba untuk menjelaskannya, namun Amanda terlebih dahulu menyelanya.


"Lalu apa?"


Kendra memegang bahu Amanda, dan memintanya untuk tenang. "Tenanglah Amanda, kita bicarakan ini dengan akal sehat dan logika."


Kendra menghela napas beratnya. "Sejujurnya sampai sekarang aku masih belum percaya kita telah melakukan hubungan itu," ucap Kendra. "Aku ingat betul jika aku hanya meminum dua gelas, dan itu tentunya tidak akan membuatku mabuk." elak Kendra mencoba membela dirinya.


Amanda melipat kedua tangannya didada, sembari membuang wajahnya ke samping. "Oooh bagus," ucapnya dengan sinis. "Mas Kendra mau mengelak padahal semua teman-temanku melihat, jika mas Kendra minum dua botol, dan mas Kendra mabuk kemudian membawaku ke kamar hotel!" ia menghempaskan tangan Kendra dari bahunya.


Bukan Kendra tak ingin bertanggug jawab, hanya saja ia betul-betul kerasa jika dirinya tak pernah meniduri Amanda.


Amarah Amanda memuncak, ia sudah tidak dapat mengontrol emosinya, medengar penyangkalan yang keluar dari mulut Kendra. "Jadi mas Kendra nuduh aku tidur dengan pria lain dan mas Kendra tidak mau bertanggung jawab atas janin yang aku kandung?" tanyanya dengan nada tinggi. "Dasar bajingan," Amanda mendorong tubuh Kendra dan pergi meninggalkan Kendra.


"Amanda... Amanda," panggil Kendra, ia masih ingin bicara dengan Amanda, namun wanita itu tetap pergi meninggalkan rumah kontrakan Kendra.


Melihat Amanda masuk ke kediamannya, Kendra pun masuk ke rumah kontrakannya, ia berteriak dan memaki dirinya sendiri atas ketidaktegasan dirinya untuk menolak ajakan Amanda pergi ke pesta. "Berengsek!" teriaknya sembari melempar bantal sofa ke sembarang arah. "Harusnya gue enggak datang ke pesta itu," ia menyesali dirinya datang ke pesta tersebut.


Melihat foto Fay yang terpajang di dinding ruang tamunya, Kendra tersungkur dan menangis sejadinya, ia tak bisa membayangkan jika wanita yang ia cintai mendengar kabar kehamilan Amanda lalu kemudian memutuskan pertunangan mereka. "Aku tidak ingin kehilangan kamu, Fay," ucapnya lirih.

__ADS_1


Lama ia menangis hingga getar handphone di sakunya, membuatnya menghapus air matanya dengan jemarinya. "Ha-halo," jawab Kendra terbata-bata, ia mencoba mengatur suaranya agar Fay tidak mengetahui dirinya tengah menangis.


"Halo sayang," ucap Fay dari seberang telepon. "Kamu sudah pulang?" tanya Fay.


"Sudah, baru saja aku sampai di kontrakan."


"Coba tebak, tadi aku dari mana?" suara Fay terdengar sangat bahagia, Kendra tak bisa membayangan jika suara bahagia itu sirna, menjadi tangis kesedihan. "Dari rumah sakit?" Kendra mencoba menebak pertanyaan kekasihnya.


"Iya benar sih, aku baru pulang dari rumah sakit." Fay menggaruk kepalanya, karena bukan itu jawaban yang ia maksud. "Tapi tadi sebelum pulang ke rumah aku semppat mampir ke percetakan untuk mengambil souvenir pernikahan kita. Ini keren banget Ken, selera kamu memang luar biasa. Kamu mau lihat tidak?" Fay merubah panggilan suaranya menjadi panggilan video call.


Kendra langsung panik, ia menyambar tisu dari meja kemudian menghapus seluruh air mata di wajahnya, baru kemudian ia menjawab panggilan video call dari Fay. Meski Kendra telah menghapus air matanya, namun tetap saja Fay mengetahui jika Kendra tengah bersedih. "Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Fay cemas.


Kendra menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja sayang, aku cuma terharu karena perjalanan empat tahun masa pacaran kita akan segera berakhir," ucap Kendra.


"Iya Ken, dua belas hari lagi kita akan menikah," ucap Fay.


Kendra menelan ludahnya, ia tidak tahu apakah empat tahun masa pacarannya berakhir dengan pernikahan atau justru dengan perpisahan. "Fay, believe me. You are the one, whom my heart finds, whom my mind reminds me of, whom my destiny wants, whom I love the most," ucap Kendra dengan segenap hatinya.


"Aku percaya sama kamu sayang," Fay mengarahkan pada souvenir pernikahan mereka. "Lihatlah, semua persiapan pernikahan kita sudah 80%, hanya tinggal undangan yang besok akan aku ambil lalu setelah itu akan kuberikan pada kurir yang akan mengantarkannya. Kita tinggal tunggu waktu yang terus mendekat pada takdir cinta kita."


Melihat senyum kekasihnya, melihat tumpukan souvenir pernikahan mereka, membuat Kendra semakin cemas, ia menggelengkan kepalanya. 'Aku harus tetap menikah dengan Fay,' batinnya, ia memikirkan cara agar dirinya bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2