
Pagi itu Fay berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesah-gesah, ia teramat bersemangat dan tak ingin terlambat untuk ikut serta dalam pelaksanaan operasi dengan prosedur Bentall. Namun langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan orangtua Kendra, ia terdiam sesaat sebelum akhirnya Ajeng menyapa dirinya.
"Fay," sapanya sembari menghampiri dan memeluk Fay. "Apa kabar, sayang? Mama dengar kemarin kamu sakit?" tanya Ajeng dengan nada cemas, ia melepaskan pelukannya, kemudian menatap Fay sembari memegang bahunya. "Maaf ya mama belum sempat menjengukmu."
Fay mengangguk, perlahan ia meraih tangan Ajeng dan melepaskannya dari bahunya. "Alhamdulillah aku baik-baik saja tante, aku hanya kecapean karena banyaknya tugas yang harus aku selesaikan." jawabnya, ia mundur satu langkah memberikan sedikit jarak kedapa Ajeng. "Tante mengapa ada di sini? Siapa yang sakit?"
Ajeng sedikit terkejut, sekaligus sedih ketika mendengar Fay tidak lagi memanggilnya dengan sebutan mama dan menjaga jarak dengannya, namun Ajeng mengerti mengapa Fay berbuat seperti itu, ia mencoba untuk tetap tersenyum kepada Fay. "Tante hanya mau mengambil hasil MCU om, kemarin."
Di tengah obrolan Fay dengan Ajeng, tiba-tiba saja Kevin melongok dari pintu ruang operasi. "Fay masuk yuk, opersinya sebentar lagi di mulai," ajak Kevin.
Ajakan Kevin membawa angin segar di tengah kekakuan Fay bertemu dengan Ajeng, ia langsung mengangguk. "Baik Dok," ucapnya, kemudian Fay beralih ke Ajeng. "Tante maaf ya, aku tinggal dulu. Aku harus segera masuk ruang operasi."
Ajeng mengangguk. "Iya, nak. Semoga lancar segala urusanmu."
"Terima kasih tante. Permisi," Fay membungkukkan badannya kemudian ia melangkahkan kakinya menyusul Kevin yang sudah kembali masuk ke ruang operasi. 'Maafin aku tante, aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini,' gumam Fay. Sejujurnya ia tak enak hati menjaga jarak dengan ibunda Kendra, namun ia juga juga tidak bisa besikap seperti dulu lagi, ia benar-benar ingin melupakan Kendra.
Sama seperti dokter sungguhan, sebelum memulai operasi Fay juga mengenakan pakaian khusus, ia tersenyum di depan cermin memandangi dirinya mengenakan pakaian operasi. "Aku tidak boleh terpuruk hanya karena masalah itu, aku harus bangkit demi impian yang sebentar lagi akan aku raih. Menjadi dokter muda yang berbakat dan menolong banyak orang."
Dari belakang Kevin tersenyum memandangi Fay. "Kau tidak mau ikut berfoto bersama?" tanyanya.
Sudah menjadi suatu kebiasaan Fay dan teman-temannya, sesaat sebelum memulai operasi atau sebelum pasien datang mereka berfoto bersama untuk mengabadikan moment pengalaman berharga bisa ikut serta dalam operasi bersama dokter-dokter hebat.
"Tentu saja," jawabnya, Fay langsung ikut bergabung untuk foto bersama, ia berdiri tepat di sebelah Kevin.
__ADS_1
Selesai berfoto Fay langsung menguploadnya di sosial media miliknya, ia tertegun saat melihat sosial medianya yang masih di penuhi oleh foto-foto Kendra. Fay menghembuskan nafas beratnya, ia berniat setelah ini ia akan menghapus semua foto-foto Kendra.
"Fay sebentar lagi pasien datang, ayo sterilkan tanganmu," ucap salah seorang temannya. Fay pun langsung mematikan handphonenya, dan menaruhnya di tas. Ia bergegas mensterilkan tangannya dan bersiap menuju meja operasi.
Sekitar pukul 11.00, pembedahan mulai dilakukan. Kevin tidak sendiri, ada dua dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular yang membantu dalam operasi tersebut, serta tim yang ikut serta dalam operasi Bentall tersebut seperti dokter anestesi dan dua anak koas, Fay dan Margareth. Mereka membantu mempersiapkan pasien sebelum operasi, memonitor kondisinya, dan memberi pembiusan selama operasi hingga pascaoperasi. Sementara, Kevin terlihat sibuk mengoperasikan heart-lung machine.
Sepanjang operasi berlangsung Fay napak memeperhatikan gerak Kevin yang begitu berbeda dari biasanya yang terliat menyenangkan. Kali ini Kevin terlihat serius dan cekatan menangani pasien.
Di sesi akhir Kevin memberikan kesempatan kepada Fay untuk menjait kulit, tentu saja Fay tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meski sebetukan ini bukan kali pertamanya ia menjait kulit tapi tetap saja di awal Fay agak sedikit gugup, namun setelahnya ia mulai lebih rileks karena Kevin memberikannya arahan.
Selesai operasi Kevin menjelaskan kepada Fay dan Margareth, bahwa "Operasi jantung dengan prosedur Bentall menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi jantung pasien. Teknik operasi ini untuk mengganti klep jantung aorta pasien, juga disertai penggantian pembuluh darah aorta yang melebar dengan bahan prostetik. Kemudian, pembuluh darah koroner yang tadinya berada di pembuluh aorta yang melebar kembali dipasang. Seluruh klep atau katup aorta yang melebar itu dibuang karena sudah rusak akibat kelainan jaringan ikat (connective tissue disorder). Tidak ada yang sehat di situ,” ungkapnya.
"Jika jaringan ikat yang tidak sehat itu dibiarkan," lanjut Kevin, "Beberapa tahun kemudian terjadi masalah lagi. Jadi, batang aortanya dibuang. Kalau batang aorta yang sakit dipertahankan, pasti melar lagi nanti. Bisa operasi ulang lagi nanti,” ujarnya. Kevin menerangkan dengan santai sehingga Fay dan Margaret mudah menangkap semua penjelasan Kevin.
"Ada yang mau di tanyakan?" tanyanya.
"Okay, kalau begitu aku yang akan bertanya."
Kali ini Fay yang di buat gugup karena akan mendapatkan pertanyaan dari Kevin, namun untungnya Kevin hanya menanyakan seputar heart-lung machine atau mesin pintas jantung paru.
"Selama jantung dan paru-paru berhenti, tindakan penggantian katup atau klep aorta (aortic valve replacement) dan penggantian pembuluh darah aorta yang melebar dengan prosthesis graft berbahan karbon. Selain itu, disertai pemasangan kembali pembuluh darah koroner (reimplantasi pembuluh darah koroner), ”jawab Fay.
Usai tanya jawab Fay dan Margareth merapihkan barang-barangnya, sementara Kevin kembali ke ruangannya, namun sebelum Kevin kembali ke ruangannya ia kembali memanggil Fay.
__ADS_1
"Iya dok, ada apa?"
Hhmm, Kevin berdeham mengurangi rasa gugupnya. "Mau pulang bersamaku?"
Fay tersenyum. "Maaf dok aku bawa mobil sendiri," tolaknya secara halus.
"Enggak masalah, nanti mobilmu bisa di antar oleh supirku. Bagaimana?" Kevin memberikan solusi atas penolakan Fay, sehingga Fay tidak bisa menolak ajakan Kevin, ia pun mengangguk menerima ajakan Kevin
"Jika kamu sudah selesai, tunggu di sini dulu ya. Aku mau ke ruanganku sebentar."
"Baik dok." Fay kembali membereskan barang-barangnya, sementara Kevin kembali ke ruangannya.
Begitu Fay selesai, ia berjalan menuju ruang tunggu pasien untuk menunggu Kevin, tapi ternyata begitu sampai di ruang tunggu, rupanya Kevin sudah berada di sana menunggu Fay.
"Selamat ulang tahun," Kevin menyodorkan sebuah paper bag berwarna merah muda. "Maaf aku agak terlambat, hadiahnya."
Fay agak terkejut mendapatkan kado dari seorang dokter yang cukup terkenal di rumah sakit itu, dengan sedikit gugup ia menerimanya. "Terima kasih banyak dok."
Kevin tersenyum melihat Fay menerima pemberiannya. "Boleh enggak, ucapan terima kasihnya di gantikan dengan...." Kevin berhenti sejenak. "Jangan panggil dokter lagi jika kita tidak sedang praktek."
"Lalu?" tanya Fay bingung.
"Panggil mas aja," pintanya.
__ADS_1
Fay mengangguk. "Baik dok, eh maksudku mas Kevin."
Senyum sumringah terpancar jelas di wajahnya, ia kemudian mengajak Fay pulang bersamanya.