
Butuh waktu tiga hari untuk Kendra dan Amanda menyelesaikan lukisan dinding kamar anak mereka, tak hanya melukis dinding kamar, Amanda juga melengkapi semua kebutuhan perlengkapan calon buah hatinya, termasuk perlengkapan yang akan di bawa ke rumah sakit saat proses persalinan nanti.
"Padahal masih dua bulan lagi loh, Man. Tapi kamu sudah mempersiapkan semuanya," ucap Kendra ketika melihat istrinya tengah merapihkan pakaian-pakaian bayi yang sudah di cuci.
"Enggak apa-apa mas, biar tidak buru-buru. Aku masih mikir-mikir juga takut ada yang kelewat." Amanda menata pakaian calon buah hatinya di lemari serapih mungkin. "Oh iya, aku juga siapin baju-baju kita yang mau di bawa besok ke Bogor, tapi belum sempat aku masukin ke koper."
"Biar nanti aku saja yang merapihkan, kita istirahat yuk. Kamu sudah seharian berada di kamar baby mengurusi semuanya." Kendra mengulurkan tangannya membantu Amanda bangkit dari tempat duduknya.
Perutnya yang sudah membesar membuat Amanda agak kesulitan untuk bangun dari tempat duduknya, sehingga tak jarang ia meminta bantuan Kendra atau asisten rumah tangganya.
Amanda berjalan menuju kamarnya sembari merangkul pinggang Kendra. "Mas, berarti foto maternity besok outdoor ya?" sampai saat ini ia belum tahu mengenai konsep maternity yang akan ia jalani bersama suaminya, karena Kendra masih merahasiakannya.
Kendra mengangguk. "Di dalam studio, di kebun teh dan di kolam renang."
"Masud mas Ken, underwater gitu?"
Kendra mengangguk, ia berbalik menghadap Amanda dan menarik piyama yang di kenaka istrinya, hingga ranumnya payud*ra Amanda yang tak mengenakan br* terlihat dengan jelas. "Fotografernya perempuan kok, jadi tidak masalah kalau saat pemotretan nanti kau pakai kau pakai pakaian terbuka atau menggunakan bikini." ia membelai lembut wajah Amanda, Kendra memberikan kecupan manis di bibir Amanda.
Amanda menyambut kecupan suaminya dengan ciuman lebih dalam, ia menyapu bibir hangat Kendra dengan lidahnya. Bibir Kendra bagai candu bagi Amanda, ini adalah bagian tubuh suaminya yang paling ia sukai setelah dada bidang suaminya yang sangat hangat ketika memeluknya. "Aku sudah siap mas, mas mau sekarang?"
Beberapa kali melakukan konseling, membuat Amanda sedikit demi sedikit melawan rasa traumanya, ia ingin sekali bisa melayani suaminya di tempat tidur.
Kendra kembali membelai wajah Amanda, ia menelusuri wajah Amanda dengan jemarinya, kemudian turun ke bawah memainkan dua puncak Amanda. Amanda mulai mengeluarkan erangan-erangan kecil, erangan itu terhenti ketika Kendra berbisik. "Besok saja ya di puncak, aku sudah siapkan moment special untuk kita," ia membopong dan merebahkan tubuh polos istrinya ke atas tempat tidur, Kendra meyelimuti dan memeluk Amanda hingga tertidur dalam pelukannya.
Keesokan paginya saat hendak berangkat menuju Bogor, Kendra mencari-cari keberadaan Amanda. "Man, kamu di mana?"
__ADS_1
"I'm here baby," teriak Amanda dari kamar bayi. Kendra bergegas menghamipirinya, "Kok masih di sini, udah siang kita berangkat yuk!" ajak Kendra.
"Aku cuma lagi bayangin, sebentar lagi kamar ini tidak akan sunyi lagi. Akan ada peri kecil kita yang menghuninya."
"Masih satu bulan setengah lagi, Manda... Udah yuk berangkat, tim fotografernya sudah nungguin kita loh." Kendra mengulurkan tangannya dan menggandengnya keluar dari kamar. Sebelum berangkat Amanda memberikan gaji kepada kedua pegawai perhiasan dan asisten rumah tangganya, ia juga mempersilahkan mereka libur selama dirinya berada di Bogor.
"Terima kasih ya Bu Manda, Pak Ken," mereka bertiga pamit dan keluar dari apartement.
"Mereka kan belum waktunya gajian Man?" tanya Kendra, sebenarnya Kendra tak pernah mengurusi urusan pengeluaran rumah tangganya, ia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Amanda namun ia hafal dengan tanggal gaji yang harus di bayarkan ke para pegawai yang bekerja bersamanya.
"Enggak apa-apa mas, takut nanti aku tidak sempat."
Kendra tak ingin mengambil pusing, menurutnya tidak ada salahnya memberikan gaji di awal dan memberikan mereka waktu libur toh dirinya dan Amanda juga sedang tidak di rumah. "Ya sudah yuk kita jalan." Kendra menggandeng tangan Amanda dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menyeret koper.
Selama perjalanan menuju puncak terasa singkat karena Amanda dan Kendra banyak membicarakan perencanaan masa depan. Diam-diam Amanda sudah menyiapkan dana pendidikan untuk calon buah hatinya."Enggak banyak sih mas, aku hanya menyisihkan sebagian dari keuntungan penjualan perhiasanku," ucap Amanda.
Amanda terkejut, belum juga dirinya melahirkan anak pertamanya, Kendra sudah meminta anak ke dua.
"Yang pasti menunggu kondisi terbaikmu," tangan Kendra turun ke tangan Amanda ia menggenggamnya dengan erat. "Kita persiapkan semuanya dengan matang."
Amanda mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kendra.
Tiba di villa, mereka di sambut oleh tim make up dan tim fotografer yang akan mengambil foto. "Keren banget mas villanya," Amanda melihat hamparan kebun teh yang berada di sekeliling villanya, ia sangat antusias untuk menjalani foto sesi pertamanya.
Sembari menunggu Amanda make up, Kendra beristirahat sejenak meluruskan tubuhnya sembari membuka handphonenya, ia mendapatkan pesan masuk dari ibundanya yang mengirimkannya foto undangan pernikahan Fay yang baru saja di terimanya.
Kendra terdiam cukup lama, meski dirinya sudah ikhlas namun tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya sangat sakit melihat wanita yang masih bertahta di hatinya akan bersanding dengan pria lain.
__ADS_1
Kendra:
Sepertinya aku dan Amanda tidak bisa datang Mah, nanti jika mama datang tolong sampaikan salam kami padanya. H-3 Ken dan Manda akan kirim hadiah untuk Fay.
^^^Ajeng:^^^
^^^Iya, nak mama mengerti. Nanti mama sampaikan salam kalian untuk Fay. Sehat-sehat ya kalian di sana, mama akan ke Jakarta setelah menghadiri pernikahan Fay.^^^
"Mas, lagi chat sama siapa? Keliatannya serius banget," Amanda mendekat ke arah suaminya setelah ia selesai make up.
Kendra mendongak menatap Amanda. "Dari mama," jawabnya singkat. "Kamu sudah selesai?"
Amanda mengangguk. "Sudah, sekarang mas ganti baju dulu gih." ia memberikan pakaian yang telah ia siapkan. "Aku tunggu di kebun samping ya."
Kendra beranjak dari tempat duduknya. "Sebentar ya," ia berlalu meninggalkan Amanda untuk berganti baju.
Setelah mengganti pakaiannya Kendra bergegas menghampiri Amanda ke kebun. Mereka berpose dengan berbagai gaya, mulai dari Kendra memeluk Amanda hingga mencium perut Amanda. Kegiatan photoshot itu di abadikan oleh salah satu team make up dengan membuat story di akun IG-nya dengan caption bekerja sambil liburan.
Di tempat berbeda, Fay nampak sedang membuka-buka akun instagramnya, secara tak sengaja ia melihat postingan team make up yang menangani Amanda, dan juga dirinya pada waktu Fay melakukan foro prewedding bersama Kendra di Jakarta.
Ia tak bisa berbohong, jika jauh di lubuk hatinya masih menyimpan rasa cemburu dan sakit. "Jadi ternyata benar, anak itu adalah anakmu, Ken," gumam Fay, jelas terlihat saat Kendra mencium perut Amanda, Kendra napak benar-benar menyayangi anak dalam kandungan Amanda.
Fay mematikan handphonenya kemudian menyimpannya di dalam tas. "Jadi bagaimana mas, bisa di perbaiki cincinnya?" tanya Fay kepada Kevin. Mereka tengah mendatangi toko perhiasan yang membuat pesanan cincin pernikahan mereka, ada sedikit kesalahan pada tanggal pernikahan sehingga Fay dan Kevin meminta pemilik toko untuk memperbaikinya.
"Sudah dong sayang," Kevin memperlihatkan cincin berlian yang akan ia persembahkan untuk wanita terkasihnya. "Bagaimana? Kamu suka?"
Fay mengangguk sembari tersenyum. "Terima kasih ya mas."
__ADS_1
Selesai urusan cincin, keduanya kembali melanjutkan perjalan menuju gedung tempat mereka menggelar resepsi dan akad nikah.