14 Februari

14 Februari
BAB 22


__ADS_3

"Fay.." Kendra merengkuh kekasihnya dalam pelukannya. "Fay kamu harus percaya, bahwa aku tidak melakukannya." ucap Kendra di sela isak tangisnya, hanya Fay satu-satunya harapan Kendra, orang yang bisa mempercayai ucapannya.


Mereka berdua berpelukan dengan sangat erat, dan hanyut dalam isak tangis, batalnya acara yang sudah mereka nanti dan persiapkan sejak lama.


Kendra melepaskan pelukannya, kemudian menangkup wajah Fay dengan kedua tangannya. "Please kasih aku waktu, untuk membuktikan bahwa aku tak bersalah, bayi yang di kandung Amanda bukan anakku. Aku sama sekali tidak pernah menyentuh Amanda!!!" ia menatap mata Fay dalam-dalam. "Kamu percaya sama aku kan Fay? Kamu mau menunggu aku kan Fay sampai aku berhasil membuktikannya?" tanyanya penuh harap, ia kembali membawa Fay kedalam dekapannya. "Aku enggak mau kehilangan kamu Fay," bisiknya lirih.


Selama hampir 5 tahun menjalin kasih dengan Kendra, belum pernah Fay melihat Kendra sesedih dan setakut ini, ia mengelus punggung Kendra dengan lembut, menenagkan hatinya, meski dirinya sendiri pun sangat terpukul dengan kejadiaan ini.


Perlahan Fay melepas pelukan Kendra. "Ken..." Fay berusah untuk tetap tegar dan tersenyum kepada Kendra, ia menghapus air mata Kendra dengan jemarinya.


"Ken, aku mau banget percaya dan ngasih kamu kesempatan sekali lagi," ucap Fay. "Tapi aku enggak bisa."


"Se-sekali lagi? Maksud kamu?" tanya Kendra bingung.


Fay menghembuskan nafas beratnya, sembari memandangi wajah Kendra. "Sebenarnya aku pernah datang ke Jakarta, menemani Ibu menjenguk sahabat baiknya yang sedang sakit. Aku sengaja tidak bilang padamu karena aku ingin memberimu kejutan. Pagi-pagi sekali aku datang ke kantormu dengan membawakan bubur kacang hijau hangat kesukaanmu yang aku buat sendiri di hotel, tapi begitu sampai di parkiran kantormu, aku melihatmu sedang berciuman dengan seorang wanita, teman kantormu sendiri."

__ADS_1


Fay menudukan kepalanya, menahan tangis. Rasanya terlalu perih jika ia mengingat kejadian tersebut. Pria yang di cintai dengan sepenuh hatinya, ternyata menghianati janji yang pernah di ucapkannya.


Kendra membulatkan matanya, ia sangat terkejut mendengarnya. "Fay, jadi kamu lihat...?"


Fay mengangguk. "Bukan hanya itu Ken, aku tahu pada malam kamu datang ke Jogja, kamu bukan sedang sakit, tapi kamu habis mabuk." Fay mengapus air matanya dengan tangannya. "Bau alkohol di mulut dan pakaian sangat terasa. Tapi aku menafikan itu semua, karena aku cinta sama kamu Ken, aku berharap kamu bisa berubah, dan kembali menjadi Kendra yang pertama kali aku kenal."


Tubuh Kendra gemetar, air matanya mengalir deras di wajahnya, ia tak menyangka jika ternyata Fay tahu bahwa dirinya pernah mengkhianatinya. "Fay, aku mohon maafin aku. Kasih aku kesempatan satu kali lagi, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," pintanya dengan penuh harap.


Fay mengambil paper bag yang berisi dokumen jual beli apartement, yang ia taruh di atas meja teras rumahnya. "Ini milikmu Ken, aku tidak berhak atas hunian yang kamu beli dari hasil keringatmu."Fay mengembalikannya kepada Kendra, ia juga melepas cincin pertunangan mereka. "Terima kasih atas empat tahun terindah dan tersakit yang kamu berikan," ia meraih tangan Kendra dan menaruh cincin tersebut di tangan Kendra. "Maaf aku menyerah, aku tidak bisa lagi menunggumu." Fay berbalik menjauh dari Kendra, sebelum ia masuk ke kedamannya, ia menoleh sembari berkata. "Semoga kamu bahagia bersamanya," Fay pun masuk dan menutup pintu kediamannya.


"Fay please jangan tinggalin aku hiks..." Kendra mengetuk-ngetuk pintu kediaman Fay, ia berharap Fay membuka pintu tersebut dan berubah pikiran untuk memberikannya kesempatan.



Fay merapihkan semua barang-barang pernikahannya, mulai dari undangan, souvenir, hingga foto-foto preweddingnya yang sudah ia cetak. Beberapa kali Fay menyeka air matanya, ia tak menyangka kisah asmara yang ia bangun selama hampir 5 tahun bersama Kendra akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


Fay mengambil bunga mawar kering yang Kendra berikan empat tahun silam, saat Kendra menyatakan cintanya, saat itu keduanya masih sama-sama duduk di bangku perkuliahan. Mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan, Kendra mengambil jurusan ekonomi dan ia mampu menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu tiga setengah tahun, sehingga Kendra lebih dahulu bekerja.


"Setidaknya, aku pernah menemani seseorang yang aku cintai sampai ke titik terbaiknya saat ini," gumam Fay, ia kembali meyeka air matanya kemudian menaruh bunga kering itu di dalam kardus bersama barang-barang pemberian Kendra yang lainnya, lalu menutupnya dengan plaster.


Ratri yang tak sengaja mengintip putrinya dari balik pintu, perlahan masuk ke kamar putrinya. "Ikhlas, nak. Insyaallah kebahagian menantimu di depan," ia mengelus bahu Fay dengan lembut.


Fay mengangguk. "Insyaallah bu, tapi sekarang aku masih butuh waktu untuk bisa menerima semua ini," ucapnya sembari tersenyum getir.


Dengan di bantu dua asisten rumah tangganya, Fay menaruh semua barang-barang tersebut di gudang belakang rumahnya, kemudian ia meraih tasnya dan berpamitan kepada ibundanya untuk mencari angin segar agar pikirannya lebih tenang.


Ratri merasa khawatir putrinya pergi sendiran di tengah kemelut kegalauan hatinya. "Di temani adek ya, nak,"


"Enggak usah bu, aku lagi pengen sendiri dulu. Aku hanya ingin mencari udara segara di sekitar sini." Fay meraih tangan ibundanya kemudian menciumnya. "Fay pergi dulu ya bu, Assalamualaikum," ia pun pergi meninggalkan kediamannya.


Air matanya kembali menetes ketika menyusuri jalanan yang biasa ia lalui bersama Kendra, mulai dari saat Kendra masih mengendarai sepeda motor butut peninggalan eyangnya, hingga Kendra mampu membeli kendaraannya sendiri.

__ADS_1


Fay menghembuskan nafas beratnya, ia menepikan kendaraanya di pantai Parangtristis tempat biasa dirinya dan Kendra merayakan ulang tahun sekaligus anniversary mereka. Kini Fay menyusuri pantai itu hanya seorang diri sembari mengingat semua kenangan indahnya bersama Kendra.


'Usai sudah semua cerita, yang t'lah kita ukir berdua. Meninggalkan dirimu adalah hal terberat yang harus kujalani.'


__ADS_2