
"Kamu semalam dari mana aja sih, Ken?" tanya Fay dari seberang telepon. "Aku neleponin kamu tau!" entahlah akhir-akhir ini Fay merasa firasatnya agak sedikit tidak enak terhadap terhadap kekasihnya.
"Emm.." Kendra nampak gugup mendengar pertanyaan Fay, karena kemarin sore setelah pulang kerja ia dan Luna pergi menonton ke bioskop, lalu ia menemani Luna minum di apartementnya hingga larut malam. Kendra sendiri baru pulang ke kontrakannya pukul 02.00 dini hari, sehingga ia tidak sempat menghubungi apalagi menemani Fay belajar.
"A-aku semalam lembur," jawabnya terbata-bata. Ia menghembuskan nafas pelan, berusaha untuk tetap tenang agar Fay tak mencurigainya. "Aku capek sekali Fay, jadi semalam aku langsung tidur. Maaf ya."
"Memangnya sebanyak itu ya pekerjaanmu? Sampai-sampai kamu setiap hari lembur."
Sembari menyimak ucapan Fay, Kendra melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 07.00 WIB. 'Haduh bisa telat nih,' batinnya, ia meloudspeaker handphonenya kemudian menaruhnya di lantai, sementara dirinya sibuk mengikat tali sepatu di teras kontrakannya.
"Kamu itu mulai berubah tau enggak, Ken?" ucap Fay, dari nada bicaranya Fay terdengar sedikit kecewa dengan perubahan sikap kekasihnya.
Kendra meraih handphonenya kembali, kemudian ia mematikan loudspeakernya. "Fay, udah deh kamu tidak usah mikir yang enggak-enggak ya," ujarnya. "Aku betul-betul sedang banyak kerjaan," Kendra terus menyakini Fay, agar kekasih percaya dan berhenti mencurigainya.
Di tengah usahanya meyakini Fay, tiba-tiba saja ia mendengar bunyi suara klakson mobil. Seketika Kendra langsung menoleh ke arah pintu pagar kontrakannya. Alangkah terkejutnya Kendra ketika melihat mobil Mercedes-Benz milik Luna, menepi di depan kontrakannya. "Fay, aku sudah telat. Aku berangkat dulu ya, bye. Love you..." Kendra langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ken... Kendra..."
Tut... Tut... Tut....
Fay kembali menelan kekecewaan karena seolah Kendra menghindarinya.
__ADS_1
Kendra berlari keluar dari pagar rumah kontrakannya sembari menoleh ke arah kediaman bude Jum, ia takut jika bude Jum sedang berada di luar rumah.
"Loe kenapa sih Ken?" tanya Luna, ia berdiri depan mobilnya memperhatikan Kendra tengah celingukan bak maling ayam yang tengah beraksi.
Kendra mendorong Luna masuk ke mobil, "Udah buruan masuk!" ia menutup pintu mobil, kemudian Kendra pun masuk dan duduk di bangku pengemudi. Ia bergegas menyalakan mesin mobil, lalu pergi meninggalkan kontrakannya.
Di tengah perjalanan Kendra memperingatkan Luna agar tidak lagi datang ke kontrakannya. "Pemilik rumah kontrakan gue, budenya cewek gue, kebetulan beliau tinggal di sebelah," ucap Kendra, ia menarik tuas rem tangan ketika berada di depan lampu merah.
Kendra menoleh ke arah Luna yang tengah mengenakan blush on di pipinya. "Lun, loe jangan jemput di depan kontrakan gue lagi ya," pinta Kendra.
Luna menurunkan tangannya yang sedang memegang kuas serta kaca, ke pangkuannya, kemudian menatap Kendra. "Loh memang apa salahnya? Kita kan cuma temenan, Ken!"
Sama halnya dengan Luna, Kendra pun menganggap Luna hanya teman biasa, namun orang-orang diluaran sana pasti beranggapan berbeda jika melihat seorang wanita datang menjemput seorang pria di kontrakannya, terlebih dengan pakaian dan dandanan yang di kenakan oleh Luna yang terbilang cukup sexy dan menggoda tentu akan menimbulkan masalah bagi Kendra. Budenya pasti akan mengira yang bukan-bukan, atau bahkan akan melaporkannya ke Fay.
"Kalau loe enggak mau ribet mending, pindah kontrakan deh." Luna menyimpan alat make upnya di dalam tas kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Kendra. "Misalnya di apartement gue gitu." ia memainkan jarinya di paha Kendra. "Bonus dari Pak Wiliam kan cukup besar, cukup kok untuk kredit 1 unit apartement, dan kita bisa pulang pergi bersama."
Kendra memang sedang mencari sebuah hunian untuk dirinya tinggal bersama Fay setelah mereka menikah, namun ia tak pernah berpikir untuk tinggal berdekatan dengan Luna. "Mengenai hal itu gue harus meminta persetujuan, Fay."
Mendengar nama Fay, Luna langsung menarik tubuhnya menjauh dari Kendra. "Dia bukan istri loe," ucap Luna kesal.
"Gue pasti akan menikahinya, jadi berhak menentukan di mana ia tinggal."
__ADS_1
Ada rasa iri dalam diri Luna, setiap kali Kendra menceritakan tentang Fay. 'Andai Mas Gading, seperhatian itu seperti Kendra'
Kendra menepikan kendaraan Luna di parkiran kantor, ia kemudian menoleh ke arah Luna yang sedari tadi terlihat bengong memikirkan sesuatu. "Sudah sampai turun yuk!" ajaknya sembari membuka sabuk pengamannya.
Baru saja Kendra hendak membalik ke arah pintu untuk keluar, Luna memeluknya dari belakang.
"Lun..."
"Enak ya jadi, Fay. Di perhatiin dan di cintai sepenuh hati, loe bahkan selalu banggain dia," bisik Luna.
Kendra membalik tubuhnya menghadap Luna, ia sadar apa yang selama ini ia ceritakan tentang Fay, membuat Luna tak nyaman karena Luna tak mendapatkan hal tersebut dari suaminya, yang bahkan jarang menghubunginya.
"Maafin gue ya," ucap Kendra, ia mengelus lengan Luna dengan lembut. "Gue enggak akan bahas cewek gue lagi."
Luna mengangguk, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kendra. Kendra di buat tercengang saat Luna mendaratkan bibir sexynya di bibir Kendra, dan Kendra sama sekali tak bergeming, ia membiarkan Luna memagut bibirnya.
Sesaat kemudian Kendra mulai menikmatinya, ia memberanikan diri untuk melakukan apa yang Luna lakukan. Kendra menggerakan bibirnya dan merasakan ujung lidah Luna menyapu bibirnya satu kali, kemudian Luna melakukannya lagi, hingga akhirnya Kendra juga ikut menyapukan lidahnya dan lidah mereka bersentuhan.
Kendra melepaskan bibirnya menarik tubuhnya menjauh. "Maafkan aku, Luna," ucapnya dengan raut wajah bersalah karena dua hal. Yang pertama ia telah mencium istri orang, dan yang kedua ia telah memberikan ciuman pertamanya pada orang lain, padahal ia sudah berjanji pada Fay akan memberikan semuanya setelah mereka menikah.
Luna menggeleng sembari tersenyum. "Tidak apa-apa Ken, gue suka kok."
__ADS_1
Berbeda hal dengan Luna yang mampak bahagia, Kendra justru gugup dan di hantui perasaan bersalah. "Gue duluan ya," ia keluar dari mobil Luna dan bergegas menuju kamar mandi.
Di depan wastafel ia membasuh wajahnya, memikirkan hal yang baru saja terjadi antara dirinya dan Luna. Di tengah rasa bersalahnya, sekelebat ia mendengar bisikan Bela kemarin. 'Enggak apa-apa kali Ken, loe nikmatin aja. Toh cewek loe jauh ini.'