7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 1. Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ


__ADS_3

.


.


.


Berdasarkan sejarah, Nabi Muhammad ﷺ lahir di kota Mekkah pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal atau pada tahun 571 di dalam kalender Romawi.  Rasulullah ﷺ lahir dari ibu bernama Siti Aminah رضي الله عنه dan ayahnya bernama Abdullah رضي الله عنه.


Tahun kelahiran Nabi juga disebut sebagai tahun Gajah yaitu tahun ketika pasukan Gajah di bawah pimpinan Abrahah Habasyah menyerang Ka’bah.


Penduduk Mekkah, melalui pemimpin mereka, Abdul Mutthalib (Kakek Rasulullah)  رضي الله عنه  mendapat kabar bahwa kota tempat berdirinya Ka’bah tersebut hendak diserang oleh Abrahah dan pasukan bergajahnya. Pasukan yang akan menyerbu kota Mekkah saat itu dikenal sangat kuat. Kedatangan mereka tidak lain untuk menghancurkan Ka’bah Baitullah yang senantiasa dimuliakan oleh penduduk Mekkah. Pasukan itu berasal dari negeri Yaman yang berada dalam kekuasaan Abessinia (Sekarang Ethiopia).


Mereka dipimpin oleh seorang panglima besar bernama Abrahah. Abrahah dan para pemimpin Abessinia merasa iri dan dengki terhadap penduduk Mekkah dengan Ka’bahnya karena senantiasa dikunjungi oleh para pelancong dari segala penjuru Arabia, baik untuk berhaji maupun hanya sekedar berziarah.


“Aku tidak habis pikir, mengapa setiap tahun seluruh bangsa Arab datang ke tanah Mekkah?” seru Abrahah kepada para Menterinya.


“Paduka tahu, di sana ada sebuah bangunan bernama Ka’bah. Bangunan tua itu begitu disucikan oleh penduduk Jazirah Arab sehingga mereka tidak dapat berpaling darinya. Ke sanalah mereka pergi beribadah menyembah para dewa sepanjang tahun,” jawab salah seorang Menteri.


“Apa istimewanya bangunan tua yang terbuat dari batu kasar itu? Aku ingin negeri kita, Yaman, mempunyai sebuah rumah suci yang akan membuat bangunan tua di Mekkah itu menjadi tidak berarti lagi dan dilupakan orang!”


“Namun, apa mungkin kita bisa membuat rumah suci baru yang bisa menandingi Ka’bah?"


“Mengapa tidak? Buat sebuah Gereja yang sangat indah! Hiasi dengan perlengkapan paling mewah yang kita miliki!


"Gerbang emas, jendela perak, lantai pualam yang berkilau! Semuanya! Kerahkan seluruh ahli bangunan, aku ingin Gereja itu selesai dalam waktu singkat!”


Tidak lama kemudian, berdirilah sebuah Gereja seindah yang diinginkan Abrahah. Sang Penguasa Yaman itu mengunjunginya dengan rasa puas.


“Lihat, tidak lama lagi, seluruh orang Arab akan datang ke sini!” kata Abrahah kepada bawahannya. “Bahkan orang-orang Mekkah akan melupakan rumah tua mereka begitu melihat bangunan seindah ini!”


Penduduk asli Yaman adalah kaum Saba. Sebelum datangnya Islam, negeri Yaman telah terkenal dengan kemajuan teknologi bangunannya.


Salah satu bangunan yang amat terkenal adalah Bendungan Raksasa Ma’rib. Ketika bangunan ini jebol, banjir besar melanda daerah sekitarnya sehingga para penduduk terpaksa pindah ke negeri lain.


Perasaan dengki inilah yang melatarbelakangi maksud dari tindakan terkutuk tersebut. Abrahah dan para pemimpin Abessinia menginginkan agar tempat ziarah itu berada di Yaman, bukan di Mekkah. Akhirnya mereka membangun gereja megah di Sana'a yang diberi nama Al-Qalis dengan harapan dapat menjadi tempat ibadah haji terbesar di seluruh Arab, menyaingi Mekkah.


Martin Lings dalam Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (2015) menuliskan, hal ini mengundang kemarahan suku yang tersebar di Hijaz dan Najd. Seseorang dari suku Kinanah, yang punya hubungan nasab dengan Quraisy, meruntuhkan gereja itu. Abrahah geram dan bersumpah meratakan Ka'bah.


Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1980) menyebutkan, Abrahah yang sudah menghiasi rumah sucinya sedemikian rupa, berhadapan dengan kenyataan bahwa orang-orang Arab hanya berniat ziarah ke Mekkah. Mereka menganggap ziarah tidak akan sah jika tidak ke Ka'bah.


Abrahah kemudian mengambil keputusan menyerang Mekkah. Dia sendiri tampil paling depan di atas seekor gajah besar. Tetapi, usaha mereka tidak membuahkan hasil karena ‘Magnet’ Ka’bah masih ampuh untuk menarik para pelancong mengunjunginya. Maka api kedengkian pun kian menyulut ubun-ubun mereka dan tak terbendungkan lagi.

__ADS_1


Dengan dipimpin langsung oleh Abrahah, pasukan besar dari Yaman dengan sebagian besar mengendari gajah berbaris untuk menyerbu Kota Mekkah sekaligus menghancurkan Ka’bah. Ketika Abrahah dan pasukannya tiba di daerah Mughammas, dekat Kota Mekkah, mereka pun singgah sejenak untuk beristirahat.


Abrahah mengirimkan seorang utusan kepada Abdul Mutthalib  رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ  pemimpin kota suci yang amat dicintai penduduknya itu, untuk memberitahukan bahwa mereka akan menghancurkan Ka’bah. Mengetahui hal itu, Abdul Mutthalib رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ  dan rakyatnya tidak bisa berbuat banyak karena pasukan Abrahah sangat kuat.


Dengan perasaan sedih bercampur takut, satu persatu penduduk Mekkah meninggalkan tanah kelahirannya menuju bukit-bukit yang mengelilingi kota tua itu untuk bersembunyi. Abdul Mutthalib رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ  sendiri, sebelum pergi ia menyempatkan untuk ‘Pamit’ terlebih dahulu ke Baitullah. Di sana Abdul Mutthalib رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ  berdoa seraya menyerahkan pemeliharaan Baitullah sepenuhnya kepada pemiliknya sendiri yaitu Tuhan yang Maha Perkasa. Doanya itu diuntainya dalam sebuah syair dengan sangat memelas, 


Wahai Tuhanku,


Tidak ada yang kuharapkan selain dari-Mu.


Wahai Tuhanku,


Selamatkan rumah-Mu dari serangan mereka.


Sesungguhnya mereka yang akan merusak bait-Mu,


Adalah musuh-Mu.


Doa Abdul Mutthalib yang tulus dan amat bersungguh-sungguh itu dikabulkan oleh Allah ﷻ . Sebelum tentara Abrahah menjamah Ka’bah, gajah milik Abrahah berhenti.


Sekeras apa pun Abrahah memukulinya, gajah itu tetap duduk tenang. Bahkan berusaha kembali ke arah Yaman. Abrahah geram dan terus memerintahkan pasukannya untuk mencambuk gajah itu agar menurut.


Namun pasukannya kehabisan akal dan kelelahan menghadapi gajah yang menurut mereka terlatih tersebut.


"Paduka! Ada yang datang dari arah laut," seru seorang Pengawal sambil menunjuk-nunjuk panik.


Saat itulah dari arah laut, Allah mengirimkan kawanan burung yang kepakan sayapnya menutupi sinar matahari seperti iringan awan mendung yang bergerak cepat.


Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu menyala ke arah pasukan gajah. Dengan panik setiap orang berusaha melarikan diri, tetapi usaha mereka sia-sia. Semua orang, termasuk Abrahah binasa bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Peristiwa ini diabadikan oleh Al-Qur’an Surat Al-Fil ayat 1-5.


Kurang lebih dua bulan setelah peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh pasukan gajah tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan Abdullah bin Abdul Mutthalib رضي الله عنه dan Aminah binti Wahab  رضي الله عنه.


Kisah ini yang kemudian disebut dengan kisah ashaabul fill.


Surat Al Fil Ayat 1-5 dalam Latin, Arab, dan Artinya


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ


Latin: "A lam tara kaifa fa'ala rabbuka bi`aṣ-ḥābil-fīl"


1. Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?"

__ADS_1


أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ


Latin: "A lam yaj'al kaidahum fī taḍlīl"



Artinya: "Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?"



وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ


Latin: "Wa arsala 'alaihim ṭairan abābīl"



Artinya: "Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong."



تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ


Latin: "Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl"



Artinya: "Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar"



فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ


Latin: "Fa ja'alahum ka'aṣfim ma`kụl"



Artinya: "Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)."



.

__ADS_1


.


.


__ADS_2