
.
.
.
Mengutip buku Khutbah Nabi Terlengkap dan Terpilih oleh Muhammad Khalil Khathib, dikisahkan setelah Rasulullah ﷺ berwukuf di Arafah dan memperlihatkan cara ibadah haji, Beliau ﷺ memanggil seluruh umat muslim dari atas untanya agar mereka berkumpul di sekelilingnya. Seruan Beliau ﷺ diulangi oleh Rabi'ah ibn Umayyah ibn Ghalaf dengan sangat keras.
Dengan tenang, di atas gunung Jabal Rahmah yang tingginya 200 kaki atau sekitar 61 meter, Rasulullah ﷺ duduk di atas punggung unta betina yang bernama al-Qushwa. Di atas punggung unta ini Rasullullah ﷺ menyampaikan pidatonya yang dikenal dengan Khutbah al-Wada'. Dinamakan demikian karena pidato tersebut merupakan pidatonya yang terakhir atau perpisahan.
Saat itu, Beliau ﷺ menyampaikan apa yang diketahuinya pada kurang lebih 140.000 kaum Muslim di Padang Arafah. Khutbah ini disampaikan pada tanggal 9 Zulhijah tahun 10 Kalender Hijriyah atau bertepatan 6 Maret 632 Masehi. Di Uranah, lembah Gunung Arafah.
Dalam sebuah riwayat dari Abdurrahman ibn Mu'adz al-Taimi, ia berkata, "Rasulullah ﷺ menyampaikan pidato kepada kami di Mina, pendengaran kami seakan dibuka sehingga kami mendengarkan apa pun yang Beliau ﷺ katakan, padahal kami masih berada di dalam rumah."
Dalam buku 'Sejarah Hidup Muhammad' karya Muhammad Husain Haekal, dijelaskan bahwa di desa itu telah dipasang sebuah kemah Nabi atas permintaannya. Saat matahari sudah tergelincir, Nabi berangkat lagi ke bilangan Urana.
Di tempat itulah manusia dipanggilnya. Saat berada di atas unta, kemudian nabi menyampaikan khutbah terakhirnya dengan suara lantang yang oleh Husain Haikal disebut sebagai khutbah Arafah. Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah dengan berhenti pada setiap anak kalimat, Rasulullah ﷺ berkata:
“Wahai manusia sekalian! perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.
“Saudara-saudara! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatanmu.
"Barang siapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.
__ADS_1
“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba Abbas bin Abdul-Muttalib semua sudah tidak berlaku.
“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin’l Harith bin ‘Abdul Muttalib!
“Kemudian dari pada itu saudara-saudara. Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walau pun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.
“Saudara-saudara. Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.
“Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban.
“Kemudian dari pada itu, saudara-saudara. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga isterimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai mengganggu.
"Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap istri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.
“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan ditangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya; Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
“Wahai Manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.
"Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.
“Ingatlah bahwa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan di atas apa yang telah kamu kerjakan. Karena itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu keluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
“Wahai manusia tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Karena itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kata yang telah aku sampaikan kepadamu.
__ADS_1
"Sesungguhnya aku tinggalkan kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, itulah Al-Qur’an dan Sunnahku.
“Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapakanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku.
“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”
Sementara Nabi ﷺ mengucapkan itu Rabi'ah mengulanginya kalimat demi kalimat, sambil meminta kepada orang banyak itu menjaganya dengan penuh kesadaran. Nabi ﷺ juga menugaskan dia supaya menanyai mereka misalnya; Rasulullah ﷺ bertanya “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, "Hari Haji Akbar!"
Nabi berkata lagi, “Katakan kepada mereka, bahwa darah dan harta kamu oleh Tuhan disucikan, seperti hari ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian bertemu Tuhan.”
Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu Nabi berkata lagi: “Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?!” Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya!”
Lalu Nabi berkata, “Ya Allah, saksikanlah ini!”
Selesai Nabi ﷺ menyampaikan khutbah terakhirnya itu, Nabi ﷺ turun dari untanya yang bernama al-Qashwa. Nabi ﷺ masih berada di tempat itu sampai pada waktu shalat Dzhuhur dan Ashar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat.
Pada waktu itulah Nabi membacakan firman Allah kepada kaumnya, yaitu surat al-Maidah ayat 3, yang artinya;
“Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan Aku Ridho Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah : 3).
Saat mendengarkan ayat itu, Abu Bakar رضي الله عنه menangis dan dia merasa bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi ﷺ hendak menghadap Allah ﷻ.
.
__ADS_1
.
.