7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 1.5


__ADS_3

.


.


.


Dalam kitab Rawi atau sejarah Nabi Syarafal Anam, terdapat sepenggal syair yang berbunyi, "Bertalu-talu ditabuh genderang kegembiraan." Maksudnya kegembiraan semesta menyambut kelahiran Nabi.


Bahkan kegembiraan itu dilukiskan dengan sangat indah dalam  Alquran,


..."Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (Dia) sangat menginginkan (Keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman."...


...(QS  al-Taubah/9: 128)....


Ketika Nabi Muhammad ﷺ lahir, Sayyidah Aminah رضي الله عنه pun segera mengutus seseorang untuk mengabarkan tentang kelahiran putranya kepada Abdul Mutthalib رضي الله عنه.


Abdul Mutthalib رضي الله عنه merasa sangat bahagia pada saat mendengar kabar kelahiran cucu laki-laki tersayangnya. Bahkan, Abdul Mutthalib رضي الله عنه langsung mengangkat cucunya dan membawa ke Ka'bah.


Hal ini dilakukannya untuk berdoa sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah  ﷻ atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.


Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati Abdul Mutthalib رضي الله عنه, sehingga ketika Rasulullah ﷺ, Abdul Mutthalib رضي الله عنه memberinya nama 'Muhammad'.


Ketika orang-orang Mekkah bertanya mengapa ia dinamai 'Muhammad', dan bukan nama para leluhur-leluhurnya. Lantas Abdul Mutthalib رضي الله عنه menjawab, “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat."


Bayi laki-laki tersebut yaitu Nabi Muhammad ﷺ yang kelak akan menjadi Khatamun Nabiyyin atau nabi penutup zaman yang telah ditentukan oleh Allah  ﷻ .


Para Rahib pun ikut menantikan kelahiran manusia agung ini dengan melihat bintang-bintang di langit dan bertanya ke setiap orang Arab yang datang ke Syam. Berita akan lahirnya Nabi terakhir itu sudah dikabarkan Allah dalam kitab Taurat dan Injil.


Rahib merupakan sebutan bagi pemimpin agama, kata Rahib dari bahasa arab asli di ambil dari Rahab artinya takut, yaitu orang yang takut kepada Allah  ﷻ dan khawatir terjerumus dalam dosa atau hawa nafsu, meninggalkan duniawi demi mencari Ridha Allah  ﷻ semata.


(Insyaa Allah di bab selanjutnya akan Author tuliskan tentang pertemuan antara seorang Rahib dengan Nabi Muhammad ﷺ ketika Beliau ﷺ masih Remaja.)


Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ disambut gembira oleh berbagai kalangan, termasuk pamannya sendiri yakni Abu Lahab. Siapa sangka dakwah Rasulullah ﷺ akan Islam kelak paling ditentang oleh pamannya tersebut.


Saking gembiranya Abu Lahab dalam menyambut kelahiran keponakannya itu, dia memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah di hari kelahiran Nabi ﷺ. Atas tindakannya ini meski status Abu Lahab adalah seorang kafir, dia mendapat keringanan siksa kubur tiap hari senin.

__ADS_1


Dalam Kitab Shahih Bukhari juz VI halaman 125, cetakan Daar Al Fikr tahun 1401 H – 1981 M / juz I halaman 591, Maktabah Syamilah:


قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ


Imam ‘Urwah berkata : “Tsuwaibah adalah hamba sahaya Abu Lahab. Dia memerdekakan Tsuwaibah, kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi ﷺ . Ketika Abu Lahab meninggal, salah satu keluarganya bermimpi melihatnya dalam keadaan yang buruk. Sebagian keluarganya tersebut bertanya, 'Apa yang engkau temui?'. Ia menjawab, 'Setelah meninggalkan kamu, aku tidak menemui kebaikan kecuali aku diberi minuman di dalam ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah.'"


Namun sebagaimana diterangkan dalam berbagai literatur, dakwah Nabi Muhammad ﷺ ditentang oleh Abu Lahab secara terang-terangan. Bahkan Abu Lahab pernah berencana membunuh Nabi ﷺ lantaran tak terima dengan ajaran Islam yang dibawanya.


Kekejian yang dilakukan oleh Abu Lahab bahkan diabdikan dalam al-Qur'an surat Al-Lahab ayat 1-5 yang berbunyi:



Bismillahirrahmannirrahim


Tabbat yada-abi lahabi-watab.(1)


Ma aghna anhu maa luhu wa maa kasab. (2)


Sayashlanaran dzata lahab. (3)


Fi jiidiha hablu-minmasad,(5)


Yang artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa Dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang Dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka (yang bergejolak). Dan begitu pula Istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal."


Al-Biqa'i pernah menghubungkan surat ini dengan kandungan surat an-Nashr (Pertolongan)



Yang menegaskan kepastian datangnya kemenangan serta berbondong-bondongnya masyarakat memeluk Islam. Sedangkan Abu Lahab adalah sosok yang paling dikenal menentang ajaran Islam yang dibawa Nabi.


Oleh karenanya timbul pertanyaan dengan kondisi tersebut, apakah Abu Lahab akan menerima atau terus melanjutkan penolakan terhadap dakwah Nabi. Surat al-Lahab ini Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab dalam kitab tafsir al-Mishbah merupakan jawaban atas pertanyaan sikap Abu Lahab.


Menurutnya, ayat-ayat dalam surat Al-Lahab merupakan vonis atas tindakan pembangkangan kepada ajaran yang dibawa Rasul. Vonis tersebut yakni totalitas Abu Lahab yang binasa. Harta benda, anak, kerabat, teman, kedudukan sosial, hingga lainnya yang dimiliki ikut binasa.


Nama Abu Lahab sendiri aslinya adalah Abdul Uzza. Dia diberi gelar Abu Lahab yang berarti kobaran api. Hal itu merupakan gelar yang diberikan sejak zaman Jahiliah atas kegagahan dan kobaran api dan kecemerlangan wajahnya.

__ADS_1


Menurut Thahir Ibnu 'Asyur, al-Qur'an menggunakan gelar tersebut disematkan karena nama Uzza merupakan nama salah satu berhala yang disembah kaum musyrikin. Ulama lainnya juga berpendapat bahwa gelar Abu Lahab diberikan untuk mengisyaratkan bahwa kelak yang bersangkutan akan terbakar di neraka jahanam dengan kobaran api yang besar.


Dalam kehidupannya, Abu Lahab kerap melakukan hal-hal keji kepada Nabi. Misalnya, pada fajar mulai terbit Abu Lahab meletakkan kotoran manusia di pintu rumah Rasulullah ﷺ. Harapannya Nabi Muhammad ﷺ akan mengurungkan niat dan kembali menutup pintunya untuk tidak melakukan dakwah Islam ke luar.


Tak hanya dirinya sendiri, Abu Lahab juga kerap memprovokasi umat dan melibatkan anggota keluarganya untuk membenci Nabi ﷺ.


Dari empat anak yang dimilikinya bernama Durrah, Muattab, Utbah, dan Utaibah, satu dari empat anak itu tetap kafir hingga akhir hayatnya. Dua anaknya menikahi putri Rasul yakni Utbah menikahi Ruqayyah dan Utaibah menikahi Ummu Kaltsum.


Adalah Utaibah yang menyakiti Nabi ﷺ atas provokasi ayahnya. Utaibah diketahui menikahi putri Nabi, Ummu Kaltsum, dan menalaknya di depan Rasulullah ﷺ sambil meludahi muka Rasulullah ﷺ .(Kisah selengkapnya: Suatu hari Utbah menemui Rasulullah ﷺ, kemudian mengganggu Beliau ﷺ dan meludah ke wajah Beliau ﷺ. Untungnya ludah itu tidak mengenai sasaran. Saat itu Beliau ﷺ berdoa "Ya Allah, buatlah dia dilahap seekor anjing dari ciptaan-Mu." Doa Beliau ﷺ benar-benar dikabulkan, suatu hari Utbah pergi ke Syam bersama rombongan Quraisy. Suatu malam ketika mereka sedang singgah di suatu tempat di Syam, tepatnya di Az-Zakra. Tiba-tiba ada seekor singa yang mengelilingi mereka. Saat itu Utbah berkata, "Sungguhcelaka saudaraku. Demi Allah! Singa itu akan mencaplokku seperti doa yang dibaca Muhhammad atas diriku. Singa itu akan membunuhku selagi Muhammad ada di Mekkah dan aku di Syam." singa itu menyibak kerumunan orang lalu menerkam kepala Utbah hingga meninggal.) Sedari awal pernikahannya dengan Ummu Kaltsum, Abu Lahab dan anaknya sengaja meniatkan untuk menghancurkan hati Nabi Muhammad ﷺ.


Dalam berbagai literatur, peristiwa ini dimotori provokasi Abu Lahab kepada anaknya berbunyi: "Kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak menceraikan putri Muhammad."


Dari celakanya perbuatan dan tindakan Abu Lahab kepada Nabi ﷺ ini, Allah masih bermurah hati kepadanya. Salah satu kemurahan hati yang diberikan adalah dengan meringankan siksa kubur Abu Lahab tiap hari Senin, hari kelahiran Nabi ﷺ.


Sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ menjadikan Rasulullah ﷺ panutan dalam aktivitas hidup adalah keharusan bagi setiap Muslim.


Lahirnya insan terbaik ke muka bumi ini perlu kita peringati dengan hal yang positif. Jadikan setiap tindakan orang-orang yang memusuhi Rasulullah ﷺ sebagai sebuah pelajaran, semoga tak ada sedikit pun yang kita tiru dari tindakan Abu Lahab.


Berbicara tentang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, akan lebih lengkap jika kita ulas juga kesucian nasabnya yang terpelihara sejak zaman Nabi Adam AS. Dikisahkan, begitu Allah  ﷻ menciptakan Siti Hawa untuk menjadi pendamping Nabi Adam AS, keduanya pun menjalin hubungan hingga memiliki beberapa keturunan.


Berkaitan dengan Nur Muhammad, Nabi Adam AS. sudah berwasiat kepada anaknya agar tidak sembarangan memberikan Nur tersebut kecuali pada wanita suci. Hingga kemudian Nur itu berpindah kepada Nabi Syit AS., salah satu putra Adam AS. Syit AS. pun berwasiat kepada putranya agar Nur tidak diberikan kepada wanita sembarangan. Wasiat ini terus terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga Nur tersebut sampai ke Abdul Mutthalib رضي الله عنههُ  dan turun ke anaknya, Abdullah رضي الله عنههُ . Selama itu pula, Allah  ﷻ menjaga nasab Nabi Muhammad ﷺ agar tetap suci, sehingga tidak ada satu pun nenek moyang Nabi ﷺ yang melakukan hubungan di luar pernikahan yang sah.


Banyak sekali hadits-hadits yang menegaskan terjaganya nasab Nabi Muhammad ﷺ sejak Nabi Adam AS. Salah satunya adalah sabda Nabi berikut:


خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى أَنْ


وَلَدَنِي أَبِي وَأُمِّي, لَمْ يُصِبْنِي مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ شَيْءٌ


Artinya: “Aku lahir dari nikah dan aku tidak dilahirkan dari luar nikah sejak dari Adam hingga sampai aku dilahirkan oleh kedua orang tuaku, dan aku tidak menyentuh dari pernikahan orang-orang jahiliyah pada apa pun.” (HR ath-Thabrani)



Adapun diagram nasab Nabi Muhammad ﷺ dari Nabi Adam AS.


__ADS_1


__ADS_2